DAHSYATNYA TA’ZIYAH

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Amr bin Hazm, Nabi SAW bersabda:

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إلَّا كَسَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ حُلَلِ الْكَرَ امَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tiada seorang mu’min yang berta’ziyah kepada saudaranya karena suatu musibah, melainkan Allah Azza wa Jalla memberinya pakaian dari perhiasan yang mulia di hari kiamat”. [HR Ibnu Majah]

Catatan Alvers

Setiap pertemuan pastilah ada perpisahan. Berpisah dengan teman, kerabat apalagi orang terdekat dalam hidup kita pastilah membuat kita terpukul namun justru kita diperintahkan bersabar saat pukulan pertama tersebut.

Suatu ketika Rasulullah SAW bertemu dengan seorang perempuan yang sedang menangis di pekuburan. Lalu beliau berpesan : “Bertaqwalah engkau kepada Allah dan besabarlah!” Perempuan itu menjawab : “Engkau tidak merasai cobaan yang menimpaku.” Sementara ia tidak tahu kalau yang menasehatinya adalah Nabi SAW.

Setelah beliau meninggalkannya, barulah ada yang memberitahunya bahwa orang tadi adalah baginda Rasul SAW. Mengetahui hal itu maka perempuan tersebut bergegas menuju rumah Nabi SAW dan setibanya di sana ia tidak menemukan penjaga pintu sehingga ia langsung berkata : Maaf, aku tadi tidak tahu bahwa engkau adalah Nabi SAW. Maka Rasul SAW bersabda:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“Tiadalah Kesabaran melainkan ketika pukulan yang pertama (awal kejadian musibah)”. [HR Bukhari]

Meninggalnya seseorang merupakan ketetapan Allah swt dan tiada seorangpun yang bisa menolaknya. Rela atau tidak rela akan kehilangannya tidak akan mengubah keadaannya karena yang telah meninggal tidak akan bisa bangun lagi. Justru meratapinya akan mendatangkan dosa. Rasul SAW bersabda :

 اثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ الطَّعْنُ فِى النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

“Ada dua buah perkara dalam diri manusia yang merupakan bentuk kekufuran. Mencaci maki garis keturunan dan meratapi mayat.” [HR Muslim]

Maka tidak ada pilihan didepan kita melainkan bersabar dan justru inilah inti keimanan kita kepada takdir-Nya, Khoirihi wa syarrihi. Ali bin Abi Thalib RA berkata:

الصَّبْرُ مِنَ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ ، فَإِذَا ذَهَبَ الصَّبْرُ ذَهَبَ الإِيمَانُ

“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.” [HR Ibnu Abi Syaibah]

Ketika Ingin Ta’ziyah

Inilah esensi ta’ziyah yang mana hukumnya adalah sunnah muakkadah menurut al-munari [Faidlul Qadir] karena ta’ziyah itu artinya “menghibur mereka yang sedang tertimpa musibah supaya bisa bersabar dan sekaligus mendoakannya”.

Sayyid bakri berkata : Ta’ziyah itu adalah memerintahkan orang yang tertimpa musibah untuk bersabar, dan mengharapkan pahalanya, melarang mereka untuk meratapinya, memohonkan ampunan untuk orang yang meninggal dan mendoakan mereka yang ditinggal (yang hidup) agar tegar dan membantunya mengatasi akibat musibah (jabrul Musibah). Dan hendaklah ketika berta’ziyah mengucapkan:

أَعْظَمَ اللَّهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ، وجبر مصيبتك، أو أخلف عليك

“Semoga Allah memperbesar pahalamu, memperbagus hiburan bagimu, dan mengampuni orang yang meninggal dari (keluarga)mu itu, mencukupi musibahmu atau menggantinya atasmu”. [I’anatut Thalibin]

Ketika zainab mengabarkan lewat utusannya bahwa putranya meninggal dunia maka Nabi SAW menyampaikan kepadanya :

 إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ ، وَلَهُ مَا أَعْطَى ، وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

“Sesungguhnya milik Allah apa yang diambil dan bagi-Nya apa yang diberikan. Segala sesuatu disisi-Nya ajal yang telah ditentukan. Maka bersabarlah dan berharaplah (pahala dari-Nya).” [HR. Bukhari]

Begitu besar manfaat ta’ziyah untuk orang yang sedang susah tertimpa musibah.

Coba bayangin bagaimana jika kita yang lagi tertimpa musibah. Saya punya slogan *”Serepot-repotnya anda berta’ziyah maka jauh lebih repot orang yang anda ta’ziyahi”* betul nggak? Gimana kalo Allah membalik keadaannya untuk kita.

Keutamaan Ta’ziyah

Maka dari itu berta’ziyah memiliki pahala yang sangat besar sekali. Rasulullah SAW bersabda:

 مَنْ عَزَّى مُصَابًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

“Barang siapa berta’ziyah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti orang yang didapat orang tersebut”. [HR. At-Tirmidzi]

Memangnya sebesar apa pahala yang didapat oleh orang yang tertimpa musibah sehingga diberikan kepada orang yang ber-ta’ziyah?

Mendapat Barokah dan Rahmat, Allah swt berfirman :

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. Al-Baqarah: 155-157]

Mendapatkan surga. Allah swt berfirman dalam hadits qudsy :

ما لعبدي المؤمن عندي جزاء إذا قبضت صفيّه من أهل الدنيا ثم احتسبه إلا الجنة

“Tiadalah balasan bagi hambaku yang beriman ketika aku mengambil kekasihnya di antara penduduk dunia lalu ia merelakannya melainkan surga” [HR Bukhari]

Mengurangi dosa, Rasul SAW bersabda :

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِى نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Ujian senantiasa menimpa orang beriman lelaki dan perempuan, baik di dalam diri, anak dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai satu kesalahanpun”. [HR Tirmidzi]

Mendapat Ridlo-Nya. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)”. [HR Tirmidzi]

Mendapat kebaikan dari Allah swt. Nabi SAW Bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang diinginkan Allah kebaikan maka Allah akan mengujinya dengan musibah.” [HR Bukhari]

Subhanallah, begitu banyak keutamaan dan pahala bagi orang yang tertimpa musibah dan itu semua berdasar hadits di atas juga akan diberikan kepada mereka yang berta’ziyah dengan menghiburnya dan meringankan beban hidupnya.

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk berempati dan bersimpati kepada saudara dan handaitaulan yang sedang tertimpa musibah sehingga menyempatkan diri untuk berta’ziyah di tengah kesibukan urusan dunia.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. *Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini*. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Abdullah Alhaddad]

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Nggak Mondok Nggak Keren!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: