Dahsyatnya Doa Seorang Ibu


“Ada 3 perkara yang mesti diperhatikan. Jika ada perkara baik dan tidak dibarengi dengan perkara baik pula maka akan menjadi perkara yang buruk.” Demikian KH. Tauhid Abror mengawali mauidlohnya di hadapan para jamaah Pengajian Rutin Ahad Legi, Ahad (17/03).

Di antaranya adalah, lanjut kiai asal Lumajang ini, jika ada orang taat kepada Allah tapi tidak taat kepada rasul, maka tidak akan mendapatkan pahala dari Allah. Sebab hal ini merujuk pada hadis rasul: “Ati ‘uallah Wa’ atiu rasul” (taatlah kepada Allah dan kepada utusan-Nya). Kedua, orang yang rajin dalam ibadah pun kalau tidak mau untuk berzakat, maka segala amal ibadahnya tidak akan diterima. Karena ia telah meninggalkan perkara yang wajib, yaitu Zakat.

Ketiga, yakni orang  bersyukur kepada Allah akan tetapi tidak bersyukur kepada orang tua. Maka, dia juga tak akan mendapatkan Ridho Allah. “Karena sabda Nabi, Ridlollahu fi Ridlol Walidain, Rida Allah itu tergantung pada Rida orang tua. Maka, takwalah kepada Allah, tapi juga berbaiklah atau takzim pada orang tua,” tambah Kiai Abror menasihati.

Lebih lanjut, bahkan ada ulama mengatakan bahwa, “Senangkanlah hati orang tuamu, maka hidupmu dan seluruh keturunanmu akan dimudahkan dari segala kesengsaraan di dunia ini oleh Allah.” Sebab, walaupun ibadahnya baik, puasanya baik tapi kepada orang tua jelek maka jangan berharap untuk masuk ke surga. Hal ini dikarenakan betapa mulianya derajat orang tua yang telah merawat kita dari kecil hingga besar.

*‘Alqomah, Sahabat yang Didoakan jelek Ibunya*

Dikisahkan, ada seorang sahabat yabg bernama ‘Alqomah. Ia Ahli (suka) ibadah, puasa  yang sangat Gati kepada orang tua. Akan tetapi, saat ia mempunyai seorang istri, ia lupa kepada orang tua yang membesarkanya dari kecil hingga seperti saat ini.

Pada suatu ketika, Al-Qamah pergi ke sebuah pasar untuk membeli sebuah kue. Tujuannya, ia ingin menyenangkan istrinya yang sangat dicintainya. Akan tetapi, pada saat melewati sebuah jalan, beliau lewat di depan ibunya tanpa menawarkan kue tersebut pada sang ibu. Sehingga ibunya pun berdoa jelek pada anaknya itu, Al-Qamah, sebab merasa diduakan.

Beberapa hari kemudian, Al-Qamah sakit keras. Pada saat sekarat, ia tak bisa mengucapkan lafaz la ilaha illallah. Ini sangat disayangkan. Sebab, “Jikalau ada orang yang di akhir hidupya mengucapkan lafaz la ilaha illallah, maka akan masuk ke surganya Allah,” jelas Kiai abror. Menurutnya, lafaz tersebut adalah sebuah kesaksian seseorang terhadap tuhan yang maha esa, Allah SWT. Di kitab Fathul Mu’in juga disebutkan, membaca la ilaha illallah di akhirv hayat adalah pengukur keimanan seseorang dari kesaksianya kepada sang maha Esa.

Kembali ke kisah Al-Qamah. Melihat keadaan Al-Qamah, Rasulullah pun mengutus seorang sahabatnya untuk menemui ibu Al-Qamah. Dan ketika sang ibu datang, Rasulullah bertanya, “Wahai ibu Al-Qamah, apa ada sebuah kesalahan anakmu terhadapmu. sehingga di akhir hidupnya tidak bisa mengucapkan lafadz la ilaha illallah, padahal dia adalah seorang yang Ahli ibadah dan ahli zikir.  “Ibu Al-Qammah menjawab,” memang dia adalah seorang yang ahli ibadah, ahli zikir, dan ahli puasa. Akan tetapi semua itu sirna ketika dia tidak menawarkan kuenya kepadaku hanya demi menyenagkan hati istrinya.” Rasulullah kembali bertanya, “Apakah anda bisa memaafkan kesalahan putramu itu?” sang ibu pun menjawab dengan tegas, “dengan kesaksianmu ya Rasulallah serta para sahabatmu yang ada disini, aku memaafkan kesalahan anakku Al-Qamah.”  

Seketika itu Al-Qamah bisa mengucapkan lafaz la ilaha illallah tanpa dituntun oleh siapapun. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya doa seorang ibu. “Seorang ibu itu akan merasa kasihan terhadap anaknya, ketika melihat anaknya sengsara di akhir hidupnya,” Ujar beliau Kiai Abror memberi kesimpulan sebagai tanda akhir dari maidhoh.

Tinggalkan Balasan

Pondok Pesantren An Nur II Al Murtadlo.

%d blogger menyukai ini: