Bahtsul Masail An-Nur II: Tentang Makelar dalam Perdagangan

Bahtsul Masail An-Nur II: Tentang Makelar dalam Perdagangan

Peran makelar dalam perdagangan menjadi profesi yang banyak diminati. Kecuali karena bisa mendapat keuntungan yang besar, menjadi makelar tidak perlu mengeluarkan modal yang banyak.

Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur II menggelar forum musyawarah yang membahas tentang muamalah jual beli yang melibatkan peran makelar. Forum “berdebat” ala pesantren ini menghadirkan KH. Hamim dan KH. Nidhom Subki sebagai perumus. Dan ditunjuk sebagai moderator adalah Ust. Aminuddin.

Panitia mengundang sedikitnya 33 pondok pesantren se-Malang Raya. Forum yang menjadi serangkaian peringatan Harlah Ke-40 Pondok Pesantren An-Nur II ini dilaksanakan di Gedung STIKK An-Nur II, Jumat 23 Agustus 2019.

Dalam forum ini, pertanyaan pertama mengandaikan sebuah perusahaan besar, sebut saja Anwar.tbk, yang enggan mengeluarkan banyak dana untuk biaya promosi. Sebagai solusinya, perusahaan tersebut menggunakan jasa makelar untuk menjualkan barang produksi mereka.

Katakanlah Anwar.tbk menjual barangnya dengan harga Rp.50.000,00. Lalu barang tersebut diberikan ke pada makelar tanpa menentukan berapa harga yang dijual makelar tersebut pada konsumen. Yang jelas si makelar akan menjual benda itu dengan harga di atasnya, semisal Rp.55.000,00. Maka Rp.5.000,00 dari harga tersebut adalah upah yang diterima makelar dari menjualkan barang tersebut.

Lantas disebut apakah sistem demikian? Dan siapa nantinya yang wajib mengeluarkan zakat? Mengingat keduanya, baik perusahaan maupun si makelar, mendapat omzet yang melimpah.

Moderator menunjuk tiga peserta musyawarah yang akan memberikan jawaban. Dari masing-masing jawaban, dibahas: didukung dan disangkal. Setelah perdebatan berjalan sengit, perumus merumuskan jawaban sebagai keputusan akhir. Meski bukan berarti peserta tidak boleh menyangkal hasil rumusan.

Panjangnya perdebatan berakhir dengan satu keputusan yang telah disahkan oleh musahih, KH. Jazim. Pengesahan itu mengakhiri jalsah awal dan dilanjutkan salat Jumat dan Ishoma. Setelah itu, dilanjutkan jalsah tsani atau forum kedua.

Musahih mensahkan keputusan yang mengatakan hukum seperti permasalahan di atas, tidak boleh menurut Mazhab Syafii. Ketidakbolehan itu disebabkan karena upah atau harga lebih yang dipatok makelar tidak ditentukan sebelumnya.

Mazhab Syafii menyaratkan ada kejelasan upah yang diterima makelar. Dalam penggambaran di atas, uang Rp.5.000,00, yang didapat makelar. Artinya, harus ada akad dari produsen, dalam contoh ini Anwar.tbk, dengan makelar terkait kelebihan harga lebih tersebut.

Maka dari itu, dalam praktek yang sudah sering terjadi di masyarakat, dimana makelar bebas menentukan harga jual barang dari produsen, dikatakan fasid/rusak menurut Mazhab Syafii. Maka dari itu, sebaiknya produsen dan makelar menentukan harga jual kepada konsumen terlebih dahulu.

Akan tetapi, tidak semua mazhab tidak memperbolehkan hal ini. Dalam Mazhab Hanafi, upah yang diterima makelar tidak disyaratkan harus ma’lum atau diketahui. Artinya makelar bebas menentukan harga jual kepada konsumen tanpa diketahui produsen. Dan ini adalah solusi, mengingat praktek demikian sudah lazim dilakukan.

Melanjutkan ke pertanyaan kedua, siapa yang wajib zakat dalam pembahasan ini?

Dari kedua perumus, musahih mensahkan jawaban yang mengatakan hanya produsen yang wajib membayar zakat. Karena sejatinya produsen adalah orang yang memiliki barang dagangan tersebut dan makelar hanya berprofesi sebagai penyalur.

Akad dalam penggambaran tersebut dimasukkan dalam akad wakalah. Produsen berperan sebagai wakil dan makelar berperan sebagai muwakilnya. Dengan terpenuhinya syarat ijarah, perdagangan, maka produsen wajib mengeluarkan zakat ijarah.

Ini adalah pendapat yang terkuat. Ada juga yang mengatakan makelar juga wajib membayar zakat. Namun zakat itu berupa zakat profesi, dimana zakat ini dikemukakan oleh banyak ulama konteporer. Akan tetapi, tidak ada nash yang mewajibkan hal tersebut.

(MFIH/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: