Dengungan dan Tahlil 40 Hari Pertanda Kepergian Sang Purnama

annur2.net – Menuju HAUL ke-9 Almagfurlah R. KH. M. Badruddin Anwar, 12 Oktober 2025 di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” terdapat rutinan setiap tahunnya, yang telah ada sejak 40 hari sebelum kewafatan beliau 28 Februari 2017.

Januari 2017, Dr. KH. Fathul Bari S.S., M.Ag., akan melaksanakan kegiatan ziarah rasul. Di sana KH. M. Badruddin Anwar berhalangan ikut, “Pada waktu berpamit, beliau mengatakan ‘aku gak iso melok sikilku loro, nanti aja kalau ada keberangkatan lagi.’ Ada keberangkatan lagi itu dijadwalkan bulan April dan beliau berniat untuk berangkat April 2017.” Tutur Dr. KH.Fathul S.S., M.Ag., saat wawancara pada 16 Oktober 2025.

Pada saat itu sebelum adanya utusan tahlil 40 hari, terdapat pelaksanaan pemberangkatan ziarah rasul kurang lebih tanggal 20 Januari 2017. Beliau KH. Badruddin Anwar berhalangan ikut, dengan alasan kaki beliau sedang sakit dan berniat berangkat di bulan April.

Sedangkan tahlil yang diutus oleh KH. Badruddin Anwar itu dimulai esok hari usai para jamaah ziarah rasul telah berangkat. Kiai Fathul Bari sendiri tidak tahu bahwa di pondok tengah melaksanakan tahlil. 

Dengungan Mulai Terdengar Saat di Makkah

Hingga para jemaah ziarah rasul telah sampai di Makkah, Kiai Fathul Bari merasakan suara getaran yang halus atau siulan terdengar seperti nging. Lumrahnya hal itu terjadi akibat terkena suara pesawat atau semacamnya. Akan tetapi gangguan tersebut itu tak kunjung berhenti. Kiai Fathul Bari menceritakan hal tersebut kepada jemaah. Salah satu jemaah menyarankan untuk memberikan air zamzam ke telinga beliau, akan tetapi setelah dicoba tetap saja tidak hilang.

Dari Makkah menuju Madinah, beliau terus mencari cara dengan menuju ke apotek untuk membeli obat telinga tapi tetap saja. Lalu menuju ke rumah sakit di sana dan diberi obat tetes di hidung, tapi tetap tidak sembuh. Suara orang-orang yang mengajak berbicara terdengar samar-samar dari telinga beliau akibat gangguan suara tersebut.

Kembalinya ke Pesantren dengan Dengungan yang Tak Mereda

Sampai kembali ke pesantren, Kiai Fathul Bari mengeluhkan gangguan yang dialaminya kepada seseorang yang menyambutnya di sana. Lalu orang tersebut teringat dulu terdapat orang yang pernah mengalami kejadian serupa. Orang itu pergi ke Pak Jumari, diobati yang entah diberi apa telinganya dan setelah itu sembuh.

“Akhirnya dapat satu hari datang, ada orang dateng untuk menyambut umrah itu, terus saya cerita saya gak pati kerungu, gak pati denger saya itukan suaranya orang ngomong. ‘Oh, anu aja! Coba ke Pak Jumari, ada yang kemarin itu ada kenalan saya juga umrah, habis umrah itu anu ya seperti samean ini, terus ke Pak Jumari itu waras, mboh diurek-urek kupinge mboh yokopo terus waras’.” 

Setelah ada orang yang menceritakan hal itu, sore harinya beliau langsung menuju ke kediaman Pak Jumari.  Di sana beliau langsung diperiksa. Setelah itu Pak Jumari mengatakan bahwa masalah ini serius dan berbeda dari cerita penyakit yang dialami orang sebelumnya. Oleh karena itu, Pak Jumari menyarankan  untuk pergi ke rumah sakit Saiful Anwar yang ada di Klojen, Malang.

“Keesokan paginya saya langsung datang ke Saiful Anwar, begitu datang ke Saiful Anwar, kemudian diperiksa sama dokter, sama dokternya langsung disuruh operasi, ‘ini bukan gangguan biasa, ini ada sesuatu yang harus dioperasi di dalam telinga.’ Kemudian ditawari kapan operasinya Pak Dokter, ‘secepatnya ini, kalau siap sekarang ya sekarang kita siapkan!’” Tutur Kiai Fathul.

Beliau melanjutkan menangani gangguan tersebut. Beliau datang ke rumah sakit Saiful Anwar seperti ujaran Pak Jumari, lalu diperiksa oleh dokter.  Setelah diperiksa dengan kamera dan muncul di layar TV yang menampilkan isi telinga, bahwasannya ini bukan gangguan biasa. Gangguan tersebut yakni adalah akibat dari benjolan yang harus dioperasi untuk sembuh. 

Langsung saja, tanpa basa-basi beliau langsung siap dan dihantarkan menuju ke ruang operasi dan siapkan berbagai alatnya. Masuk ruang operasi beliau ganti pakaian dengan baju operasi dan diperlihatkan ruang operasi yang memiliki lampu yang besar diatas. Juga terdapat layar yang menampilkan proses operasi dengan berbagai alat bedah dimasukkan ke dalam telinga beliau. Setelah operasi, dokter mengatakan bahwa beliau tidak memerlukan rawat inap, hanya saja setelah seminggu untuk kembali melakukan pemeriksaan.

Kembali setelah operasi, setiap sorenya dilaksanakan pembacaan tahlil. “Tamu-tamu datang itu mesti tanya ‘itu ada tahlil, tahlil apa?’, saya jawab saya ndak tahu, mboh tahlil opo iku.” Tutur Kiai Fathul. Setiap tamu datang kepada beliau saat itu menanyakan perihal tahlil. Kiai Fathul sendiri tidak tahu-menahu karena beliau sendiri baru datang setelah ziarah rasul. 

Hari-hari itu beliau ditanya dan tidak tahu, hingga dapat cerita bahwasannya tahlil tersebut diutus oleh Kiai Badruddin Anwar. Jadi setiap ada orang yang bertanya kepada beliau, beliau menjawab “Tahlil disuruh yai, untuk apa ya ndak tahu, kalau disuruh tahlil ya tahlil.” Kiai Fathul menegaskan kepada tamu dengan jawaban seadanya saat itu karena tidak tahu tujuan pastinya.

Gangguan yang tak Kunjung Hilang, Walau Berkurang

 Setelah satu minggu pasca operasi ini beliau melakukan pengecekan untuk melihat perkembangannya. Beliau merasakan perbedaan selama ini. Bukan berarti suara itu hilang, melainkan suara tersebut menjadi lebih samar atau menurun dan tidak terlalu berisik di telinga. 

Belum sempat bicara dokter mengatakan bahwa telinga beliau sudah sembuh tanpa konfirmasi dengan kepastian yang dialami oleh beliau sendiri. Jadi gangguan tersebut masih belum hilang sepenuhnya hanya lebih samar-samar terdengar tapi tetap mengganggu.

Lalu beliau berikhtiar bahwasanya ini bukan gangguan biasa, melainkan terdapat faktor non medis. Beliau sudah berusaha untuk mengobati ternyata ada maksud lain dari hal ini. 

Kecurigaan Kiai Fathul Bari pada Tahlil 40 Hari

Selama tahlil dilaksanakan masih belum ada kecurigaan mengenai hal ini. Sampai pada sebelum hari ke-40, Kiai Fathul mulai curiga bahwa hal ini merupakan bentuk pamitan dari beliau. Apalagi pada hari itu Kiai Badruddin sempat kontrol karena sakit perut yang tak sembuh-sembuh pada pagi hari. Lalu check up dan melakukan rawat inap di rumah sakit Panti Nirmala Kota Lama, Malang. 

Pada saat itu, Kiai Fathul sedang menghadiri akad nikah dan tidak tahu bahwa beliau sedang melakukan check up di rumah sakit. Hingga mendapat kabar beliau melakukan rawat inap, langsung Kiai Fathul Bari tergesa-gesa ke rumah sakit tersebut dengan perasaan bahwa hal ini ada kaitannya dengan pelaksanaan tahlil tersebut. 

“Loh, mene kan patang puluh dino tahlil, kok saiki ngamar? Kok pas ada apa-apa?” Sejak saat itu, Kiai Fathul curiga dengan semakin kuat dugaan bahwa tahlil itu ada hubungannya dengan ada hubungannya dengan hal ini.

Dengan kata lain, Kiai Fathul Bari sebenarnya tidak tahu-menahu mengenai pembacaan tahlil ini. Apalagi pada permulaan utusan tahlil beliau tengah melaksanakan ziarah rasul. Beliau bukan mengalami gangguan melainkan pemberitahuan, dengan sebuah tanda yang dirasakan selama 40 hari pembacaan tahlil. 

Dengungan dan Tahlil 40 Hari Pertanda Kepergian Sang Purnama

Kiai Fathul Bari menyimpulkan bahwasannya suara dengungan tersebut dimulai dari 40 hari dari tahlil yang mana beliau baru saja datang di Makkah dan setelah 40 hari pembacaan tahlil suara tersebut hilang. Jadi, menurut beliau, ini merupakan gangguan non medis yang hadir untuk memberikan sebuah tanda. 

Lalu pada satu minggu sebelum wafatnya KH. Badruddin Anwar terdapat keluarga yang ingin meminta maaf kepada beliau dan meminta doa, beliau menjawab “Yo, mek ojo saiki, nanti lek wes ketemu abah kabeh tak doain.” Artinya bertemu dengan Almaghfurlah KH. Anwar Nur itu merupakan pertanda wafatnya beliau. 

Maka dengan tahlil sebelum wafatnya beliau itu merupakan birrul walidain terakhir yang dihadiahkan kepada Abah dari beliau. Jadi menurut Kiai Fathul, penujuan tahlil kepada Kiai Anwar itu agar orang-orang tidak curiga. “Karena satu karomah itu, kalau terbongkar malu orangnya, jadi bagaimana karomah itu ditutupi sedemikian rupa.” Simpul Kiai Fathul mengenai tahlil tersebut. Maka dari itu melihat tahlil itu bukan secara detail, melainkan melihat tujuan sesungguhnya yaitu bentuk birrul walidain terakhir dari beliau.

Almagfurlah KH. Muhammad Badruddin Anwar dapat bertemu dengan abahnya dan mendoakan para santri, keluarga dan sebagainya pada 28 Februari 2017. Sepeninggal beliau, dengungan yang didengar Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., hilang total saat peringatan 40 hari pembacaan tahlil.

(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II