Dua Hari Sebelum Haul, Jantiko Mantab Datang

Gs Tsabut bersama Kiai Zainuddin dan Kiai Fathul Bari

Jantiko Mantab Datangi An-Nur II

Mulai setelah subuh dari arah Raudah (sebutan makam Pengasuh Pertama) terdengar tawasul dari majelis Jantiko Mantab. Mereka datang ke Pondok Pesantren An-Nur II, mempersembahkan simak Al-Qur’an dan Zikrul Ghofilin. Pada hari Kamis, (22/12/2022) bertempatkan di makam Pengasuh Pertama, Al-Maghfurlah KH. Badruddin Anwar.

Jantiko Mantab sendiri sudah datang setelah subuh dan mereka langsung memulai kegiatan mereka. Majelis mereka adalah simak Al-Qur’an mulai dari juz awal sampai Surah An-Nas. Secara bergilir mereka membaca dengan memakai pengeras suara.

Setiap haul KH. Badruddin, Jantiko Mantab selalu datang sebelum puncak acaranya. Seperti sekarang, Jantiko Mantab datang dua hari sebelum puncak acara haul terlaksana. Hari ini, mulai dari pagi hingga sekitar jam sepuluh majelis ini terus mewarnai area metro (area sekitar masjid) An-Nur II.

Serba-Serbi Jantiko Mantab di An-Nur II

Kegiatan yang majelis ini laksanakan, pertama-tama ialah simak Al-Qur’an. Kegiatan ini terus berlanjut dan terhenti dengan kegiatan salat lima waktu. Simak Al-Qur’an berlangsung hingga sekitar jam empat sore. Namun kegiatan ini menyisakan satu juz, yaitu juz amma untuk setelah isya.

Kegiatan kedua, yakni Zikrul Ghofilin bersama Gus Ferry. Kegiatan ini berlokasi di Masjid An-Nur II setelah salat maghrib. Hanya santri daerah metro saja yang mengikuti kegiatan ini beserta jemaah Jantiko Mantab. “Rasanya Capek,” ucap Abdil, santri jenjang kelas tiga SMA. Akan tetapi, ia sendiri merasakan kenyamanan ketika mengikuti kegiatan ini. “Beneran ini,” tekannya.

Kegiatan ketiga sebagai pucuk acara hari ini. Kegiatan ini mulai setelah salat isya berjamaah. Pada tahap ini, seluruh santri An-Nur II datang ke area metro. Seluruh santri mengikuti kegiatan ini. Terbentanglah karpet mulai dari depan masjid hingga ke makam.

Kegiatan ketiga ini isinya ialah melanjutkan khataman Al-Qur’an yang kurang satu juz itu. Lalu ada sambutan-sambutan. Juga mauizah hasanah dari Gus Tsabut. Akhirnya adalah doa penutup dan doa khatam Al-Qur’an.

Melanjutkan khataman Al-Qur’an itu tetap dari Majelis Jantiko Mantab. Sedangkan, santri-santri mulai berdatangan dan mencari tempat. Pasalnya, selepas maghrib turunlah hujan. Biar karpet tetap kering, terpaksa panitia mengambil karpetnya. Kemudian saat hujannya berhenti hanya beberapa karpet saja yang tergelar.

Selesainya juz amma, acara merangkak menuju sambutan. Kali ini, Kiai Zainuddin, sebagai perwakilan An-Nur II yang kebagian mandat ini. Beliau mengucapkan terima kasih kepada Majelis Jantiko Mantab karena telah bersedia datang. Beliau juga berharap, “Semoga Kita semua mendapat berkah Al-Qur’an.”

Kiai Zainuddin rampung dari sambutannya, acara beralih pihak ke mauizah hasanah dari Gus Sabuth. Beliau menyampaikan dua hal kepada para jemaah.

Kehebatan Ibu dan Kiai Bad

Tanggal main Jantiko Mantab kali ini bertepatan dengan Hari Ibu. Berkenaan dengan hal ini, Gus Tsabut menyinggung sosok ibu. Menurut beliau, manusia normal dan berakal sehat pasti merasa memiliki utang budi kepada ibu. Ibu, orang yang berjuang demi lahirnya anaknya dan kebahagiaan miliknya.

Bahkan semenjak zaman Rasul-kata beliau-izin ibu menjadi sebuah syarat. Yaitu, seorang boleh untuk mengikuti perang di jalan Allah dengan satu syarat, rida seorang ibu. Serta melihat Uwais Al-Qarani juga, orang yang memiliki derajat mulia karena berbakti kepada ibunya.

Selanjutnya, beliau menyampaikan keluarbiasaan Kiai Bad. Satu, Kiai Bad adalah orang yang istikamah mendatangkan pengajian Jantiko Mantab. Meski beliau-kata Gus Tsabut-berada di tengah-tengah kesibukan mengurus pondok dan santri-santrinya, masih istikamah mendatangkan Jantiko Mantab. “Luar biasa niku,” (luar biasa itu) tegas beliau.

Dua, jasa beliau mencetak generasi salih, santri. Menurut Gus Tsabut, semisal ulama seperti Kiai Bad, dalam artian tidak mau mendirikan pondok, sudah pasti orangtua kesulitan mengurusi anaknya. Jadi, memondokkan anak itu sendiri sudah bisa mengurangi beban orangtua. Sehingga, wali-wali santri itu mempunyai utang budi kepada Kiai Bad.

Ketiga, Kiai Bad adalah guru yang terpercaya. Gus Tsabut mengatakan, jika santri-santri harus berbahagia, karena guru besarnya merupakan orang yang amanah. Beliau menambahkan, jika guru-guru dari kiai Bad ini juga orang yang amanah.

“Acaranya cukup menyenangkan.” Ucap Andika. Namun yang paling ia suka ialah saat pambacaan Zikrul Ghofilin. Sebab, katanya, ia bisa merenungkan dirinya sendiri dan dosa-dosanya. Akan tetapi, akunya, yang terpenting adalah bisa mengambil berkah dari Kiai Bad.

0341-833235 (kantor pondok)

+62 852-3644-6126 (humas pondok)

+62 813-3476-9069 (humas pondok khusus untuk kunjungan)

No. Rek. BNI a/n An Nur 2: 4321-1979-02

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

One Comment

  1. saya juga merasakan dari acara nya sangat tenang dan semoga allah memberikan hidayah kepada kita semua

Your email address will not be published.

One Comment

  1. saya juga merasakan dari acara nya sangat tenang dan semoga allah memberikan hidayah kepada kita semua

Your email address will not be published.

TERBARU