Mau’idhah merupakan salah satu metode dakwah yang dilakukan para ulama dalam menyampaikan nilai dan ajaran Islam kepada masyarakat. Sebagai umat Islam, kita membutuhkan mau’idhah dalam menjalani kehidupan sebagai bekal di akhirat. Berikut beberapa kutipan dari kitab Al-Mawaidh fi Al-Ahadits Al-Qudsi karangan Imam Al-Ghazali yang merupakan kumpulan hadist Qudsi (Kalam Allah yang disampaikan kepada Rasulullah SAW, tapi tidak dalam bentuk Al-Qur’an) yang dapat kita jadikan sebagai mau’idhah untuk diri kita.
يقول الله تعالى, يا ابن ادم
“Allah SWT. berfirman, ‘Wahai anak Adam.’
1. “Aku takjub pada orang yang yakin bahwa ia akan mati tapi bagaimana bisa ia tetap bersenang-senang.”
Setiap manusia mengetahui bahwa dirinya pasti akan mati, akan tetapi mereka tetap bersenang-senang dengan hal duniawi, sibuk dengan angan-angannya dan bertujuan untuk mencapainya.
2. “Aku takjub pada orang yang yakin bahwa ia akan dihisab tapi bagaimana bisa ia tetap bekerja keras untuk mengejar harta.”
Banyak orang yang bekerja keras untuk mencari harta demi memenuhi kebutuhan hidupnya, akan tetapi ia lupa akan ibadahnya sehingga ia tidak memiliki bekal untuk dihisab di akhirat kelak.
3. “Aku takjub pada orang yang yakin akan masuk ke dalam liang lahat tapi bagaimana bisa ia tertawa.”
Betapa banyak orang yang tetap tertawa, melakukan maksiat, cinta dunia, sedangkan ia tahu bahwa ia akan kembali ke dalam liang lahat.
4. “Aku takjub pada orang yang yakin adanya akhirat tapi bagaimana bisa ia beristirahat.”
Banyak orang yang bersenang-senang, tidak beribadah, sedangkan ia tau bahwa ia sedang mendekati hari akhir.
5. “Aku takjub pada orang yang yakin bahwa dunia akan hilang tapi bagaimana bisa ia merasa tenang.”
Dunia tidaklah kekal dan suatu saat dunia pasti akan hilang, tapi manusia masih saja bermaksiat, tidak beribadah, dan mereka tetap tenang seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa.
6. “Aku takjub pada orang yang pandai dalam berbicara tapi bodoh hatinya.”
Betapa banyak orang yang baik dalam bicaranya akan tetapi tidak dalam hatinya, di balik hatinya masih terdapat sifat hasud, iri hati, dengki yang membuat hatinya kotor.
7. “Aku takjub pada orang yang membersihkan badannya akan tetapi hatinya tidak ia bersihkan.”
Betapa banyak orang yang bisa merawat tubuhnya, tampil dengan anggun atau gagah, akan tetapi ia lupa untuk merawat hatinya.
8. “Aku takjub pada orang yang sibuk mencari aib manusia akan tetapi ia lupa bahwa aibnya juga tidak kalah banyaknya.”
Banyak dari kalangan orang yang berlomba-lomba untuk mencari dan membuka aib manusia untuk menutupi aibnya yang begitu banyak.
9. “Aku takjub pada orang yang mengetahui bahwa Allah adalah dzat yang Mahamelihat tapi bagaimana bisa ia tetap bermaksiat.”
Betapa banyaknya orang yang mengetahui bahwa Allah SWT Mahamelihat mengetahui segala hal, sedangkan ia masih saja melakukan maksiat dan tidak bertobat.
10. “Aku heran pada orang yang akan mati dalam keadaan sendiri, masuk ke dalam kubur sendiri, ketika amalnya dihisab juga dalam keadaan sendiri bagaimana bisa ia merasa senang berkumpul dengan orang lain.”
Ibadah merupakan suatu kewajiban kita sebagai umat Islam, akan tetapi betapa banyak orang yang beribadah bukan karena Allah SWT semata, melainkan demi mendapatkan perhatian dari kalangan manusia.
لااله الا انا حقا وان محمدا عبدي ورسولي
“Tiada tuhan yang sebenar-benarnya melainkan Aku dan sesungguhnya Muhammad (Nabi Muhammad SAW) adalah hamba dan utusan-Ku.”
Dapat disimpulkan dari beberapa kutipan kitab tersebut bahwa banyak dari kalangan manusia masih dalam keadaan lalai akan keduniaan. Padahal dapat diketahui bahwa sifat dunia itu adalah:
حلالها حساب وحرامها عقاب
“Hal-hal yang halal di dunia akan diperhitungkan (dihisab) dan haramnya dunia akan disiksa.”
Oleh karena itu, marilah kita jadikan kutipan kitab tersebut sebagai mau’idhah dan pengingat untuk diri kita agar kita tetap selamat dari perbuatan-perbuatan yang tercela dan terlindungi dari azab api neraka.
(Asleh/Lingkar Pesantren)
