Daurah Ilmiah: Substansi dan Pentingnya Al-Quran

Merdunya bacaan Burdah memenuhi halaman Masjid An-Nur II. Rabu, 23 Agustus 2023, seorang pakar ilmu Al-Qur’an dari Al-Azhar Kairo, Mesir, Syekh Fauzi Sa’id Muhammady Haikal mengunjungi Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”. Beliau menyampaikan beberapa keutamaan orang yang mempelajari Al-Quran, juga beberapa hal lain yang berhubungan dengan Al-Qur’an dalam acara daurah ilmiah.

Di awal acara, translator memberikan beberapa sambutan, juga menjelaskan betapa pentingnya surah Al-Fatihah ini. Al-Fatihah ialah Ummul Qur’an, sehingga surah ini sangatlah penting. Jika ada seorang imam salat tidak bisa membaca surah ini dengan baik maka salatnya tidak sah.

Setelah itu Syekh mengijazahkan surah Al-Fatihah kepada santri An-Nur II. Tidak hanya itu beliau juga mengijazahkan kitab yang bernama Tuhfah Al-Athfal dan Mandzumah Al-Jazariyah. Kedua kitab ini merupakan kitab dasar untuk mempelajari ilmu Al-Qur’an. Masyarakat Indonesia juga Al-Azhar banyak menggunakan kitab ini sebagai referensi untuk mempelajari ilmu Al-Qur’an.

“Bacaan seperti yang ada di akhir ayat pertama itu namanya Mad Arid Lissukun,” ujar Translator yang menerjemahkan ucapan Syekh . Bacaan ini punya tiga cara pembacaan: Qosr (Pendek), Mutawasitoh (Tengah-tengah), dan Ijba’ (Panjang). Beliau juga mengatakan bahwa jika ada seorang imam salat membaca surah Al-Fatihah dengan mencampur hukum bacaan di atas (ada yang Panjang, ada yang pendek) maka salatnya tidak sah.

Syekh juga menyampaikan sebuah hadis Nabi Muhammad saw.:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Artinya, “Sebaik-baiknya kalian ialah yang mempelajari Al-Qur’an juga mengamalkannya”.

Setelah itu beliau juga menyampaikan hadis yang menjelaskan tentang keutamaan Al-Qur’an:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Artinya, “Bacalah Al-Quran, sesungguhnya ia akan menjadi syafaat di hari kiamat nanti bagi pembacanya”. 

Khususnya di masa muda seperti ini, kita harus mempelajari Al-Quran dengan sungguh-sungguh. Kita juga harus membiasakan keseharian kita dengan membaca Al-Quran agar kita mendapat keutamaan darinya.

Ada sebuah kisah tentang seorang bapak dan ibu. Ketika di akhirat, mereka berdua menerima sebuah mahkota dari Allah Swt. Mahkota tersebut terhiasi dengan permata yang penuh dengan cahaya karena saking banyaknya pahala yang mereka terima. Mereka bingung, mengapa mereka mendapat mahkota? Amal apa yang mereka lakukan sehingga mendapatkan mahkota? Allah pun menjawab, kalian mendapatkan keutamaan tersebut karena anak kalian yang merupakan Ahlu Al-Quran juga merupakan Hafiz Quran. 

Imam Syatibi, Salah Seorang Pakar Al-Quran

Adapula sebuah kisah Imam Syatibi. Beliau adalah pakar qiraah. Beliau juga memiliki karakter yang sangat semangat, bahkan semangatnya melebihi segalanya. Tetapi Imam Syatibi memiliki suatu kekurangan fisik, yaitu tidak bisa melihat. Walaupun begitu, Allah memberikannya kemuliaan, beliau dapat mengarang sebuah kitab yang berisi 1000 bait yang bernama Syarah As-Syatibi. Sebelum mengarang kitab ini, beliau melakukan salat istikharah, guna mengetahui apakah hatinya bersih atau tidak saat mengarang kitab ini. 

Dalam belajar Al-Quran kita harus punya hati yang bersih. Imam Syatibi pun pergi ke Makkah untuk tawaf. Selain ingin tahu apakah hatinya bersih, beliau juga ingin tahu apakah Allah Swt., dan Nabi Muhammad saw., meridai kitabnya. Setalah tawaf, Imam Syatibi duduk di dekat Kakbah dan berdoa, “Dengan hati yang saya jaga ini semoga engkau meridai kitab saya ini.” Tidak lama kemudian beliau tertidur dan bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., dan bersabda, “Wahai Syatibi karyamu telah diterima oleh Allah Swt.”Imam Syatibi pun terbangun, setelah itu beliau kembali melanjutkan karangannya itu.

Dalam kisah lain, Imam Syatibi sedang mengajari beberapa muridnya membaca Al-Quran. Saat orang pertama datang kepadanya dan membaca taawuz, Imam Syatibi langsung menyuruhnya menyingkir. Kemudian orang ke-2 datang dan dia lulus, begitu pula sampai orang-orang berikutnya. Anak yang tidak lulus tadi heran, mengapa hanya dia yang tidak lulus bacaannya. Imam Syatibi mendengar rasa suara hati anak tersebut, beliau pun memanggil anak itu untuk menghadapnya. Saat anak itu sampai di hadapan Imam Syatibi, beliau berkata, “Hei, nak! Kamu tahu kenapa aku tidak menerimamu? Itu karena kamu, datang ke sini dalam keadaan junub dan kamu belum mandi besar untuk menghilangkannya.” Mengapa Imam Syatibi menolaknya? Karena salah satu larangan bagi orang yang junub ialah memegang dan membawa mushaf.

Bau Harum yang Membekas

Selain itu, Syekh Fauzi juga bercerita tentang Imam Nafi’. Kisahnya, beliau punya beberapa murid. Imam Nafi’ pun datang kepada muridnya itu. Tetapi saat beliau datang ada bau yang belum pernah terhirup oleh orang lain, harum itu semerbak bunga. Kemudian salah seorang muridnya bertanya, “Parfum apa yang anda pakai guru? Beli di mana?” Imam Nafi’ menjawab, “Saya tidak memakai parfum apapun, saya juga tidak pernah membeli parfum.” Ternyata rahasianya ialah suatu saat Imam Nafi’ bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan Beliau mendekatkan bibirnya. Lalu beliau terbangun, sejak saat itulah bau harum terus mengikutinya.  Bahkan saat Imam Nafi’ meninggalkan suatu tempat, bau harum tersebut masih membekas.

Selanjutnya, ada sebuah hadis riwayat Aisyah RA., Nabi saw., bersabda, “Suatu golongan yang mahir dalam ilmu Al-Quran, pahalanya akan bersama dengan malaikat.” Kemudian ada seorang sahabat bertanya, “Lalu bagaimana dengan orang yang bersungguh-sungguh, tapi tidak mahir dalam ilmu Al-Quran?” Lalu Nabi menjawabnya, “Maka baginya dua pahala. Pahala karena telah bersungguh-sungguh dalam belajar dan pahala karena membaca Al-Quran.”

Maka dari itu, Al-Quran sangat penting bagi kita, entah itu saat di dunia maupun di akhirat. Jadi jangan membuat dirimu sendiri rugi karena lupa untuk membaca Al-Quran satu hari saja, karena walaupun satu ayat, itu akan mendapatkan pahala.

(Farkhan Wildana S./Mediatech)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II