Diskusi Spesial Dengan Pakar Ilmu Hadist Hadramaut Menjelang Hari Santri

Diskusi Spesial Dengan Pakar Ilmu Hadist Hadramaut Menjelang Hari Santri

Dr. Alwi bin Hamid bin Muhammad Syihabuddin, ulama tersohor Hardramaut, Tarim, hadir sebagai pemateri pada kajian Mahasantri Ma’had Aly An-Nur II dan disambut hangat keluarga besar Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Pakar disiplin ilmu hadist dan sejarah ini adalah seorang sosok yang dididik di tanah Yordania hingga meraih gelar doktor.

Satu kisah menarik sebetulnya, bahwa “setiap ba’da subuh tidak terlewatkan membaca setidaknya 200 kitab. Dan itu menjadi aktifitas rutin beliau selama satu tahun berada di sana,” demikian yang disampaikan Gus Muhammad Anwar saat membuka prakata diskusi ilmiyah siang itu, (17/10).

Dengan khas beliau yang santai dan tidak terburu-buru, diskusi terkait kitab Syamail Ar-Rasul mengalir begitu nyaman. Kitab berisi penjelasan sifat-sifat nabi itu selain disampaikan dengan begitu lugas, juga narasi sengaja ditulis dengan pola tanya jawab. “Sebab mayoritas orang bisa menangkap langsung maksudnya. Titik fokusnya jelas,” dalih beliau. Mudah saja, dengan bertanya ‘apakah rambut rasul pendek atau panjang’ berarti telah menggiring pembaca untuk berpikir tentang rambut dan bukan anggota lain. Lebih menitik lagi kepada sifat panjang atau pendek.

Mantan Tentara Menulis 47 Kitab

Kitab Syamail Ar-Rasul merupakan sekuel terakhir dari tujuh kitab antologi Silsilatun A’rifu Nabiyyak. Dengan halaman yang tidak begitu tebal yakni sekitar 100 tanya jawab, kitab itu selesai dibaca selama kurang lebih dua jam. Doktor sekaligus mantan pasukan tentara Yaman itu memiliki hobi menulis sejak masa belajarnya di Yordania. Lewat pengetahuan dari ratusan buku yang setiap hari beliau baca, terhitung hingga tahun ini telah mencapai jumlah koleksi pribadi 47 kitab. Hampir seluruh dari karya beliau bertutur tentang nabi Muhammad SAW. Mulai kisah kehidupan nabi hingga wafat, tentang istri-istri nabi dan putra-putri beliau. Atau tentang doa-doa yang senantiasa dibaca nabi setiap hendak beraktifitas. “Dan semua karangan saya tulis berdasar pada sumbe kitab hadist yang tak satupun terindikasi sebagai hadist ahaad (lemah),” imbuhnya saat bercerita seputar kegemaranya dengan literasi.

“Ketika menulis, sambungnya, saya berusaha ikut hanyut dalam setiap alurnya. Pernah ketika menulis kitab tentang masa sakitnya nabi, saya merasa amat sedih; terharu. Hingga kemudian saya hanya bisa diam ketika melihat nabi hadir di hadapan saya. Lantas, saya membacakan satu kasidah spesial untuknya.”

Ikon Ahlussunnah Menghampiri Albani

Dr. Alwi bin Hamid selain aktif sebagai pengajar di Univesitas Hadamaut, beliau juga sering mengisi kuliah di berbagai negara utamanya Indonesia. Seperti Kalimantan dan kali ini di Jawa Timur. Di tanah kelahirannya beliau dikenal sebagai ulama yang lekat dengan faham Ahlussunnah.

Tampilannya yang begitu sederhana, tutur bicara yang lugas dan santai, serta moderat dalam menghadapi berbagai persoalan. Beliau juga sering diundang mengisi kajian Ahlussunnah pada beberapa universitas di Yaman. Sementara beliau sangat bertolak dengan faham kiri yang dianggapnya telah semena-mena dalam beberapa pesoalan.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, tokoh terpandang wahabi Yodania, pernah diajaknya diskusi dua mata namun Albani menolak. Peristiwa ini terjadi ketika beliau, Dr. Alwi, hendak shalat Jum’at di Jami’ Salahuddin, Yordania. Setelah mendengar pesan yang disampaikan khatib tidak sesuai dengan ranah ilmiyah, beliau kemudian meminta sedikit waktu untuk berbicara.

Dengan lugas beliau meralat keterangan khatib dan dilihatnya Albani sedang menyimaknya. Lantas dimintanya agar siapapun yang tidak setuju bisa langsung menyanggah dengan bukti yang sama ilmiyah. Beberapa pembesar wahabi diam tak merespon. Dan Albani terlebih dahulu menyingkir. “Niat saya hanya ingin mengajaknya diskusi. Tapi tidak tahu kenapa dia malah lari,” kisahnya.

Memuliakan Nabi Serta Keluarga itu Harus Totalitas

Demikian nasihat yang disampaikan K. Ahmad Zainuddin mengawali sambutan pada seminar kedua dengan Dr. Alwi seusai berjamaah isya. “Kalau tidak sependapat ya sebaiknya jangan ikut. Cari yang lain. Jangan malah dicaci. Bagaimanapun mereka adalah keluarga nabi,” tuturnya. Dr. Alwi selaras berkata “Karena ada sebagian orang membenci ahlu bait (keturunan rasul dari silsilah Fatimah dan Ali Ra). Kalian jangan tiru yang demikian.” Begitu pesannya. Dalam orasinya malam itu, beliau banyak memberi pertanyaan kepada santri tentang keluarga nabi. Seperti menanyakan nama putra terakhir nabi, putri pertama nabi bahkan juga nama-nama para tabiin. Beliau berusaha mengetahui taraf pengetahuan para santri akan ilmu sejarah lewat beberapa soal yang dilontarkan.

Sementara itu beliau juga menganjurkan agar sedikitnya membaca 300 kali shalawat setiap hari. “Minimal shalawat adalah 300 kali,” kata beliau. “Yang ingin sekali masuk surga harus perhatian dengan rasul SAW,” imbuhnya. Selain itu, juga lazim menjaga shalat fardhu, senantiasa berbuat baik terhadap orang tua dan tidak bermaksiat. Di ujung acara beliau memeberi ijazah dua kitab; Dua’u Ar-Rasul (kitab tentang doa-doa nabi) dan Syamailu Ar-Rasul (sifat-sifat nabi) kepada para santri, berharap bisa dikaji lebih dalam khususnya di Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo.

(Elham/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: