20 September, 2018
  • 20 September, 2018
minta ma'af

Baiknya, Minta Ma’af

By on 19 Desember, 2014 0 454 Views

Lentera Hati

 

Simaklah Cerita Dibawah

“Ayah, semua teman-teman jahat padaku”, teriak seorang anak pada ayahnya sepulang sekolah dengan bercucuran air mata. Ayahnya pun menghampirinya kemudian berusaha meredakan tangisan tersebut. “memangnya, apa yang telah kamu lakukan pada mereka?”, tanya sang ayah, setelah mendapat pertayaan dari ayahnya, anak itupun mulai bercerita perihal kejadian yang dia alami di sekolahan tadi.

 

Beberapa saat kemudian setelah anak tersebut mengakhiri ceritanya ayahnya pun bertanya pada anaknya, “apakah kamu sudah meminta ma’af pada teman-temanmu?”, “sudah yah!”, sahut si anak, mendengar jawaban tersebut kemudian berfikir sejenak, lalu sang ayah mengajak anaknya ke gudang belakang rumah, dan menunjukkan sebuah lemari tua yang tak berisi kemudian mengambil
beberapa paku didalam rak yang terletak tak jauh dari almari. “nak, tancapkanlah paku di pintu lemari ini sebanyak kamu melakukan kesalahan terhadap temanmu”.

 

Tanpa berfikir panjang si anak menuruti kata ayahnya, Dan kemudian didapatilah pintu almari tersebut penuh dengan paku. “setiap kali kamu telah meminta ma’af,maka cabutlah paku-paku tersebut”, lanjut sang ayah. Anaknya pun menurutinya, di cabutlah satu persatu paku tersebut dari pintu almari sampai tersisa beberapa biji saja. “lihatlah pintu almari tersebut, apakah akan kembali seperti semula setelah kamu menancapkan paku?.

 

Tentu saja tidak, paku tersebut pasti akan menimbulkan sebuah luka, meski kamu telah mencabutnya, terlebih lagi bila kamu tidak segera mencabutnya atau malah membiarkannya, tentunya akan menimbulkan luka yang lebih parah”.  Mendengar penuturan ayahnya, anak itupun tertunduk menahan air mata semabari memeluk erat ayahnya.

 

Berbuat Salah Dalam Islam

Salah ataupun dosa sudah menjadi hal yang lumrah bagi manusia, bagaikan sebuah makanan yang setiap hari dikonsumsi, salah ataupun dosa memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia pada zaman ini, maka tidaklah salah kalau ada ungkapan

 

“الإنسان محل الخطأ والنسيان

“(manusia adalah tempatnya salah dan lupa).”

 

Dosa terhadap tuhannya, dosa terhadap sesamanya atau mungkin dosa terhadap lingkungan sekitarnya semua pernah dilakukan oleh manusia sesempurna apapun, bahkan seorang Nabi sekalipun pernah melakukan sebuah kesalahan, meskipun kesalahan yang dilakukan oleh Nabi tersebut adalah sebuah pembelajaran bagi umatnya.

 

Maka sudah selayaknya bagi kita meminta halal ataupun meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat. Seperti yang telah Rasulallah SAW. sampaikan pada kita, dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori yang berbunyi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

A

rtinya: “Barangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibenankan kepadanya.” (HR al-Bukhari).

 

Dapat kita ambil hikmah dari hadist diatas bahwasanya kedzaliman(kesalahan) yang telah kita perbuat pada orang lain, bisa mengurangi amal saleh kita,sampai-sampai bagi orang yang tidak memiliki sedikit pun amal saleh lagi, akan menerima kesalahan-kesalahan orang yang kita dzalimi, maka dari itu meminta ma’af memegang peranan yang penting sebagai penolak dampak negatif yang ditimbulkan dari kesalahan kita.

Berbeda dengan ampunan Allah yang tak mungkin bisa digambarkan dengan segala sesuatu yang paling besar di dunia ini, bagi sebagian manusia sangatlah sulit untuk menerima ma’af dari kesalahan yang kita perbuat, seperti kisah yang kami sajikan di awal tadi, sebuah kesalahan yang kita perbuat terhadap orang lain pastilah menimbulkan sebuah rasa sakit dan bekas pada hati mereka, meski telah menerima ma’af atas kesalahan kita.

 

Dampak Dari Menyimpan Rasa Sakit

 

Setelah mengetahui hal diatas apakah yang sebaiknya kita lakukan?, apakah tetap meminta ma’af, atau malah berdiam diri tanpa mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kita. Taukah anda bila seseorang menyimpan rasa sakit dalam hati akibat kesalahan dari kita, rasa sakit itu ternyata menimbulkan berbagai dampak fisik dan psikologis. Sakit hati membahayakan kesehatan jantung dan sistem peredaran darah (William & William, 1993), kanker, tekanan darah, tukak lambung, flu, sakit kepala, sakit telinga.

 

Sakit hati juga menjadikan hati manusia dipenuhi marah, dendam dan benci kepada orang lain yang dipersepsi merugikannya. Ini menjadi sumber stres dan depresi manusia. Hati yang dipenuhi energi negatif, akan mengarahkan individu untuk berkata-kata yang destruktif, baik dalam bentuk rerasan, pengungkapan kemarahan di depan publik, maupun hujatan. Dampak lebih jauh adalah kekerasan, termasuk di dalamnya mutilasi.

 

Tentu kita tidak mau hal-hal negatif tesebut terjadi, oleh karena itu meminta ma’af tentu suatu hal yang lebih bijak dari pada tidak meminta ma’af sama sekali. Meminta maaf jelas merupakan salah satu bentuk kerendahan hati (tawadhu’) pribadi dan tentu juga merupakan salah satu bentuk keberanian manusia.Kita percaya bahwa sekalipun suatu perbuatan salah kita lakukan, tetap ada jalan bagi seseorang untuk memperbaiki diri.

 

Jalan untuk menghapus perbuatan salah adalah menghapus kesalahan dengan jalan sosial (meminta maaf kepada orang lain) dan spiritual (bertaubat kepada Tuhan) dan melakukan perbuatan yang baik dengan jalan sosial (berbuat positif kepada sesama) dan spiritual (berbuat baik kepada Allâh).

 

Berbuat baik terhadap orang yang telah kita sakiti dapat kita jadikan sebagai obat penghilang rasa sakit hati, meskipun tidak serta merta hilang secara sempurna, tetapi sekali lagi percayalah bahwa sebuah kebaikan yang dilakukan secara terus-menerus pasti mampu menenggelamkan kesalahan ataupun keburukan.

والله اعلم…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: