Bonus Pulsa vs Bonus Pahala

 

Pada kesempatan ini, saya akan membahas tentang kesungguhan kita sebagai hamba Allah dalam melaksanakan dan memenuhi panggilan-Nya. Tema tersebut akan saya sandingkan dengan fenomena yang menjadi candu bagi umat manusia.

Perkembangan teknologi dan komunikasi berjalan begitu cepat. Seolah tanpa jeda, setiap perusahaan dan provider memberikan fitur dan program ter-update. Pembahasan kali ini, saya fokuskan kepada beberapa program dan bonus yang ditawarkan oleh beberapa provider seperti telkomsel, indosat, XL, 3, Axis, dan sebagainya. Provider-provider tersebut berkompetisi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan melakukan inovasi dan kreasi dalam beberapa produknya. Telkomsel, misalnya, menawarkan program TM (talkmania). Indosat dengan paket Obrol. Begitu pula provider lainnya. Paket telpon, sms dan internet menjadikan pengguna handphone berlomba-lomba mendapatkan dan meraup bonus pulsa tersebut. Mereka memegang prinsip fa-stabiqu al-fulsaat (maka berkompetisilah dalam memperoleh bonus pulsa).

Bonus serupa juga ditawarkan oleh Allah swt. dalam bulan Ramadhan. Beragam bonus pahala dengan mudah dapat diperoleh. Pada bulan mulia tersebut, Al-Qur’an diturunkan sehingga fenomena bersejarah itu diabadikan dalam moment nuzulul Qur’an. Di bulan mulia itu, syetan dibelenggu, pintu neraka dikunci, sementara pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Allah juga memberikan remisi kepada beberapa penghuni neraka di tiap malam dalam bulan Ramadhan. Muslim yang puasa di bulan tersebut akan mendapatkan doorprize yang berada dalam surga, mereka digiring untuk melewati satu pintu khusus bernama al-Rayyān. Pintu ini khusus untuk muslim yang menjalankan ibadah puasa. Ada pula satu malam yang disebut lailatul qadar. Satu malam ini layak dijuluki dengan rajanya bonus. Ibadah satu dalam lailatul qadar diganjar dengan pahala ibadah seribu malam. Subhanallah. Doa muslim yan berpuasa juga merupakan salah satu dari tiga doa yang langsung dikabulkan oleh Allah; doa orang berpuasa, doa orang teraniaya, dan doa musafir. Bahkan, Allah sang Maha Provider mengatakan sendiri bahwa puasa itu ibadah persembahan khusus untuk-Nya, sehingga Dia sendiri yang menentukan seberapa besar bonus pahala yang akan diberikan kepada hamba-Nya yang berpuasa. Tentu bonus yang diberikan lebih besar daripada bonus yang sudah disebutkan.

Lantas, seperti apa respon dan sikap muslim melihat dan mengetahui bonus yang bertebaran tersebut? Apakah mereka tetap memegang prinsip fa-stabiqul khairaat (berkompetisi dalam melaksanakan kebaikan dan meraup bonus pahala)? Ataukah sebaliknya? Respon umat Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Abdul Aziz bin Muhammad Al-Sadhān dalam bukunya Mukhālafāt Ramadhān, beragam. Pertama, kalangan muslim sejati yang jauh-jauh hari sudah mempersiapkan jiwa, raga dan harta benda untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Saat Ramadhan sudah tiba, mereka dengan semangat 45 menjalankan ibadah puasa di siang hari dan shalat tarawih, tahajjud dan witir di malam hari. Sedekah menjadi menu wajib bagi mereka sesuai dengan kemampuan masing-masing. Nabi Muhammad saw., sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, masuk tipe muslim sejati ini. Beliau orang yang paling mudah melaksanakan kebaikan, utamanya di bulan Ramadhan.

Kedua,orang yang melalui bulan puasa dengan beribadah namun setelah selesai berpuasa sebulan penuh, kondisi dan intensitas ibadahnya tetap seperti sebelum ia melaksanakan puasa sebulan penuh. Hampir tak ada bekas (atsar) sama sekali. Ghirah spiritual, intelektual dan sosial tak mengalami peningkatan. Ketiga, kelompok muslim yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Mereka hanya mengenal Islam di bulan mulia ini. Di bulan-bulan lainnya, mereka sama sekali tidak kenal Islam dan Allah, jauh dari agama. Namun, ketika bulan puasa tiba, mereka melaksanakan puasa, tarawih, tadarus, dan sebagainya dengan semangat dan khusyu’. Tetapi, ketika Ramadhan sudah mengatakan goodbye, maka mereka juga mengatakan salam perpisahan kepada ibadah-ibadah yang ditekuninya selama bulan puasa. Goodbye puasa, goodbye tarawih, goodbye al-Qur’an, goodbye sedekah dan seterusnya. Sebaliknya, mereka dengan lantang mengatakan: welcome kejahatan, welcome perzinahan dan pemerkosaan, welcome pencurian, welcome kemaksiatan dan seterusnya. Kelompok ini, meminjam istilah Fudhail ibn ‘Iyādh, termasuk kelompok paling jelek. Mereka bersikap munafik dan menipu Allah dengan hanya beribadah di bulan Ramadhan saja. Kelompok keempat ialah kalangan muslim yang berpuasa dari makan, minum dan hubungan sebadan saja. Sementara, lisan, tangan, tubuh, hati, dan lainnya tidak diajak berpuasa dengan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. Gosip dan fitnah menjadi perbincangan hangat di siang atau malam hari di bulan puasa. Kalangan ini sudah tidak menggubris lagi pesan Nabi Muhammad saw: “Siapa yang tidak menjauhi perkataan dan perbuatan jelek, maka Allah tidak membutuhkan orang tersebut untuk menjauhi makan dan minum (berpuasa)”. Nabi juga bersabda, sebagaimana disebutkan dalam Musnad Ahmad: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi hanya lapar yang ia peroleh”.

Kelima, kelompok yang berpuasa tetapi ia hidup seperti kelelawar (belt). Siang hari dijadikan waktu untuk beristirahat dan tidur sehingga ia sama sekali tidak merasakan perihnya perut lapar. Malam hari dijadikan waktu untuk begadang, tetapi bukan untuk beribadah, melainkan dijadikan waktu untuk bersenang-senang, bermain, refreshing dan sebagainya. Keenam, kelompok yang tidak mengenal Allah dan ajaran Islam baik di bulan Puasa maupun bulan lainnya, padahal status mereka adalah Islam (sebagaimana tertera dalam KTPnya). Kelompok ini sudah tidak menghiraukan bulan puasa dan dengan terang-terangan makan dan minum di tempat terbuka. Tak ada sedikitpun rasa menghormati dan menghargai saudara-saudara seiman yang sedang menjalani ibadah puasa. Predikat “kelompok paling jahat dan jelek” layak disematkan kepada kelompok keenam ini.

 

Sementara respon masyarakat terhadap tawaran bonus pulsa dari berbagai provider bisa diklasifikasikan menjadi tiga. Pertama, kelompok elit yang tidak cuek dengan adanya bonus tersebut. Mereka tidak usah repo-repot daftar TM, Obrol atau lainnya untuk melakukan panggilan telepon. Pulsa mereka bukan hanya puluhan ribu rupiah, tetapi bisa ratusan ribu bahkan lebih dari satu juta. Kelompok ini menanggap waktu adalah aset berharga baik untuk mengembangkan bisnis maupun menambah deposit pahala. Mereka tipe orang yang berbicara sesuai kebutuhan dan kepentinga dan tidak suka ngobrol ngalor-ngidul di telepon. Kedua, kelompok alit yang memang betul-betul tidak memiliki banyak pulsa untuk melakukan panggilan atau kirim pesan kepada kerabat, teman, rekan usaha dan sebagainya. Sehingga, untuk menjalin keakraban dan kemesraan dengan mereka, kelompok ini menggunakan bonus yang ditawarkan oleh Telkomsel, Indosat, Axis dan sebagainya. Dan percakapan yang dilakukan pun sesuai kebutuhan dan kepentingan. Ketiga, kelompok “sakit”. Kelompok ini bisa berasal dari keluarga kaya, sedang atau miskin. Mereka dianggap sakit karena telah membuang-buang waktu hanya untuk bertelpon-ria dan sms-an. Waktu produktif tidak diperdulikan lagi, mereka pasif. Bila suara muadzin berkumandang memanggil, mereka tidak menghiraukan. Tetapi, bila nada dering sms atau telepon memanggil, dengan cepat kilat mereka menyambar handphonenya. Kelompok ini disamping sakit jiwanya, juga bisa membuat orang tua dan keluarga sakit. Ya, keluarga mereka sakit akibat ulah kelompok ini yang sudah tidak mempan lagi dinasehati dan dimarahi. Handhphone dan orang yang ada di seberang telepon berganti status menjadi keluarga terdekat mereka, sementara keluarga sendiri yang berada di dekatnya menjadi orang asing yang sudah tidak dikenalnya. Tetapi, saat membutuhkan pulsa, mereka tetap meminta kepada keluarga yang berada di dekatnya. Kelompok ini didominasi oleh kaum remaja dan kaum muda yang sedang dilanda penyakit cinta dan asmara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: