Cegah Santri TBC, Puskesmas Bululawang Adakan Penyuluhan

Tahun ini, Indonesia menempati urutan ketiga, setelah India dan Cina, sebagai sumber penularan penyakit TBC (Tuberculosis) terbesar di dunia. Dari seluruh penduduk Indonesia, Jawa Timur menempati urutan kedua. Sedangkan Malang menempati urutan kelima dalam penyebaran TBC di Jawa Timur. Tentu, penyakit yang menyerang paru-paru ini sangat berpotensi menyerang siapa saja.

Untuk itu, Dinas kesehatan Kabupaten Malang memberikan instruksi kepada seluruh Puskesmas di Kab. Malang untuk melakukan penyuluhan kesehatan. Fokusnya kepada pencegahan tersebarnya penyakit TBC. Penyuluhan ini diadakan di tempat-tempat ramai seperti pesantren, sekolah dan sebagainya. salah satunya diadakan di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” pada Selasa, 02 April 2019.

*Tentang TBC*

Meskipun penyakit ini sudah ada sejak zaman Mesir kuno, sampai sekarang pun masih menjadi masalah di masyarakat. Diperkirakan ada tujuh ribu kasus lebih yang ada di Malang. Itu pun, menurut dinas kesehatan Kabupaten Malang, masih tiga puluh persen yang terdeteksi. “Artinya masih ada tujuh puluh persen yang masih menjadi sumber penularan,” ungkap Bu Chairiyah, S.K.M., M.M., yang saat itu turut mendampingi petugas puskesmas Bululawang dalam penyuluhan di An-Nur II.

Kepala seksi pencegahan dan pengendalian penyakit menular dinas kesehatan Kab. malang itu mengatakan, tujuan dalam penyuluhan ini adalah untuk mencari penderita yang tujuh puluh persen itu. Karena dalam penularannya bakteri ini sangat mudah tertular. baik itu melalui percakapan, batuk, apalagi bersin.

Faktanya, TBC sangat sulit dideteksi dalam keadaan biasa. Karena gejala yang ditimbulkan oleh TBC tidak seperti DBD (Demam Berdarah) yang akan terasa hanya dalam hitungan hari. Tapi si penderita akan merasakan gejalanya selama satu sampai tiga bulan sejak terkena Bakteri. “Parahnya, penyakit ini dapat menggerogoti organ lain hingga bisa menimbulkan kematian,” ujar Bu Chairiyah.

*Pencegahan bersama*

Dan untuk mengatasinya, diperlukan yang namanya screening bagi yang telah terserang gejala TBC, seperti batuk berdahak, batuk darah, sesak nafas dan lain-lain. Kegiatan ini dilakukan dengan memilah orang yang terkena penyakit TBC atau tidak. Bagi yang terserang, maka akan diperiksa dan diberi obat gratis. Dan obat tersebut harus dikonsumsi selama enam bulan untuk benar-benar sembuh. Karena jika tidak, maka akan berpotensi menimbulkan bakteri TBC yang kebal obat. Kalau sudah begitu, penyembuhannya bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Seperti yang dikatakan Bu Chairiyah, meskipun obat yang disediakan semuanya ditanggung pemerintah, masih banyak penderita yang belum sadar akan bahaya tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawas dalam masa pengobatan penderita penyakit TBC. Karena kebanyakan penderita akan merasa bosan mengonsumsi obat setiap hari selama enam bulan. “Kalau rencana saya, setiap penderita seharusnya memiliki satu pendamping,” imbuhnya.

Harapannya, pada penyuluhan serentak ini dapat berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Juga diharapkan para penderita baru dapat ditemukan dan diberi obat. Sehingga jumlah penderita TBC bisa berkurang dan Indonesia bisa bebas dari TBC.

Ke depan, pihak dinas kesehatan, akan melakukan kerja sama dengan dokter yang ada di Instalasi Kesehatan Santri (IKS). Hal ini ditujukan agar saat puskesmas tidak dapat mendampingi, ada yang bisa memberikan pengobatan. Dan para dokter IKS itu bisa dititipi obat untuk mengobati para santri yang terkena TBC. Selanjutnya, santri tidak perlu jauh-jauh datang ke puskesmas untuk berobat, melainkan bisa datang langsung ke IKS.

Dalam penyuluhan di pesantren terbesar Malang ini, para santri menyambutnya dengan antusias. Dibuktikan dengan datangnya ratusan santri di acara ini, meskipun pagi itu para santri sedang dalam keadaan libur. “Kami sangat berterima kasih. Antusias dari pesantren sangat respons. Sekaligus dalam mempersiapkan kegiatan sangat baik,” kesan wanita yang berusia 41 tahun itu.

Terakhir, Bu Chairiyah berpesan untuk saling menjaga diri dan sekeliling. Agar penyakit TBC tidak menyebar secara luar. “Kalau ada yang bergejala segera dibawa ke dokter,” pesannya di akhir perjumpaan dengan annur2.net.

(Mumianam/Media-tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Pondok Pesantren An Nur II Al Murtadlo.

%d blogger menyukai ini: