Berbakti kepada Orang Tua Syarat Masuk Surga
Akhir-akhir ini, banyak sekali berita yang beredar tentang perilaku kekerasan atau penganiayaan anak terhadap orang tuanya di berbagai macam media, baik itu di televisi, surat kabar, ataupun di media sosial. Selain kekerasan, kita juga bisa melihat banyak orang yang memperlakukan orang tua mereka tidak layaknya manusia dengan menempatkan orang tua mereka di panti jompo.
Sebagai seorang anak, kita tidak pantas untuk berlaku seperti demikian. Seharusnya, menjaga dan merawat kedua orang tua kita adalah hal yang patut kita lakukan tatkala mereka membutuhkan dampingan kita dan sudah tidak lagi berdaya dalam melakukan hal apapun. Karena, bagi orang-orang yang durhaka terhadap kedua orang tua mereka tidak akan masuk surga.
Seperti sabda Rasulullah SAW:
“لا يدخل الجنة عاق.”
Artinya: “Tidak akan masuk surga bagi orang yang durhaka kepada orang tuanya.”
Jangan Membentak Orang Tua!
Kadang-kadang, mungkin kita merasa jengkel atau risih terhadap kelakuan kedua orang tua kita kepada diri kita. Apalagi sampai mengganggu kesibukan kita. Walaupun begitu, kita tidak boleh membantah atau menolak perintah kedua orang tua kita selagi tidak melanggar hukum syari’at. Karena, Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambanya untuk memuliakan kedua orang tua mereka.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat:23
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًاِ
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
Membuat Orang Tua Bahagia
Orang tua akan melakukan apa pun demi membuat anak-anaknya bahagia, meskipun mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka. Oleh karena itu, membahagiakan kedua orang tua juga adalah tuntutan dan kewajiban seorang anak yang harus dilaksanakan.
Seperti sabda Rasulullah SAW:
عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: “جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : جئْتُ أبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ، فَقَالَ: اِرْخِعْ عَلَيْهِمَا؛ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا.”.(رواه ابو داود)
Artinya: Dari Abdullah bin Amr RA berkata: “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah SAW bersabda: “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR. Abu Dawud)
Rida Allah Bergantung pada Rida Orang Tua
Mentaati segala perintah Allah SWT dan menjauhi seluruh larangan-Nya merupakan salah satu cara untuk menggapai rida-Nya. Begitu juga orang tua, dengan berakhlakul karimah dan berbakti kepada orang tua adalah cara untuk menggapai rida mereka. Oleh karena itu, Jika kita sudah mendapatkan rida orang tua, insyaallah kita juga mendapatkan rida dari Allah SWT.
Seperti sabda Rasulullah SAW:
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ.”(رواه الترمذي)
Artinya: Dari Abdullah bin Umar RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Rida Allah berada pada rida kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya.’” (HR At-Tirmidzi).
Dengan demikian, kita juga harus ingat. Suatu saat, kita juga pasti akan memiliki anak dan menjadi orang tua dari anak kita. Maka dari itu, jika kita ingin anak-anak kita kelak berbakti kepada kita, kita juga harus berbakti terhadap kedua orang tua kita.
Rasulullah SAW bersabda:
“بروا آباءكم تبركم ابنآءكم”
Artinya: “Berbaktilah kepada orang tua, niscaya anakmu akan berbakti kepadamu.”
(Asleh Hamidun/Lingkar Pesantren)