CARA RASULULLAH BERBAKTI KEPADA ORANG TUA*

, CARA RASULULLAH BERBAKTI KEPADA ORANG TUA*, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Perintah Allah dan Rasulullah agar kita berbakti kepada orang tua banyak kita jumpai di dalam al-Qur’an dan hadits Nabi. pernahkah muncul pertanyaan ini di benak kita: “Bukankah ayah Nabi wafat saat beliau masih berusia dua bulan di kandungan dan ibunya wafat saat Nabi berusia empat tahun, lalu bagaimana cara beliau berbakti kepada ayah dan ibunya?” Mari kita telusuri beberapa literatur yang menjelaskan tentang praktek beliau memuliakan orang tuanya.

PERINTAH BERBAKTI

وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al-Isra, 23).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ألا أنبئكم بأكبر الكبائر؟ قلنا بلى يا رسول الله، قال الإشراك بالله وعقوق الوالدين

“Rasulullah bersabda: maukah kalian aku beri tahu tentang dosa paling besar? Kami menjawab, iya wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Dosa paling besar adalah menyekutukan Allah dan durhaka pada kedua orang tua ” (Shahih al-Bukhari, 5976).

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA NON-MUSLIM

Bagaimana jika ayah dan ibunya non-muslim, apakah kewajiban berbakti kepada orang tua tetap berlaku? Status agama seseorang tidak menggugurkan kewajiban tersebut. Kita tetap wajib berbakti kepada kedua orang tua yang non-muslim.

لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم

“Allah tidak melarang kamu (menjalin hubungan baik) dengan orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negeri kamu, (dan Allah juga tidak melarang kamu) berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil terhadap mereka” (QS. Al-Mumtahanah, 8).

عن عروة قال أخبرتني أسماء بنت أبي بكر قالت أتتني أمي راغبة في عهد النبي فسألت النبي آصلها؟ قال نعم، قال ابن عيينة فأنزل الله تعالى فيها (لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين)

“Dari ‘Urwah, ia berkata: Asma’ binti Abu Bakar mengabarkan kepadaku bahwa ia berkata, di masa Nabi masih hidup, ibuku mendatangiku dengan perasaan tidak suka (karena aku sudah masuk Islam). Lalu aku bertanya kepadda Nabi, apakah saya boleh menyambung tali keluarga dengan ibuku (yang non-muslim)? Nabi menjawab, iya. Ibnu ‘Uyainah berkata, lalu Allah menurunkan ayat 8 dari surat al-Mumtahanah terkait peristiwa ini” (Shahih al-Bukhari, 5978).

Nabi juga melarang Abdullah ibn Abdullah ibn Ubay ibn Salul untuk membunuh ayahnya yang sering memfitnah dan berusaha mencelakai Nabi. Nabi memerintahkan kepadanya:

ولكن بر أباك وأحسن صحبته

“(Jangan kau bunuh bapakmu), tapi berbaktilah dan temani bapakmu dengan baik” (Shahih Ibnu Hibban, 428).

Akan tetapi, kita dilarang untuk mentaati mereka bila mereka memerintahkan kita untuk keluar dari Islam atau melakukan kemaksiatan.

وإن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما وصاحبهما في الدنيا معروفا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS. Luqman, 15).

CARA NABI BERBAKTI

Saat Rasulullah berusia dua bulan di dalam kandungan ibunya, ayahnya meninggal dunia. Dan ibunya meninggal saat Nabi berusia empat tahun. Selain ibunya, ada beberapa wanita yang pernah menyusui Nabi. Di antaranya adalah Tsuwaibah al-Aslamiyyah (budahnya Abu Lahab yang dimerdekakan olehnya saat Tsuwaibah mengabarkan tentang kelahiran Nabi kepadanya) dan Aminah binti Abu Dzuaib al-Sa’diyyah. Mereka berdua adalah ibu yang menyusui Nabi. (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, DKI, 2015, 2/295).

أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَة

“Nabi bersabda: Ibunda Tsuwaibah telah menyusuiku dan Abu Salamah” (Shahih al-Bukhari, 5101 ).

أنا أَعْرَبُكُم. أنا قُرَشِيٌّ واسْتُرْضِعْتُ فِي بَنِي سَعْدِ بنِ بَكْر

“Nabi bersabda: Aku adalah lebih Arab daripada kalian. Aku adalah suku Quraiys. Dan aku disusui di masyarakat Bani Sa’d ibn Bakr” (Al-Bidayah, 2/300).

Terhadap ayah dan ibu kandungnya, Nabi Muhammad tidak sempat berbakti karena mereka wafat di saat Nabi masih dalam kandungan dan berusia empat tahun. Tetapi, terhadap ibu yang menyusuinya, Nabi memuliakan mereka layaknya seperti ibu kandungnya. Syeikh Ja’far ibn Hasan al-Barzanji menjelaskan fakta tersebut di dalam Maulid al-Barzanjinya:

وكان صلى الله عليه وسلم يَبْعَثُ إليها بِصِلَةٍ وَكِسْوَةٍ هي بها حرِيَّة، إلى أن أَوردَ هيكلَها رائدُ المَنونِ الضَّريحَ وَوَارَاه

“Dari Madinah, Rasulullah mengirimkan pakaian yang bagus kepada Tsuwaibah, hingga Tsuwaibah meninggal dunia” (Syeikh Ja’far ibn Hasan al-Barzanji, Maulid al-Barzanji, 43-44. Lihat juga: Syeikh Nawawi, Madarij al-Shu’ud, Thoha Putra, 23).

ووفدت عليه حليمة في أيام خديجة السيدة الوضية، فحباها ممن حبائه الوافر بحباه، وقدمت عليه يوم حنين فقام إليها وأخذته الأريحية، وبسط لها من ردائه الشريف بساط بره ونداه

“Halimah datang ke Nabi di hari-hari Khadijah, seorang tokoh yang rendah hati. Lalu Nabi memberi Halimah dengan pemberian yang besar. Dan Halimah pernah datang ke Nabi saat perang Hunain , lalu beliau berdiri dan beliau menggelar selendangnya yang mulia” (Maulid al-Barzanji, 45. Lihat juga: Madarij al-Shu’ud, , 25).

Beberapa penulis lain juga mencatat fakta tersebut, di antaranya adalah Syeikh As’ad Muhammad Sa’id al-Shagharji dan Abd al-Rahman Ra’fat al-Basya:

وقد وفدت على رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد أن ردته إلى أمه مرتين، إحداهما بعد زواجه من السيدة خديجة رضي الله عنها جائته تشكو إليه الجدب والقحط وأن قومها قد استنوا (أصابتهم السنة: الجوع) فكلم لها خديجة فأعطتها أربعين شاة وبعيرا.

والظاهر أن القدمة الثانية كانت يوم حنين لما روى البخاري في الأدب وأبو داود والطبراني وابن حبان في صحيحه عن أبي الطفيل رضي الله عنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقسم لحما بالجعرانة، وأنا يومئذ غلام، أحمل عظم الجزور، إذ أقبلت امرأة حتى دنت إلى رسول الله فبسط لها ردائه فجلست عليه، فقلت من هذه؟ قالوا هذه أمه التي أرضعته.

Setelah Nabi dikembalikan ke ibunya, Halimah datang mengunjungi Nabi sebanyak dua kali. Yang pertama, ia mendatangi Nabi setelah pernikahannya dengan Khadijah. Ia datang untuk mengadukan musim paceklik dan kelaparan yang menimpa kaumnya. Nabi menyampaikan persoalan ini kepada isterinya, Khadijah. Lalu, Khadijah memberikan 40 kambing dan 40 onta kepada Halimah.

Menurut pendapat yang lebih kuat, bahwa Halimah mengunjungi Nabi saat perang Hunain sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, Abu Daud, Al-Thabrani, dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dari Abi al-Thufail, ia berkata: Aku melihat Rasulullah saw membagikan daging di Ji’ranah. Saat itu aku masih kecil dan diberi tugas membawa daging dari hewan yang disembelih. Tiba-tiba datang seorang perempuan yang mendekati Nabi. Lalu Nabi membentangkan selendangnya dan perempuan itu duduk di atas selendang Nabi. Maka aku bertanya kepada sahabat yang lain: siapa perempuan ini? Mereka menjawab: beliau adalah ibu yang menyusuinya , Halimah (As’ad Muhammad Sa’id al-Shagharji, Sayyiduna Muhammad Rasulullah al-Uswah al-Hasanah, Dar al-Kalim al-Thayyib, 1997, 1/121).

ولقد وفدت عليه بعد أن آمنت به وصدقت بالكتاب الذي أنزل عليه، فما إن رآها حتى استطار بها سرورا وطفق يقول (أمي… أمي….)، ثم خلع لها رداءه وبسط تحتها وأكرم وفادتها أبلغ الإكرام وعيون الصحابة تنظر إليه وإليها في غبطة وإجلال

Setelah beriman dan percaya kepada al-Qur’an, Halimah datang kepada Nabi Muhammad saw. begitu melihat kedatangannya, Nabi menyambutnya dengan gembira dan berkata “ibuku… ibuku…”, lalu beliau melepas selendangnya dan membentangkannya sebagai tempat duduk ibunya dan beliau sangat memuliakan ibunya. Sementara Sahabat melihat kejadian tersebut dengan kegembiraan dan penghormatan (Abd al-Rahman Ra’fat al-Basya, Shuwar min Hayat al-Shahabiyyat, Dar al-Adab al-Islami, 19-20).

* Ditulis oleh Helmi Nawali, dosen Ma’had Aly An-Nur II Al-Murtadlo Malang

Artikel original telah diterbitkan di website

https://pesantrencahaya.com/2020/05/26/cara-rasulullah-berbakti-kepada-orang-tua/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: