Bahstu Masail Cawu: Wadah Musyawarah Mendalam Berbasis Kitab Syafi’iyah bagi Santri Diniah

annur2.net – “Aku! Aku! Saya, Tor!” Suara para santri saling bersahutan di halaman berkeramik putih Aula Ibnu Aqil. Senin, 16 Februari 2026, tim LBM Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” menyelenggarakan Bahtsu Masail Cawu bersama pengurus Madin (Madrasah Diniah) dengan peserta sekitar 145 santri.

Bahtsu Masail Cawu merupakan forum musyawarah khusus santri diniah untuk mengkaji lebih dalam tentang fikih Syafi’iyah. Selain itu diniah memiliki agenda bahtsul masail seperti Ma’had Aly dan STIKK.

“Melihat santri kalangan Diniah yang tidak memiliki agenda bahtsu khusus seperti halnya Ma’had Aly dengan Wasithnya, dan STIKK dengan agenda bulanannya, kami menyediakan wadah/agenda yang dikhususkan kepada para santri diniah untuk menjadi ajang pertukaran pendapat dalam mengkaji lebih dalam tentang fikih Syafi’iyah.” Jelas Ustaz Muhammad Iqbalul Hamdi, S.Pd., selaku ketua divisi I LBM An-Nur II.

Tujuan Bahtsu Masail Cawu ini untuk mengenalkan dan menanamkan budaya musyawarah sejak dini. Sisi keilmuan menjadi tolok ukur utama dalam Pondok Pesantren An-Nur dengan bahtsu masailnya. Bahkan Ustaz Ikhwanus Sobiri, M.M., selaku Humas LBM An-Nur II menyatakan ini akan menjadi agenda rutin setelah ujian catur wulan. “Insya Allah ke depannya akan dijadikan agenda rutin setalah Ujian Cawu.” Tuturnya.

Bahtsu Masail Cawu pertama ini membahas seseorang yang menaiki bus patas namun kesulitan untuk melakukan salat karena tidak ada kemungkinan berhenti sebelum sampai tujuan dan tidak ada air maupun debu untuk bersuci. Akhirnya orang tersebut mengakhirkan salatnya hingga mencapai tujuan meskipun sudah keluar waktu.

Maha Santri Ma’had Aly dan STIKK Membimbing Para Santri Diniah

Suasana Bahtsu Masail Cawu

Kakak-kakak maha santri Ma’had Aly dan STIKK yang mendampingi para santri diniah SMP atau wustho dan SMA atau Ulya membantu mereka lebih percaya diri. Bahtsu masail terkesan asing dan sulit bagi kalangan diniah. Maka dari itu panitia mengajak maha santri membantu membina santri diniah dalam memahami kitab kuning dalam menjawab di dalam bahtsu masail. Selain itu, beberapa kepala kamar juga turut andil menjadi peserta.

“Kami sebar supaya mereka para santri diniah lebih berani dalam menyampaikan pendapat (mentalnya kuat) merasa ada pendamping yang pasti membantunya.” Ujar Ustaz Hamdi. Tujuannya bisa membantu santri-santri yang mereka bimbing waktu bingung saat mendapat sanggahan dari kelompok lain. “Mereka bisa langsung tanya kepada pendamping (konsultasi) yang stand by di tempat. ” Tambahnya.

Bahtsu Masail Cawu berjalan meriah dan ramai. Saat moderator memberikan kesempatan untuk menjawab, hampir seluruh kelompok mengangkat papan namanya. Bersedia untuk memberikan argumennya masing-masing.

“Alhamdulillah saya merasa senang, melihat teman-teman santri yang antusias menyampaikan ibarot, sangkalan dan pemikirannya.” Kesan Ustaz Hamdi. Ustaz Sobirin juga memberikan harapan supaya para santri bisa menjadi inisiator keilmuan di asramanya. “Bisa menjadi penggerak di daerahnya masing-masing untuk lebih semangat mengaji dan berbahtsu masail.” Ucap Ustaz Sobirin.

Bahtsu Masail adalah Deep Learning Pondok Pesantren

Kiai Husni Mubarok, S.Ag., M.Pd.I., memberikan sambutan dalam Bahtsu Masail Cawu

Kiai Husni Mubarok, S.Ag., M.Pd.I., juga turut hadir menyaksikan berjalannya Bahtsu Masail Cawu. Dalam pembukaan sambutannya, Kiai Husni mengatakan, “Bahtsu masail niki budaya pondok pesantren yang menuntut kita berpikir secara kritis dan mendalam.” Pembahasan yang mendalam seperti itu sangat diinginkan satu dunia saat ini.

Deepwork, atau deep learning dalam istilah pendidikan, merupakan langkah mendalami suatu pembahasan. Pondok pesantren telah menggunakan tata cara ini sejak dulu sekali. “Berarti para pesantrennya sudah beberapa langkah di atas peradaban yang sedang dibangun oleh dunia saat ini.” Ucap Kiai Husni. Maka tidak heran santri bisa berpikir kritis terhadap suatu hal dan mendalaminya.

Sehingga yang paling dicari adalah orang yang bisa berpikir mendalam dan kritis. “Dadi sakniki, di mana-mana, niku dicari orang yang bisa mendalam.” Jelas beliau. Tentu santri sudah memenuhi kriteria ini. “Wong seng iso sembarang niku nggak pati digoleki sakniki.” Tambah beliau.

Kiai Husni berharap budaya kritis dan berpikir mendalam dalam bahtsu masail ini selalu santri pertahankan. “Budaya-budaya untuk berpikir mendalam, berpikir kritis, tidak hanya nggah-nggeh, bahwasane samean harus ngoyo, niku harus dipertahankan dan harus dibudayakan.” Terang beliau.

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex