Bersama Pesantren

Kesekian kalinya, pesantren menjadi ‘trending topic’ saat ini. Selain karena keberhasilannya dalam Gerakan Ayo Mondok, kini pesantren seakan menjadi dengan program full day school. Terlebih, kalangan pesantren yang diwakili oleh PBNU menyatakan akan ketidaksetujuaannya dengan kebijakan tersebut.

 

Dijadikan bandingan karena sistem pendidikan yang ada di pesantren jauh berbeda dengan apa yang ada di sekolah saat ini. Pesantren dianggap representatif bagi pendidikan indonesia yang sebenarnya. Ini disebabkan pesantren mempunyai teori pendidikan tersendiri. Pesantren mempunyai caranya sendiri dalam menjalankan pembelajarannya. Juga, pesantren mempunyai cara bersosialisasi tersendiri yang mampu membentuk karakter bangsa yang sesungguhnya.

 

Dalam pesantren, tradisionalis adalah teori utama yang menjadi ciri utama dalam sistem pembelajarannya. Artinya, penggunaan kitab-kitab turats menjadi prioritas utama di setiap kajiannya. Kitab karangan ulama kuno ini masih dianggap autentik dan relevan hingga sekarang. Sebagai contoh, dalam pesantren dikenal sebuah kitab yang hingga kini masih menjadi rujukan dan kajian utama. Adalah Ta’limul Muta’alim, sebuah kitab yang berisikan pendidikan etika atau moral bagi orang-orang yang menuntut ilmu.

 

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa guru adalah penghubung antara duniawi dan ukhrawi santri. Oleh karenanya, guru berada pada posisi sakral. Sehingga dapat dipastikan jika ada santri yang melenceng saja dari apa-apa yang dititahkan guru, dia tak akan berhasil kedepannya.

 

Begitu kiranya gambaran pesantren yang mampu mengintegrasikan aspek intelektual, moral, dan spiritual yang mana itu semua sulit sekali ditemukan atau bahkan tidak ada sama sekali di sekolah-sekolah formal non-pesantren.

 

Dan tidak melulu pada intelektualitas saja yang ditekankan di pesantren. Mengingat kebutuhan masyarakat yang juga bergantung pada aspek sosial. Dalam hal ini, pesantren pun ikut berperan. Mayoritas kegiatan keseharian pesantren bernilai sosial. Seperti ngaji, ro’an (kerja bakti), hingga antri makan. Karena dalam pesantren, budaya sosial yang baik telah terperihara dengan baik. Bersedekah kepada sesama yang tergambar saat bagi-bagi makanan sambangan. Kesederhanaan yang tercermin dalam sarung sebagai pakaian sehari-hari. Saling bekerjasama saat ro’an. Dan rasa saling menerima dan mengalah ketika kembulan (makan bareng).

 

Serta, di pesantren para santri dididik akan semangat nasionalisme yang sesungguhnya. Nasionalisme pun menjadi hal utama di pesantren disamping kajian keagamaan. Dan semangat Hubbul Wathan inilah yang mengantarkan seorang santri bernama KH.Hasyim Asy’ari menjadi pahlawan nasional. Dan dengan ini pula, KH.Wahab Hasbullah melindungi budayanya dari berbagai gempuran paham yang menyimpang.

 

Akhiran, Insya Allah, bersama pesantren, Indonesia mampu mewujudkan pendidikan berkarakter yang mampu menjaga dan melestarikan warisan luhur bangsa untuk Indonesia yang lebih beradab. Wallahua’lam.

#lingkarpesantren
#Azzamami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: