CUCU SYEKH ABDUL QODIR ZIARAHI KH.M. BADRUDDIN ANWAR.

HIKAM ZAIN

Prof. Dr. Syekh As Sayyid Fadhil al Jaelani Al Hasani, seorang cucu Ulama besar Syekh Abdul Qadir al Jaelani ke 25. lahir di desa Jimzarok tahun 1954 M, di provinsi Qurtalan Timur, Turki dan saat ini tinggal di Istambul. Beliau penemu manuskrip-manuskrip karya syekh Abdul Qadir al jaelani, hingga diceritakan beberapa kitabnya ditemukan di kota vatikan roma.

Dalam muqoddimah kitabnya yang saya beli “Nashoihu Jailaniyah” diterangkan, yang diterjemahkn dalam bahasa indonesia yang artinya :

“Ada sebuah pengalaman menakjubkan yang saya alami ketika saya mendatangi negeri Vatikan untuk mencari karya-karya sang Syaikh di perpustakaan Vatikan yang termasyhur. Ketika saya memasuki negara Vatikan, petugas imigrasi bertanya kepada saya tentang alasan saya mengunjungi Perpustakaan Vatikan.”

Pertanyaan itu dijawab oleh seorang kawan asal Italia yang mendampingi saya dengan mengatakan bahwa saya sedang mencari buku-buku karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy. Saya kaget ketika tiba-tiba saja, petugas itu langsung berdiri dan berhormat seraya berkata: “Ya, ya, Sang Filsof Islam, Abdul Qadir al-Jailaniy.”
Setelah saya memasuki Perpustakaan Vatikan, saya menemukan pada katalog perpustakaan dan beberapa buku yang ada di situ sebuah tulisan dalam Bahasa Italia yang berbunyi: “Filsuf Islam”, dan dalam Bahasa Arab: “Syaikh al-Islâm wa al-Muslimîn”.

Dua gelar ini tidak pernah saya temukan di semua perpustakaan yang ada di tiga benua kecuali hanya di sini. Di Perpustakaan Vatikan saya juga menemukan sebuah tulisan tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang berbunyi: “Sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu membahas tiga belas macam ilmu.”

SubhanAllah, kemurahan Allah begitu luas diberikan pada hamba-hamba yang terpilih lagi bertakwa.

Beliau Prof. Dr. Sayid Fadhil al Jaelani, alhamdulillah- telah beberapa kali berkunjung ke pondok pesantren An Nur 2 al murtadlo Bululawang Malang mulai dari semasa hidupnya almaghfurlahu R.KH.M. Badruddin Anwar, dan ketika ada kabar beliau wafat, Syekh Fadhil sangat merasakan kesedihan atas meninggalnya. Sehingga pada kunjungan berikutnya syekh fadhil mengunjungi makam al maghfurlah dan memberikan kesaksian-kesaksian bahwa beliau adalah orang yang alim, dermawan, murah hati dan pula memiliki beberapa kekaromahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: