One Day One Hadith
Dari Anas bin Malik, beliau berkata bahwa Nabi SAW bersabda:
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.” [HR Ibnu Hibban]
Catatan Alvers
Viral lirik “Begitu syulit“. Menurut hemat saya viralnya lirik ini disamping karena pemerannya lucu, juga karena liriknya sangat cocok zaman sekarang dimana kehidupan dirasa begitu sulit akibat kenaikan BBM yang diikuti dengan kenaikan harga barang kebutuhan lainnya. Saya tidak membahas lagu ini ya, namun hanya mengingatkan bahwa di dalam kehidupan ini bukan hanya ada kesulitan, namun juga ada kemudahan.
Allah SWT menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Ada malam ada siang, ada gelap ada terang, ada susah ada bahagia dan ada kesulitan ada kemudahan. Semuanya silih berganti sebagai ujian bagi kita. Allah SWT berfirman : “Patutkah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: “Kami beriman”, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cobaan)?” [QS Al-Ankabut: 2]
Ketika kita sedang diuji maka mantapkanlah dalam hati bahwa setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada rasa segar, setelah begadang ada rasa tidur, setelah sakit ada sehat, kesulitan akan hilang, dan kegelapan akan sirna. Maka berikan kabar gembira kepada malam bahwa fajar akan tiba, berikan kabar gembira kepada orang yang sedang risau bahwa jalan keluar akan segera datang, sampaikan kabar gembira kepada orang yang sedang kesusahan bahwa kasih sayang-Nya sebentar lagi datang. Jika kamu melihat padang pasir yang luas membentang, ketahuilah bahwa sesudah itu terdapat taman hijau yang rimbun.
Yakinkan hati bahwa bersama air mata yang berlinang akan ada senyuman, bersama rasa takut akan ada rasa aman, bersama kekhawatiran akan ada ketenangan. Bukankah Api tidak membakar Nabi Ibrahim justru menjadi hawa dingin dan memberikan keselamatan [lihat QS Anbiya 69]. Laut yang dalam tidak menenggelamkan Nabi Musa yang berkata, “Tidak. Bersamaku ada Tuhan yang akan memberikan petunjuk.”[QS Syuara : 62]. Dan Keadaan genting yang mencekam kepada Nabi SAW yang berkata kepada sahabatnya “Innallaha Ma’ana” (Allah bersama kita) tidak menjadikan gentar dan menyerah justru mereka diliputi rasa aman dalam ketenangan.
Maka janganlah putus asa ketika menghadapi kesulitan atau cobaan. Yakinlah kepada Allah yang telah menjanjikan bahwa di balik kesulitan, pasti ada kemudahan. Allah SWT berfirman:
سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” [QS. Ath-Tholaq: 7]
Bahkan dalam satu Kesulitan akan terdapat dua kemudahan atau two in one (dua kemudahan dalam satu kesulitan) seperti tertulis dalam judul. Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. [QS Al-Insyirah : 5-6]
Dalam ayat tersebut dipahami bahwa dalam satu Kesulitan akan terdapat dua kemudahan, Maka Ibnu Abbas RA berkata:
لن يغلب عُسْر يسرين
“Satu Kesulitan tidak bisa mengalahkan dua kemudahan.” [Kitab : Zadul Masir]
Dalam satu kesulitan akan terdapat dua kemudahan? What? Bagaimana bisa dipahami demikian dari ayat tersebut?
Perhatikan Kata “al-‘usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat tersebut pada hakikatnya adalah satu. Sebab Al-‘Usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan “Al-‘Usr” dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan isim makrifat. Al-Farra’ mengatakan:
العرب إذا ذَكَرَتْ نَكِرَةً ثم أعادتها بنكرة صارت اثنتين ، كقولك : إذا كسبت درهماً فأنفق درهماً ، فالثاني غير الأول ، وإذا أعادتها معرفة ، فهي كقولك : إذا كسبت درهماً فأنفق الدرهم ، فالثاني هو الأول .
“Orang arab jika menyebut isim nakirah kemudian mereka mengulangi (menyebutkan isim tersebut) dengan bentuk nakirah maka artinya dua. Seperti contoh perkataan “Jika engkau mendapat uang satu dirham maka infakkanlah satu dirham. Itu artinya kata satu dirham yang kedua bukanlah satu dirham yang pertama. Namun jika mereka mengulanginya dengan bentuk makrifat seperti perkataan, “Jika engkau mendapat uang satu dirham (nakirah) maka infaqkanlah satu dirham itu (makrifat),” maka yang dimaksud kata “satu dirham” yang kedua adalah “satu dirham” yang pertama. [Kitab : Zadul Masir]
Maka kata “al-‘usr (kesulitan)” yang pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr yang kedua karena keduanya menggunakan isim ma’rifah. Sedangkan kata “yusr (kemudahan)” pertama adalah berbeda dengan “yusr (kemudahan)” kedua karena keduanya menggunakan isim nakirah sebagaimana kaidah di atas.
Makna selanjutnya “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istighraq) artinya segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, apapun bentuk kesulitan maka akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.” Maka seperti kata pepatah
“after a storm comes a calm” (Badai pastilah berlalu).
Kalau dicermati lagi bahwa, dalam ayat di atas, digunakan kata “ma’a”, yang artinya “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud RA berkata:
لو كان العسر في حُجر ، جاء اليسر حتى يدخل عليه ، لأنه قال تعالى إِنَّ مَعَ العسر يُسْراً ويقال : إن مع العسر وهو إخراج أهل مكة النبي صلى الله عليه وسلم يُسْراً ، وهو دخوله يوم فتح مكة ، مع عشرة آلاف رجل في عز وشرف .
Seandainya kesulitan itu memasuki sebuah lubang binatang (yang sempit dan berlika-liku) niscaya kemudahan akan turut serta memasuki lubang tersebut (dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut) karena Allah Ta’ala berfirman, “sesungguhnya kesulitan itu bersama kemudahan.” Dan dikatakan bahwa kesulitan (dalam ayat itu) berupa pengusiran penduduk Makkah kepada Nabi SAW, dan kemudahannya berupa masuknya kembali Rasul SAW bersama ribuan orang ke Makkah dalam keadaan perkasa dan mulia. [Kitab Bahrul Ulum LI Samarqandi]
So, masihkah ada keraguan dengan janji Allah ini? “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakikat tawakal pada-Nya. Tawakal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakal pada-Nya. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” [QS Ath-Thalaq: 3]
Terlepas dari itu semua bahwa kesempitan sering kali menjadi cambuk yang medatangkan semangat dan sebaliknya kemudahan mendatangkan kemalasan. Lihatlah kondisi sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia yang dijuluki zamrud khatulistiwa, dengan kekayaan alamnya sampai dikatakan oleh Koesplus “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. ”
Namun, Hal ini justru menjadikan bangsa ini menjadi pemalas bahkan di sisi lain menjadi penarik bagi kaum penjajah. Lihat pula kondisi Jepang, negeri yang sangat minim sumber daya alamnya namun justru menjadi pemicu agar mereka tetap survive, bahkan akhirnya mereka berkembang dan menjadi negara maju. Maka sikapilah masalah dengan menjadikannya sebagai maslahah. Kalau rakyat Jepang yang tidak kenal Islam saja bisa, mengapa kita yang memiliki Allah SWT yang menjanjikan dua kemudahan dalam satu masalah harus berkeluh kesah dan putus asa.
Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menyadari hakikat masalah adalah maslahah untuk kita dan tiada masalah yang begitu syulit kalau kita mendapat pertolongan Allah swt.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama). [At-Tadzkirah Wal Wa’dh].
