Di Balik Perintah Berbakti Kepada Orang Tua

PASAR WAQIAH

Orang tua. Delapan huruf dalam dua kata. Kata-kata yang membuat kita rindu ketika mendengarnya. Itu bukanlah sebuah mantra sihir yang mengikat kita dengan mereka. Tapi, memang ikatan ini terlalu rumit untuk dijelaskan dengan jawaban pertanyaan ‘apa’ atau ‘siapa’.

Jasa Penting Orang Tua

Orang tua merupakan figur terpenting dalam hidup kita. Tanpa mereka, kita pasti tidak akan pernah terlahir di dunia ini. Tanpa mereka, niscaya kita tidak akan bisa menjalani hidup ini layaknya orang normal. Tanpa mereka, tidak akan ada yang mengajari kita sesuatu. Tanpa mereka, tidak akan ada yang merawat kita.

Begitu pentingnya keberadaan mereka bagi hidup kita. Segala hal yang mereka miliki, mereka berikan kepada kita. Dan untuk semua pengorbanan itu mereka tak meminta imbalan apapun. Sebagai gantinya, Islam mewajibkan kita untuk berbakti kepada mereka.

عبد الله بن مَسْعُودٍ قال سَاَ لْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ايُّ الْعَمَلِ اَحَبُّ الى الله قال: الصَّلَاةُ على وَقْتِهَا قال: ثم اي قال:ثُمَّ بِرُّ الْوَالْدَيْنِ قال: ثم اي قال: الجِهَادُ فى سَبِيْلِ الله

Dari Abdullah bin Mas’ud Ra. ia berkata: “Saya bertanya kepada Nabi saw: amal apakah yang paling disukai oleh Allah Ta’ala?” Beliau menjawab, “Salat pada waktunya.” saya bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada kedua orang tua.” saya bertanya lagi: “Kemudian apa?” beliau menjawab, “Berjihad (berjuang) di jalan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Alasan lain kita harus berbakti kepada orang tua adalah karena mereka telah melahirkan kita ke dunia ini. Kedua, karena kasih sayang mereka kepada kita sehingga kita harus membalas jasa-jasa mereka. Ketiga, karena mereka lebih tua dari kita. Keempat, dan ini yang paling kuat, karena Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada mereka. Allah berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 36:

وَاعْبُدُوْا اللهَ وَلَا تَشْرِكُوْا بِهِ شَيْءً وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua kalian.”

Cara Berbakti

Cara-cara berbakti kepada orang tua itu banyak sekali. Antara lain memberikan segala sesuatu yang diminta oleh orang tua, Menaati perintahnya, kecuali jika perintah untuk maksiat. Ketika orang tua sudah meninggal, kirimkanlah doa dan muliakanlah kerabat dan teman-temannya.

Jika harus memilih, mana yang lebih mulia? Apakah ibu atau ayah? Maka jawabannya adalah ibu. Alasannya sudah pasti karena ibulah yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Interaksi anak dengan ibu juga lebih sering daripada ayah. Lalu, alasan lainnya karena sabda Nabi:

عَنْ اَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ اَحَقًّ النّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال: اُمُّك قال: ثُمَّ مَنْ؟ قال: ثُمَّ اُمُّك قال: ثم من؟ قال :ثم امُّك قال: ثم من؟ قال : ثم اَبُوْكَ

Artinya: Dari Abu Hurairah Ra. ia berkata: Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab, “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab, “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab, “Ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: kemudian siapa? Rasulullah menjawab, “Bapakmu!” (H.R. Bukhari).

Manfaat Berbakti

Dibalik perintah pasti ada hikmah. Salah satunya dengan ada manfaat yang bisa kita rasakan. Salah satunya di balik perintah berbakti ini. Salah satunya yaitu memperlancar rezeki. Ketika rezeki kita susah mungkin saja kita kurang berbakti kepada kedua orang tua kita. Sedangkan menurut Imam Ahmad, manfaat berbakti kepada orang tua, bisa melebur dosa-dosa kecil.

Walaupun kita sudah banyak berbakti kepada kedua orang tua, kita tak bisa membalas semua jasa-jasa mereka. Sebesar apapun bakti kita kepada takkan bisa membalasnya. Ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, beliau bersabda,

لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدًا إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (H.R. Muslim: 1510)

Oleh karena itu, mari kita kembali bersimpuh kepada orang tua kita. Ingatlah, tanpa mereka kita takkan menjadi apa-apa. Karena pengorbanan merekalah, kita dapat menjadi seperti sekarang.

(Nabil/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: