Guyuran hujan tidak menghalangi rombongan Yayasan Rumah Tahfiz Al-Qur’an Al-Azhar Al-Syarif Banjar, Kalimantan Selatan untuk mendatangi Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren wisata). Kamis (26/1/2023).
Sekitar pukul dua siang mereka tiba di An-Nur II menggunakan minibus. Jumlah keseluruhan adalah 14 orang, tapi ada satu orang yang terkena mabuk sehingga perlu istirahat di penginapan.
Sesampainya mereka di An-Nur II, panitia dari pondok menginstruksikan mereka menuju Raudah (makam pengasuh pertama). Di sana mereka membaca tahlil secara berjemaah.
Rombongan Yayasan RTQ Al-Azhar memasuki Pendopo lantai satu selepas tahlil. Di dalam pendopo tersedia dua meja yang berisi makanan-makanan ringan. Di dinding bagian timur ada televisi besar yang menampilkan video tentang An-Nur II.
Sambil menunggu acara berlangsung, mereka meonoton video yang tampil di televisi. Sekiranya sudah berkumpul semuanya, MC menyebutkan rentetan kegiatan lalu membuka acara dengan Surah Al-Fatihah.
Kegiatan kedua adalah sambutan. Sambutan pertama dari ketua Yayasan, Ustaz Reza. Ia menyampaikan tentang Yayasan RTQ Al-Azhar Al-Syarif yang sudah memiliki lima unit rumah tahfiz dengan 1500 santri.
Ia bersama asatiz yang lain ingij menjadikan rumah tahfiz ini sebagai pondok pesantren. Jika sekarang para santri tidak menginap dan hanya ada tiga pertemuan dalam satu pekan, semoga nantinya santri-santri sudah bisa menginap-harapnya.
Makanya, ia bersama jemaat lain melakukan studi banding ke An-Nur II untuk belajar tentang manajemen kegiatan santri, keuangan pondok, dan lain-lain. Ia ingin saat keluar dari Pesantren Wisata ini bisa mendapat pelajaran dan menerapkannya di pondoknya nanti. Ia juga mengatakan kalau kunjungan ini untuk saling berbagi pengalaman.
Sedikit Tentang An-Nur II

Sambutan kedua berasal dari Ustaz Farkhi. Dalam sambutanya, ia meminta maaf karena tidak langsung pengasuh yang mengisi. Lantaran pengasuh ada urusan yang mengharuskannya keluar sehingga tidak bisa hadir.
Menanggapi perkataan Ustaz Reza tentang berbagi pengalaman, Ustaz Farkhi menceritakan sedikit sejarah An-Nur II. Seperti bangunan pertama yang berdiri yaitu Matla’il Anwar. Santrinya masih sedikit saat itu, tidak mencapai sepuluh.
Namun, Al-Maghfurlah Romo KH. Badruddin Anwar, pengasuh pertama, mendirikan masjid di samping Matla’il Anwar yang bisa menampung sekitar 500 santri. Perbuatan beliau ini mengundang kebingungan masyarakat. Contohnya, “Santrinya sedikit masjidnya kok besar. Memang siapa yang bakal salat di sana?”
Akan tetapi, sekarang An-Nur II memiliki sekitar 7000 santri. Ketika hari Jum’at tiba, masjidnya tidak cukup sampai harus mendirikan terop di depannya. Itu pun masih tidak muat untuk menampung jemaat yang meluber hingga jalan kembar depan gerbang.
Kegiatan ketiga ialah penyampaian materi program tahfiz An-Nur II. Dalam hal ini, Ustaz Deddy yang menjadi presenter. Ia menjelaskan progam mulai dari santri masuk hingga program hafalan dan diniyah santri tahfiz.
Pondok Pesantren An-Nur II memiliki ciri khas yaitu tidak menolak santri masuk, berapapun jumlahnya dan juga tidak menilai kemampuannya. Akibatnya, santri yang ingin masuk tahfiz akan mendapat tes untuk pembagian kelas Tahsin yang memperbaiki bacaan dan kelas Tahfiz yang sudah mumpuni bacaannya sehingga lanjut tahapan menghafal.
Kegiatan terakhir adalah pemberian cendera mata dan foto bersama. Acara sore itu pun usai dengan doa. “Tidak banyak pesantren seperti An-Nur II ini,” kesan Ustaz Reza. Lantaran sebelum acara, para jemaah membacakan tahlil dulu untuk pengasuh pertama sehingga bisa mendapat berkah beliau.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)
