annur2.net – “Kami nyatakan Bahstul Masail PWNU Jawa Timur, kami nyatakan dibuka.” KH. Hairuddin, Ak., M.Si., memukul gong sebagai pembukaan simbolis Bahtsul masail Syuriah PWNU sekaligus rangkaian Haul ke-9 Almagh furlah R. KH. Muhammad Badruddin Anwar.
Pembukaan Bahtsul masail Syuriah PWNU kali ini dilaksanakan pada Senin sore, 17 November 2025 di Masjid Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”. Dalam satu lokasi, dipenuhi oleh 55 tokoh sebagai perumus dan mushahih serta 300 peserta dari PCNU, MWCNU, dan utusan pondok pesantren serta perguruan tinggi se-Jawa Timur.
Pelaksanaan Bahtsul masail Syuriah PWNU ini menjadi rangkaian peringatan Haul ke-9 Almagfurlah R. KH. Muhammad Badruddin Anwar yang acara puncaknya akan dilaksanakan pada Jumat, 21 November 2025. Selain itu, terpilihnya Pondok Pesantren An-Nur II menjadi tuan rumah merupakan permintaan dari PWNU.
Pilihan ini bagaikan badai besar bagi Pondok Pesantren An-Nur II. Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., selaku pengasuh mengaku terkejut terhadap permintaan ini. “Maka saya pada waktu awal mendengar bahwa Pondok Pesantren An-Nur II diminta untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan LBM NU, saya merasa susah, sangat-sangat susah karena khawatir tidak bisa menghormati penjengan-panjenengan, para kiai para asatidz,” jelas beliau.
Beliau teringat ucapan Sang Abah, Pengasuh Pertama Pondok Pesantren An-Nur II Almagfurlah KH. Badruddin Anwar, “Lek ngundang uwong gampang, tapi yo opo carane ngurmati wong seng kon undang (Mengundang itu mudah, tapi bagaimana caramu menghormati orang yang kamu undang (itu yang sulit)).” Sehingga, bersama para pengurus pondok pesantren, Kiai Fathul Bari mengusahakan pelayanan yang maksimal untuk acara ini.
Pondok Pesantren An-Nur II terpilih sebagai tempat pelaksanaan Bahtsul masail Syuriah PWNU adalah karena gelarnya, Pesantren Wisata. Ketua Tanfiziyah PCNU Malang KH. Hamim Kholil mengatakan, “Memang di sini, Pondok Pesantren An-Nur II itu menjadi jujukan kita untuk kita repotkan karena satu-satunya Pesantren An-Nur II itu yang ada labelnya Pesantren Wisata.”
Melayani Tamu itu Nomor Satu

Keindahan Pondok Pesantren An-Nur II yang dipadukan dengan pelayanan maksimal memberikan kesan luar biasa bagi para tamu. Sepanjang jalan menuju lokasi bahtsul masail dihiasi dengan bendera Nahdlatul Ulama dan umbul-umbul An-Nur II. Para tamu turun dari kendaraan di depan Masjid An-Nur II. Sedangkan para tamu yang turun di lokasi parkir akan dibawa ke tempat registrasi menggunakan mobil golf. Tim Terima Tamu langsung mengantarkan beliau-beliau ke tempat registrasi di kantor Ma’had Aly dan lokasi penginapan masing-masing.
Penginapan mushahih dan perumus terletak di Pendopo Al-Badari, peserta di lantai 3 asrama Kamar A, dan sopir berada di wisma tamu. Para mushahih, perumus, peserta, dan sopir mendapatkan fasilitas yang memadai. Setiap lokasi juga telah memiliki kamar mandi yang sepenuhnya dipersilakan untuk para tamu. Bahkan setiap lokasi memiliki pemandu untuk melayani kebutuhan para tamu.
Tenda terop dengan hiasan kain berwarna biru-putih dan lampu berdiri di depan Masjid An-Nur II untuk menyambut para tamu. Latar masjid ini sekaligus menjadi lokasi prasmanan bagi para peserta bahtsul masail setelah acara pembukaan. Saat ramah-tamah pun halaman masjid menjadi pilihan tempat makan bersama peserta-peserta lain sambil mengobrol. Selain itu, para tamu akan mendapatkan tiga jatah konsumsi selama acara berlangsung.
Pelayanan dan fasilitas ini membuat para tamu lebih tenang dan bisa fokus mengikuti proses penyelesaian masalah yang dibahas. Beliau-beliau juga tidak perlu bingung mencari lokasi registrasi, penginapan, dan lokasi lainnya, apalagi dalam keadaan lelah pasca perjalanan.
Pelaksanaan bahtsul masail dilaksanakan sebanyak dua jalsah dalam dua hari. Jalsah pertama dilaksanakan pada Senin malam (17/11/2025) dan jalsah kedua pada Selasa pagi (18/11/2025). Dari 350 peserta dan 55 perumus-mushahih terbagi menjadi tiga golongan dan lokasi: Komisi Waqi’iyah di Masjid An-Nur II, Komisi Maudlu’iyah di aula kantor lantai 3, dan Komisi Qanuniyah di gedung STIKK lantai 2.
Kalau Salat adalah Tiang Agama, Bahtsul Masail sebagai Tiang Nahdlatul Ulama

Bahtsul Masailmerupakan tiang Nahdlatul Ulama untuk menyelesaikan berbagai masalah yang perlu dimusyawarahkan dan bersumber pada kitab kuning. Wakil Ketua Syuriah PWNU KH. Abdul Matin Djawahir mengatakan dalam taujihat-nya, “Saya bangga sekali, masa depan LBM ini insyaallh selalu menjadi, nopo, cagak e ulama.”
Di akhir taujihat, Kiai Matin menjelaskan bahwa berkumpul bisa mendapatkan anugerah dunia dan pahala akhirat, apalagi bahtsul masail. “Kumpul saja sudah dunyo akhirat, apalagi kumpul dengan bahtsul masail.” Jelasnya. Beliau mengutarakan dalam bahtsul masail terdapat faedah ilmiah, khidmat, jam’iyah (perkumpulan), dan sebagainya.
Dengan begitu, Kiai Matin sangat senang bahtsul masail ini tetap berlanjut dan berharap, “Semoga dibarengi dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Diberi pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.” Beliau melanjutkan, “Kalau dilakukan betul-betul dengan ikhlas, inyaallah bukan pahala saja.”
Acara pembukaan ini berjalan dengan lancar. Para tamu tampak nyaman dengan tempat yang disediakan. Bahkan bisa bertemu dengan teman-teman yang berbeda daerah. Usai acara pembukaan, semuanya beristirahat di penginapan untuk mempersiapkan jalsah pertama.

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
