annur2.net – Ma’had Aly Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” bersama Dzaween Naja Lirboyo Kediri mengadakan acara Bedah Buku selama dua hari. Kamis, 1 Januari 2026 bertempat di Aula Yaqowi khusus santri putri dan hari berikutnya (2/1/2026) berada di Aula Kantor Pusat Lantai Tiga untuk santri putra. Mulai dari pengurus, kepala kamar, mahasantri STIKK dan Ma’had Aly, hingga sebagian santri diniah menjadi audiens acara ini.
Dzaween Naja membawa empat buku, dua di antaranya dibedah di sini berjudul Islam & Ekonomi Kerakyatan dan Ensiklopedia Istilah Fikih. Masing-masing disampaikan oleh dua anggota kelompok yang menulis buku tersebut.
Alasan An-Nur II menjadi tuan rumah karena sesuai riset pasar mereka. Ustaz Muhammad Aris Maulana, salah satu penulis buku Ensiklopedia Istilah Fikih, menyatakan, “Kami sudah observasi tentang An-Nur II ternyata yang ada di An-Nur II itu sangat maju sehingga sangat pas dengan apa yang ada dalam buku kami.”
Bedah Buku Ekonomi dan Ensiklopedia

Buku Islam & Ekonomi Kerakyatan membahas keterkaitan ajaran Islam dengan Ekonomi Kerakyatan. Ekonomi kerakyatan di Indonesia adalah sistem perekonomian yang bertumpu pada kekuatan rakyat, dengan menitikberatkan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama (Gramedia.com). Buku ini membahas bagaimana sistem ekonomi kerakyatan yang ada di Indonesia bisa menjadi landasan agar perekonomian meningkat dan tetap mengikuti sesuai ajaran syariat.
“Dalam suatu artikel saya pernah membaca Gus Mamak An-Nur II ini pernah mengatakan dalam satu artikel, alasan membangun kawasan industri di pondok pesantren itu adalah untuk membuat pesantren sebagai ekonomi keumatan atau ekonomi kerakyatan.”
Bersumber dari kitab-kitab klasik, buku ini menggunakan lima pendekatan termasuk tafsir Al-Qur’an dan hadis. Kemudian menyebutkan beberapa prinsip perekonomian yang disandarkan pada sumber syariat Islam dengan tujuan pemerataan dan mengurangi kesenjangan.
Ustaz Syauqi menyatakan buku ini bukan sekadar terjemahan fikih muamalah. Melainkan mengombinasikan Islam dan teori ekonomi, terutama ekonomi kerakyatan di Indonesia dengan bahasa yang mudah dipahami.
Buku kedua, Ensiklopedia Istilah Fikih. Buku tersebut mampu menunjang para santri dalam memahami kitab klasik. Bukan sekadar membaca, kitab klasik memiliki ciri khas dalam kebahasaannya. Berbeda pengarang, berbeda pula ciri bahasanya.
Buku ini menjelaskan banyak sekali istilah seperti al-’aẓhār, kamā, dan sebagainya. Supaya lebih memahamkan, mereka memberikan tampilan yang tidak hanya menyebutkan istilah dan penjelasan, namun juga penerapan yang langsung mengambil dalam kitab klasik.
“Untuk menunjang para santri dalam memahami kitab. Yang kedua untuk meng-counter para santri yang salah dalam memahami ibarot.” Tutur Ustaz Aris Maulana saat seminar. Sebab masih banyak santri yang salah mengaplikasikan ibarot dalam berargumentasi.
Bedah Buku Lancar, Kesan Sampai Berakar-akar
Muhammad Rifki Iksa, audiens dari kelas 5 diniah ulya, merasa acara ini cukup membingungkan karena menemukan hal yang semestinya belum ia dapat. Namun, hal itu justru membuatnya senang karena bisa mengenal istilah baru. “Senang, lah. Lebih mengenal istilah-istilah yang nggak diketahui sebelumnya,” ucapnya.
Ahmad Firman Ghani Maulana, mahasantri Ma’had Aly semester VI, menyampaikan menemukan informasi baru terkait kitab yang tidak boleh difatwakan hukumnya. “Saya baru tahu kalau nggak boleh kita ber-i’timad di atas Syekh Zakaria Al-Anshari,” tuturnya. Sehingga dari bedah buku ini tidak hanya mendapatkan apa isi dari buku, tetapi juga pengetahuan yang berhubungan dengannya.
Dzaween Naja pun merasakan acara ini berjalan lancar bahkan melebihi ekspektasi. Hal ini sekaligus pemikat mereka datang ke An-Nur II. Ustaz Aris mengatakan, “Yang menarik pertama untuk santrinya itu sangat semangat, pertama. Kemudian yang kedua itu pintar-pintar. Ternyata banyak yang nyantol-nyantol. Di luar dari ekspektasi saya pribadi.”
Sebagai salah satu anggota Dzaween Naja, ia mengutarakan kesannya, “Ini kesannya sangat menyenangkan, jujur sangat menyenangkan sekali karena banyak dari peserta yang sangat antusias dari bedah buku ini.”
Setelah adanya bedah buku ini, Ustaz Aris berharap para santri menjadi lebih teliti dalam membaca kitab klasik. “Harapan dari kami lebih teliti lagi dalam membaca kitab kemudian diperdalam lagi dan dipertajam lagi. Karena yang sulit itu adalah membaca kitab dan mengaplikasikan ibarot yang ada dalam turats ke era sekarang, ke kasus yang aktual,” ungkapnya.
Ustaz Syauqi sebagai salah satu penulis buku Islam & Ekonomi Kerakyatan pun berharap para santri bisa mengamalkan teori-teori yang ada di buku tersebut sesuai syariat Islam, terlebih lagi menjadi ekonom nasional. “Minimal-minimalnya kalau kalian nggak jadi ekonom, diri kalian sendiri ketika melakukan kegiatan ekonomi itu benar, sesuai ajaran Islam,” terusnya.

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
