Bersama Sapa Santri Kompas TV, Serukan Pentingnya Sarapan Pagi

Langit sedikit mendung pagi itu. Tidak seperti langit yang sedang murung, para santri menyiratkan senyum cerah di wajahnya. Mereka mengikuti gerakan senam Ust. Udin yang bergoyang di atas panggung mengikuti ritme musik.

Usai dua lagu, barulah mereka berjalan-jalan santai mengitari lokasi pondok pesantren. Menghirup udara pagi yang segar, mereka menikmati pemandangan: taman-taman bunga, sungai dan bagunan yang menjulang tinggi. Sementara itu, tim Mie Gelas telah menyiapkan ribuan gelas mie sebagai hal penting yang harus rutin dilakukan di pagi hari: sarapan.

Ustaz Muchammad Abiyyu Muhanafi sadar betul akan pentingnya sarapan. Pria 22 tahun ini pernah merasakan dampak dari terlewatnya jadwal makan dan minum di pagi hari. “Saat ngaji badan saya rasanya lemas,” ujarnya dalam acara Sapa Santri Kompas TV bersama Mi Gelas di lapangan Pondok pesantren An-Nur II Al-Murtadlo, Jumat, 19 Juli 2019.

Selain olah raga, acara disambung dengan berbagai perlombaan: Hafiz Alquran, Perkusi dan Balap Karung. Dan sebelum itu, grup musik SCA (Surya Citra Al-Murtadlo) membawakan lagu terpopulernya: “Pesantren Wisata.”

Ini yang disebut oleh Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., pengasuh An-Nur II, sebagai acara yang komplit. Karena di dalamnya selain diisi dengan olah raga, makan bersama, juga ada acara seni. “Ini penting untuk santri,” kata beliau dengan bersemangat yang disambut dengan senyum ribuan santri yang berdiri di depannya.

Pentingnya Sarapan

Menurut beliau, acara sarapan bersama ini mengingatkan akan pentingnya makan di pagi hari. Dengan makan, tubuh akan lebih kuat dalam menjalani ibadah. Oleh karena itu, dalam suatu hadis disebutkan, Allah lebih mencintai orang mukmin yang kuat dari pada yang lemah.

Sementara itu, Gus Zahrul Azhar Hans, selaku perwakilan dari Kompas TV, mengatakan tujuan digelarnya acara ini untuk silaturahmi dan sosialisasi pentingnya sarapan. Menurutnya, masih banyak penduduk Indonesia yang mengabaikan pentingnya sarapan ini.

Pria yang akrab dipanggil Gus Hans ini berharap besar dengan acara ini bisa menimbulkan kesadaran untuk sarapan. Agar nantinya para santri dapat tumbuh dengan sehat. “Karena masa depan Indonesia ada di tagan santri. Kalau santrinya tidak sehat, siapa yang akan menjaga Indonesia?” ujar Gus Hans dalam sambutannya.

Mengenai pentingnya sarapan ini, Fatur Rozi, salah satu finalis lomba balap karung, membenarkannya. Ia merasakan sendiri dampak saat beraktivitas dengan memulainya dengan sarapan atau tidak. Menurutnya, dengan sarapan tubuh terasa lebih mudah diajak bekerja sama untuk menjalani kegiatan pondok yang padat.

Remaja asal Bali ini mengaku saat pagi, sebelum berkompetisi dalam final balap karung, menyempatkan untuk sarapan. begitu pula teman satu regunya, semuanya juga sudah memulai harinya dengan sarapan. “Agar nanti saat lomba bisa mengeluarkan tenaga ekstra dan bisa memenangkannya,” katanya seraya berlalu menuju teman satu timnya untuk menyusun strategi.

(Mediatech An-Nur II/Mumianam/MFIH)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: