Canda Tawa Merias Nyate Idul Qurban

Canda Tawa Merias Nyate Idul Qurban

annur2.net – Lantunan lafaz-lafaz takbir telah rampung pada waktu Asar di penghujung hari Tasyrik. Para santri Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” serempak memeriahkan Idul Adha kali ini dengan menyate . Setiap asrama baik santri maupun santriwati mendapat jatah daging kambing.

Asrama Sufin (Al-Badr) dan asrama Ibnu Aqil (Tahfiz B) sama mendapatkan dua ekor daging kambing. Pembagian daging kambing bagi para santri dari panitia kurban An-Nur II dilakukan di akhir hari Tasyriq, bertepatan pada Senin, 9 Juni 2025 dan menyate pada malam harinya.

Para santri mendapatkan daging dalam kondisi utuh. Setiap asrama memiliki caranya sendiri untuk mengolah daging tersebut. Misal di asrama Sufin mempersiapkan bakar-bakar sate kambing sendiri. Mereka menyisakan beberapa kilogram daging dan mempercayakannya kepada salah satu wali santri guna mengolahnya menjadi gulai kambing. 

Sedangkan asrama Ibnu Aqil lebih memilih pihak ketiga untuk mengolah daging menjadi sate. Alhasil, pada malam bakar-bakar mereka hanya membakar jagung, satenya menyusul keesokan harinya. “Pengelolaannya kami serahkan ke pihak pengelola, maksute pihak pengelola.” Ungkap Ustaz Hasanuddin salah satu kepala kamar Tahfiz.

Pengolahan Sate Penuh Canda Tawa

Usai menunaikan salat Asar, tangan santri asrama Sufin sibuk dengan mengiris dan menusuk daging dengan tusuk sate. Raut wajah mereka tetap tersenyum dan masih bercanda tawa dengan teman-temannya meski azan Magrib sudah terdengar. “Lebih banyak hal-hal yang berarti, karena banyak pengalaman bersama teman-teman. Tidak ada apa, hambatan-hambatan. Ini sangat baik menurut saya.” Ungkap keseruan dari santri bernama Muhammad Nasekh Abyan, santri kelas 4 ulya.

Sebelum itu, kepala kamar asrama Sufin telah mempersiapkan bumbu, arang, dan kebutuhan lainnya mulai pagi hari. Pembelian itu menggunakan iuran kamar sebesar 10.000 rupiah. “Bahan-bahan kita yang menyiapkan dan yang membelikan ke pasar. Jadi tadi pagi saya belanja sam Ustaz Huda ke pasar Bululawang. Lalu saya setorkan ke pabrik produksi kacang di Blimbing, lalu saya bawa ke sini.” Keterangan dari Ustaz Reo Ahnan RIfani mengenai persiapan bumbu. 

Mereka tidak hanya mendapat sate kambing, bumbu, dan lain-lain. Dengan adanya sisa uang, mereka mengalokasikan untuk membeli daging ayam dan minuman. “Untuk kurban kali ini ada daging ayam dan daging kambing ya, untuk daging ayamnya, daging ayamnya ini iuran dari anak-anak sendiri sebesar 10.000.” Ucap Nasekh Abyan.

Nantinya santri yang tidak suka bahkan tidak bisa memakan daging kambing, mereka mendapat sate daging ayam. Mereka melanjutkan persiapan nyate seusai salat Magrib, bermula dari meletakkan arang di tempat pembakaran sekaligus menyalakan api.

Nyate, Momen Puncak Santri Senyum dan Canda Tawa

Biarpun para santri sudah persiapan kurang lebih empat jam sebelumnya, mereka tetap semangat dan antusias untuk membakar sate. Sesudah salat Isya berjemaah dan wiridan, mereka bergegas ganti pakaian demi ikut membakar setiap tusuk sate.

Pada asrama Sufin mereka menghasilkan 628 tusuk sate kambing dan 437 tusuk sate ayam. Sebanyak 124 santri akan memakan semua itu. “Jumlah tusuk sate yang sekarang direncanakan kami bakar adalah 628 tusuk sate kambing dan 437 tusuk sate ayam.” Penjelasan Akhdan Hakim, santri kelas 4 ulya.

Proses pembakaran sangat seru dengan asap yang sangat mengepul dan semerbak harum sate. Meski malam telah larut, semangat mereka tidak padam dan tetap penuh canda tawa. Mulai dari karaoke bareng di depan kamar bahkan iseng mencomot arang kemudian mengoleskannya ke wajah teman.

Pukul sepuluh malam mereka menuntaskan semuanya, hanya tersisa makan-makan dan bersih-bersih. Mereka makan dengan lahap. Itu sudah cukup baginya untuk menghilangkan rasa lelah yang tertutup canda tawa. “Ooh tentu seru sekali! Penuh cerita, penuh drama, banyak canda tawa pastinya ya. Kita lihat teman-teman kita di Sufin betapa bahagianya mereka, terlihat dari betapa mereka lamanya mereka tersenyum lama. Sampai saat ini mereka masih tersenyum. Padahal mulai bakda Magrib dia penuh canda tawa loh. Sampai saat ini belum selesaikan, senyum mereka.” Ungkap keseruan nyate tahun ini dari Ustaz Reo Ahnan Rifani, kepala kamar Sufin.

“Sungguh senang sekali, soalnya di sini disediakan daging-daging yang melimpah dan enak. Terus paling beda tahun ini dari segi asrama, kalau dulu itu pengap. Soalnya banyak asap dari asrama lain, dan di sini kita independen sendiri, terpojok. (tentunya) lebih enak di sini!” Ungkap kegembiraan santri Sufin, Muhammad Fathul asal Madura, kelas 5 ulya.

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex