Belajar Alquran dari Ayah Veve Zulfikar

Belajar Alquran dari Ayah Veve Zulfikar

                Hati Muhammad Ali berdegup kencang karena senang malam itu. Matanya berbinar saat ustaz Miqdar Zulfikar Basyaiban, Qari internasional, melangkah maju ke panggung. Terlebih saat qori yang baru berusia 39 tahu itu melantunkan suara merdunya.

                Tak hanya Ali, lima ratus peserta lain yang mengikuti acara Lailah Qiro’ah, Kamis (17/10) malam, pun tak kalah bersemangat. Digelar di gedung aula Yakowi, belasan qari lain turut unjuk gigi di depan papa santri. “Saya tidak menyangka akan sebagus itu penampilannya,” kesan Hamid, salah satu santri tahfiz Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo.

                Barulah setelah penampilan para qari, acara talk show dimulai. Dimoderatori oleh ustaz Luthfi, acara inti ini menghadirkan 3 narasumber. Di antaranya yaitu, ustaz Zulfikar, Gus Fazlur Rahman dan ustaz Imam Wahyudi.

*Perjalanan Menjadi Qari*

                Umur empat setengah tahun pria yang bernama lengkap Mohammad Miqdar Zulfikar Basyaiban ini mulai belajar Alquran. Dan di usia lima tahun, ia sudah mengkhatamkan Alquran.

Orang tuanya pernah berkata, “Kamu mulai usia 2 tahun ikut ngaji di musala.” Di musala itu pria kelahiran tahun 1980 Ini duduk sambil mendengarkan materi yang diajarkan. Ustaz Zulfikar kecil bisa sedikit-sedikit membaca Alquran. Dari situ lah ia mulai mendalami Alquran.

Selain itu, ada juga motivasi yang berasal dari kakeknya untuk mendalami tilawatil qur’an. Saking inginnya si kakek memiliki keturunan qari, sampai-sampai keenam belas anaknya dinamai qari terkenal di zaman itu. namun, tak satupun yang menjadi qari.

Namun, hal itu tak membuatnya menyerah. Kemudian, para cucu lah yang diharapkan bisa menjadi qari. Saat sebelum meninggal kakek tersebut memanggil Ustaz Zulfikar untuk membacakan surat Yasin. Dari sini, terselip petunjuk bahwa kelak Zulfikar kecil akan menjadi qari yang diharap-harapkannya.

“Dulunya Saya sering diberi makan kerupuk,” lanjut ustaz Zulfikar yang disambut tawa para santri. Baginya, tidak ada resep rahasia dalam menjadi qari. Jika ingin menjadi qari, “Intinya adalah mencintai terlebih dahulu Alquran.”

*Menumbuhkan Cinta Alquran dari Pakarnya*

                Sebenarnya untuk menanamkan kecintaan kepada Alquran tidaklah sulit. “Asal menerapkan tiga hal (faktor) ini,” tutur Gus Fazlur, pengasuh An-Nur II tahfiz putra.

                Pertama, faktor lingkungan dan keluarga. Jika keduanya mendukung, maka akan memudahkan diri kita dalam mencintai Alquran. Karena perubahan sikap banyak dipengaruhi oleh faktor ini.

                Mengetahui keindahan menjadi hal yang kedua . Sama halnya dengan perempuan, cinta kepada Alquran dapat dirasakan dengan melihat keindahannya. Salah satu caranya dengan mencari keutamaan mencintai Alquran. “Banyak keutamaan Alquran kalau mau mencari,” imbuh Ustaz Zulfikar.

                Ketiga, sering membaca alias istikamah. Kalau kata orang Jawa, “Tresno jalaran soko Kulino” (cinta berasal dari kebiasaan). “Lebih baik dimulai dari diri sendiri,” tambah ustaz Imam Wahyudi, salah satu staf pengajar dirosah Alquran An-Nur II.

                Lebih lanjut, pengasuh majelis Tahsin Tilawah Al-Qur’an itu mengatakan kalau istikamah itu butuh yang namanya semangat. Dan semangat sendiri tidak serta merta bisa bertahan selamanya. Kadang juga bisa surut seiring bertambahnya waktu.

                Oleh karena itu, perlu adanya motivasi dalam memompa semangat. Ustaz Zulfikar menyebutkan salah satu hadis nabi sebagai motivasi. Hadis itu berarti, “Bacalah Alquran! karena ia kan datang di hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.”

(Mumianam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: