DAURAH ILMIAH: Al-Qur’an Merupakan Cahaya Penolong Sempurna

annur2.net – Rabu, 4 Februari 2026 sore hari dilaksanakan acara Daurah Ilmiah bersama Syekh Fauzi Saeed Mohammady Haikal yang merupakan pakar ilmu Al-Qur’an dan ilmu qiraat dari Al-Azhar Kairo, Mesir. Di lapangan barat Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” Putra, kegiatan diawali dengan talkshow.

Pertama-tama beliau sangat senang datang di sini, dikarenakan terdapat Syekh Muhammad Mas’ud yang juga merupakan ahli pakar Al-Qur’an dan menjelaskan biografi dari beliau. Orang tua Syekh Mas’ud sendiri juga merupakan ahli dalam bidang Al-Qur’an. Barang siapa yang menanamkan juga menghafalkan Al-Qur’an di hatinya, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga dan syafaat kepada sepuluh orang keluarga yang seharusnya masuk ke dalam neraka.

Kisah Imam Syafi’i yang Mengadu Kepada Gurunya

Ahli Qur’an juga akan mendapatkan mahkota bagi orang tuanya di akhirat kelak dan mendapatkan posisi spesial di sisi Allah. Imam Syafi’i disebut pada umur tujuh tahun telah menghafal Al-Qur’an. Banyak ungkapan mengatakan kehebatan Imam Syafi’i ketika melihat satu ayat Al-Qur’an telah Hafal dalam sekali lihat saja. Imam Syafi’i memiliki guru bernama Imam Waqi’ yang merupakan ulama besar hadis pada masanya. 

Pada suatu ketika Imam Syafi’i mengeluh masalah hafalannya yang tiba-tiba sangat sulit kepada gurunya, dalam syairnya:

شَكَوْتُ إلَى وَكيعٍ سُوءَ حِفْظِي ¤ فَأَرْشَدَنِي إلَى تَركِ الْمَعَاصِي

وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ ¤ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

“Aku mengadu kepada (guru saya) Syekh Waki’ tentang buruknya hafalanku,

ia pun menasihatiku agar aku meninggalkan maksiat.”

“Ia memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya,

dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.” (Ta’lim Muta’alim)

Jadi, saat Imam Syafi’i mengingat-ingat. Imam syafi’i saat di jalan sebelumnya tanpa sengaja melihat mata kaki seorang perempuan yang tersingkap bajunya. Hal itu merupakan perbuatan maksiat dan cahaya sendiri tidak akan diberikan kepada orang yang melakukan maksiat, meski kecil.

Keistimewaan Ubay bin Ka’b sebagai Pencatat Wahyu

Barang siapa yang menghafalkan Al-Qur’an ia akan mendapatkan posisi spesial di dekat Allah. Seperti  kisah Ubay bin Ka’b, sahabat nabi yang merupakan pencatat wahyu atau biasa disebut “Sayyid Al-Qurro” pemimpin para pembaca juga pembelajar Al-Qur’an.

Beliau sering dipuji oleh Nabi sebagai pembaca Quran terbaik di umatnya. Lalu pada suatu ketika Ubay mendapat wahyu khusus kepadanya.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأُبَي بنِ كعْب رضي الله عنه: «إن الله عز وجل أمَرَني أن أَقْرَأَ عَلَيك: (لم يكن الذين كفروا…) قال: وسمَّاني؟ قال: «نعم» فبكى أُبي. وفي رواية: فَجَعَل أُبَي يَبكِي.

Pada saat itu Rasulullah saw., bilang kepada Ubay: “‘Sesungguhnya Allah Swt., memerintahkanku untuk membacakan Al-Quran kepadamu.’ Ubay kaget dan tanya: ‘Apakah Allah menyebut namaku secara langsung?’ Nabi jawab: ‘Iya.’ Ubay langsung menangis, air matanya mengalir karena campur aduk antara gembira, syukur, dan takut (khauf) kepada Allah.” (hadeethenc.com)

Ayat yang dibacakan Ubay adalah surat Al-Bayyinah ayat 1-8. Ia seperti tak percaya akan tetapi nabi mengatakan padanya, bahwa Allah menyebut nama Ubay lengkap dengan nasabnya (Ubay bin Ka’b bin Qais bin Ubaid…) di langit tertinggi dan Ubay sangat terharu mendengar hal tersebut.

Kekurangan Tidak Menutupi Kehebatan Imam Asy-Syatibi

Terdapat juga kisah dari Imam Asy-Syatibi. Beliau memiliki kekurangan sejak lahir, yakni tunanetra. Akan tetapi hal tersebut tidak menghalangi beliau untuk menghafal Al-Qur’an.  

Imam Asy-Syatibi lahir di Spanyol. Walaupun ia tunanetra, ia memfokuskan dirinya dengan maksimal pada pendengaran dan hafalan. Ia melihat bukan menggunakan mata, melainkan hati, Alias beliau mendengar guru-gurunya bicara dan menanamkan hal tersebut di hati. Begitu juga Al-Qur’an, beliau menanamkan Al-Qur’an pada hatinya dan belajar qiraat pertama kalinya bersama gurunya Abu Abdillah Muhammad bin Abul ‘As An-Nafari.

عَن عَلِيٍ رَضَي اللٌهُ عَنهُ وَ كَرٌمَ اللٌهُ وَجهَة قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلٌيُ اللٌهُ عَلَيهَ وَسَلَمَ مَن قَرأ القُرانَ فَاستَظهَرَه فَحَلٌ حَلآلَه وَحَرٌمَ حَرَامَهُ اَدخَلَهُ اللٌهُ الجَنٌةَ وَشَفٌعَه فيِ عَشَرةَ مِن اَهلِ بَيِته كُلٌهٌم قَد وَجبت لَهُ النٌارُ.(رواه أحمد والترمذي وقال هذا حديث غريب وحفص بن سليمان الراوي ليس هو بالتقوى يضعف في الحديث ورواه أبن ماجه والدارمي).

Dari Ali Radiallahu Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, lalu menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya, maka Allah Ta’ala akan memasukkannya ke dalam Surga dan Allah menjaminnya untuk memberi syafaat kepada sepuluh orang keluarganya yang kesemuanya telah diwajibkan masuk neraka.” (HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi)

Jadi, seketerbatasan Imam Asy-Syaitibi dalam melihat, beliau masih hebat dalam menggunakan hatinya dalam mengahfalkan Al-Qur’an. Beliau terus belajar kepada guru-guru diberbagai tempat, menghafal dan mengarang kitab terkenalnya yakni qasidah Lamiyah. Dengan demikian, keterbatasan tidak menghalangi kita untuk menghafalkan Al-Qur’an.

Oleh sebab itu, Al-Qur’an merupakan cahaya penolong yang sangat hebat. Banyak sekali kisah dan hikmah yang kita bisa ambil dari menghafal Al-Qur’an. Dari, perbuatan maksiat kecil yang dapat merusak hafalan, hasil dari usaha sebagai pencatat wahyu hingga kekurangan yang tak memutus dalam menghafal Al-Qur’an. Maka dari itu, mari kita berusaha menggapai rida Allah Swt., dan syafaat dari Al-Qur’an sebagai penolong kelak.

Foto para santri An-Nur II bersama Syekh Fauzi Muhammadi Haikal

(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex