RECENT POST

Sign in

Sign up

Baleho: Simbol Kekuatan Politik

By on 26 Agustus, 2012 0 0 Views

 

Sudah menjadi pemandangan lazim bila baleho menjadi hiasan sepanjang jalan. Baleho dengan ukuran bervariasi seolah menggantikan berbagai rambu-rambu lalu lintas. Utamanya, ketika musim pemilihan langsung baik tingkatan eksekutif daerah dan pusat atau legislatif. Berbagai pose para politikus ditampilkan. Beragam kalimat promosi dan provokasi dijadikan hiasan baleho tersebut. Semua yang ada di baleho itu menjadi cerminan kepribadian, kapabilitas, dan kekuatan politik mereka. Mereka yang paling banyak memasang baleho di sepanjang jalan, menandakan bahwa mereka memiliki banyak cost dan jaringan kuat. Sebab, dalam pemilihan langsung seperti yang digagas oleh demokrasi Indonesia ini, semua calon pemimpin dan wakil rakyat mau tidak mau harus menyiapkan cost yang cukup tinggi. Dengan kata lain, mereka yang minim biaya, pasti mundur dengan teratur. Mereka yang hanya memasang sedikit baleho, pertanda kekuatan politiknya lemah.

Sebentar lagi akan digelar beberapa pemilihan kepala daerah di Indonesia. Kabupaten Probolinggo juga akan menggelar acara rutinan tersebut. Saat ini, setidaknya sudah ada tiga pasang calon yang menyatakan siap menjadi calon bupati dan wakil bupati. Deklarasi mereka sudah melalui berbagai media, termasuk dengan memasang baleho di sepanjang jalan di kabupaten Probolinggo. Bagi, para pemudik yang melewati jalur pantura dipastikan akan menyaksikan pemandangan calon pemimpin kabupaten probolinggo mengiringi perjalan mereka sampai perbatasan Situbondo. Ketiga pasangan tersebut ialah Kusnadi-Wahid Nurrahman, Hj. Tantri-Timbul dan Habib Salim-Agus Setiawan. Setiap pasangan membuat jargon sesuai dengan singkatan nama pasangan masing-masing. Kusnadi-Wahid akrab dengan jargon “kawan”. Hajjah Tantri-Timbul disingkat menjadi “hati”. Sementara Habib Salim-Agus mengusung jargon “bagus”. Ketiga singkatan dan jargon tersebut merupakan kata yang bisa digabungkan menjadi kalimat menarik. Kawan dan hati adalah kata benda. Sedangkan bagus adalah kata sifat.

Kawan memiliki beberapa sinonim; sahabat, teman, shāhib, shadīq, sobat, konco (jawa), kancah (madura) dan lainnya. Seseorang dianggap kawan bila ia ada saat suka atau duka, ia berani membantah bila kita memang sedang melakukan kesalahan, ia berani berkorban demi membela kepentingan kita yang tidak bertentangan dengan tuntunan agam. Itulah indikator kawan sejati. Dalam term Arab, kawan bisa juga disebut dengan shadīq. Ada sebuah adagium dalam peradaban Arab, “Shadīquka man shadaqaka, la man shaddaqaka” (seorang kawan ialah mereka yang berani berkata jujur dan benar, bukan mereka yang selalu membenarkan kamu). Namun, seseorang yang bisa menjadi kawan bagi kita, di satu saat bisa berubah menjadi lawan kita. Predikat “kawan” tidak selamanya menjadi jaminan. Untuk menjaga per-kawan-an, bukan hal mudah. Sebab, hal ini berhubungan dengan perasaan dan hati kawan tersebut. Setiap tindakan dan ucapan kita harus dijaga agar tidak sampai menyinggung perasaan dan hati kawan. Bila hati sudah tersinggung, pasti persahabatan sirna dan kawan akan berubah menjadi lawan.

Hati (qalb) adalah intisari kehidupan ini. Hati adalah bagian terpenting dalam kehidupan. Baik dan buruknya kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama tergantung hati masing-masing individu. Kesalehan hati tiap individu menjadi jaminan stabilitas nasional dan internasional. Sebaliknya, kejahatan hati tiap individu merupakan pintu kerusakan dan kehancuran dunia ini. Para politik yang suka bermain-main dengan harta rakyat (APBN/APBD) adalah orang yang memiliki hati busuk, penuh ulat dan penyakit kronis. Para pejabat yang suka menjilat pasti tidak memiliki hati yang bersih dan suci, tapi hatinya sudah terkontaminasi. Penyakit hati itu menjadi pembahasan penting dalam Islam, sehingga tidak salah bila Imam Ghazali membahas tentang penyakit hati dalam magnum-opuznya, Ihya’ Ulumuddin. Tidak tanggung-tanggung, Imam Ghazali membahasnya dalam satu juz (juz 3). Ini bukti urgensitas seorang muslim untuk mengetahui dan memahami penyakit hati agar terhindar darinya. Nabi Muhammad saw. juga menyatakan tentang urgensitas hati ini, beliau bersabda: “Sungguh dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, bila ia bagus, maka bagus pula seluruh jasadnya. Sebaliknya, bila ia rusak, seluruh jasad akan ikut rusak. Segumpal daging itu ialah hati”.

Hati, dari karakternya sebagai kata benda, juga bermata dua; bisa rusak dan jelek atau bagus. Maka, merupakan sebuah keharusan untuk senantiasa menjaga hati agar tidak menjadi virus yang merusak organ tubuh lainnya. Kecerobohan dan ketidak-waspadaan akan menjadikan hati mudah terserang penyakit. Imunisasi hati harus senantiasa diupdate setiap saat. Hati tak boleh dibiarkan berkarat (tashda’). Bila sudah terlanjur berkarat, maka segeralah dibersihkan dengan dzikir kepada Allah. Sebab, setiap sesuatu memiliki pengkilat dan pembersih (shaqālah), dan pengkilat hati ialah dzikrullah. Hati, dilihat dari akar katanya qa-la-ba, berarti mudah terombang-ambing dan bersifat inkonsisten. Untuk mengatasi hal itu, kita harus senantiasa berdoa kepada Allah agar selalu diberi hati yang tetap lurus di jalan-Nya. Allah mengajarkan kita untuk berdoa dengan “ihdina as-shirāth al-mustaqīm” (berilah kami hidayah agar senantiasa tetap berada dalam jalan lurus-Mu).

Bila kawan dan hati merupakan dua kata benda yang bisa disifati baik dan buruk, maka kata “bagus” hanya memiliki makna positif dan tak bisa disifati dengan sifat baik atau buruk. Sifat tak bisa disifati. Ibarat jeruk yang tak mungkin minum jeruk. Sifat bagus disematkan kepada hal-hal, tindakan atau ucapan, yang bernilai positif. Sementara, hal yang negatif biasa disifati dengan kata jelek, rusak dan sebagainya. Bagus merupakan sifat Tuhan. Tuhan hanya memiliki sifat-sifat positif dan bagus. Rasulullah saw bersabda: sungguh Allah Dzat yang bagus (indah) dan mencintai kebagusan (keindahan). Terkadang, para sesepuh dan guru kita juga menggunakan istilah bagus sebagai terjemahan dari kata shalah atau shalih. Mereka sering berpesan: lewih penting dadi wong bagus ketimbang dadi wong pinter. Pinter lek ora bagus mbahayani. Bagus lek ora pinter yo ndrawasi. Mulakne, kuwi kudu ngimbangno kebagusan lan kepinteranmu (lebih baik menjadi orang bagus, shalih, daripada menjadi orang pintar. Sebab orang pintar kalau tidak shalih sangat membahayakan. Orang yang shalih tapi tidak pintar pun juga agak mengkhawatirkan. Makanya, kamu harus bisa menyeimbangkan dua aspek tersebut).

Lantas, bagaimana kalau ketiga kata (kawan, hati dan bagus) digabung menjadi satu kalimat? Dengan harapan, ketiga pasangan tersebut bisa akur dan berkompetisi secara fair, tanpa black campaign dan money politic. Saya sendiri mengajukan dua kalimat: Kawan itu ber-Hati Bagus atau Hati Kawan pasti Bagus. Kedua benda (kawan dan hati) akan selalu menjadi tempat dari satu sifat mulia (bagus). Kalau kalian, wahai para calon bupati dan wakil bupati, mengaku menjadi kawan, maka hatimu harus dibersihkan dulu sehingga menjelma menjadi hati yang bagus. Bila memang betul ingin menjadi pemimpin kami, maka jadilah kawan yang ber-hati bagus. Kami tidak mau memiliki pemimpin yang ber-hati busuk dan kotor. Bila hati kalian masih busuk, penuh ulat dan virus, lebih baik kami hidup tanpa pemimpin. Kami tidak ingin terserang virus kalian. Cukup al-Qur’an, Hadis dan Ulama’ sebagai pedoman dan penuntun hidup kami.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.