Belajar Bahasa Inggris Kepada Orang Mesir

“Untuk apa belajar bahasa Inggris? Ibumu tidak bicara bahasa Inggris!” ucap salah seorang kepada Mohammed Fouly, seorang bocah Mesir yang tekun belajar bahasa Inggris. Ejekan semacam ini sudah sering ia dengar. Namun, tidak sedikitpun menyurutkan ambisinya. Dan hasilnya, ia berhasil meraih beasiswa kuliah di Indonesia.

Bahasa Inggris menjadi bahasa yang penting untuk dipelajari. Sebagai bahasa internasional, orang tidak akan tersesat di negara manapun selama ia bisa berbahasa Inggris. Maka sebab inilah program bahasa Inggris menjadi salah satu program Organisasi Gerbang (Pergerakan Bahasa Asing) dan asrama Tahfidz Qur’an.

“Bahasa Inggris itu mudah,” aku Foluy, seorang mahasiswa asal Mesir dalam kunjungannya di Pondok Pesantren An-Nur II, Ahad 17 Februari 2019. Dalam kedatangannya itu, ia menyapa para santri kelas bahasa Inggris di asrama Kamar A.

Kemudahan itu ia buktikan sebagai orang Arab yang juga lancar berbahasa Inggris. “Artinya dia sama-sama bukan orang Inggris yang juga belajar bahasa Inggris, dan dia bisa,” ujar Ag. Fazlurrahman yang turut mendampingi.

Dengan bahasa Inggris, menurut Fouly, kita bisa lebih unggul daripada mereka yang tidak bisa bahasa Inggris. “Dalam bekerja, kalau kita tidak bisa berbahasa Inggris, mungkin kita hanya mendapat gaji sekitar satu juta, kalau bisa bahasa Inggris, bisa jadi bayarannya sampai tiga juta,” ujar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Melanjutkan studi di Indonesia adalah tekadnya sejak lama. Ia tertarik dengan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Dan ini berawal ketika dia duduk di bangku SMP. Tinggal di Kairo, ia sering melewati asrama mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Universitas Al-Azhar. Dari sana ia mulai mengenal Indonesia. “Tidak banyak orang Mesir yang mengenal Indonesia, saya ingin mengenalkan Indonesia, saya cinta Indonesia.”

Modal Belajar Bahasa Inggris

Modal utama dalam mempelajari bahasa Inggris adalah motivasi diri. Fouly sendiri punya motivasi yang besar dalam belajar bahasa Inggris. Pria yang sebenarnya tidak suka bahasa international ini ‘terpaksa’ terpaksa belajar lantaran ia punya mimpi mengenal banyak orang dari berbagai belahan dunia. “Saya ingin belajar di Indonesia saja harus lulus ujian TOEFL.”

Tentu saja motivasi tanpa aksi adalah omong kosong. Yang terpenting dalam mempelajari bahasa asing adalah mempraktekkannya setiap hari. “Praktek saja setiap hari. Salah itu biasa,” ujarnya yang baru berusia dua puluh tahun.

Adanya partner dalam praktek juga penting. Dengan begitu, “Kita bisa saling mengoreksi satu sama lain.” Sehingga kita bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah dalam berbahasa.

Seperti beberapa siswa di Indonesia, Fouly juga belajar bahasa Inggris sejak SD hingga tingkat SMA. Namun, menurutnya, pelajaran bahasa Inggris di sekolah terlalu terpaku pada buku. Hasilnya meski sudah sepuluh tahun belajar, tetap saja ia tidak bisa berbahasa Inggris. “Di sekolah bahasa Inggris hanya untuk ujian saja, setelah itu saya tetap tidak bisa.”

Maka dari itu terus praktek tanpa takut salah adalah suatu tekad yang harus dilakukan untuk melatih. Seperti para santri program bahasa Inggris yang sedang berjalan-jalan bersama Fouly itu. Mereka terus memaksa diri untuk terus berbicara dengannya meski terbata-bata. Padahal Fouly sendiri sudah lancar berbahasa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Pondok Pesantren An Nur II Al Murtadlo.

%d blogger menyukai ini: