Iman dan Istikamah
Perlu kita ketahui, bahwasanya Allah Swt melimpahkan segala nikmat-Nya kepada seluruh hamba-Nya dan nikmat yang paling besar di antaranya adalah nikmat iman dan Islam. Begitu juga nikmat istikamah di atas iman. Selain itu, seperti hadist yang tertera dalam kitab al-Arba’una fi at-Tashawwuf karangan Imam Abdurrahman as-Sulami, Rasulullah SAW pernah bersabda:
عَنْ عروة رضي الله عنه قال: قال سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثقفي للنبي صلى الله عليه وسلم: قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بعدك؛ قَالَ: آمَنْت بِاَللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Artinya: Dari sahabat Urwah RA. bahwa Abu Sufyan pernah bertanya kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku satu ucapan dalam Islam yang tidak akan kutanyakan lagi kepada selainmu.” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Ucapkanlah: ‘Aku beriman kepada Allah, lalu istikamahlah!”
Iman kepada Allah Swt
Iman dan Islam merupakan nikmat yang begitu besar bagi seluruh umat manusia. Karena, dengan iman dan Islam minimal kita sudah memiliki tiket ke surga. Secara bahasa iman adalah yakin atau percaya. Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama. Iman kepada Allah adalah percaya atau yakin akan keberadaannya Allah Swt.
Akan tetapi, tidak semua orang bisa merasakan nikmat iman dan Islam. Hal ini karena mereka tidak percaya akan keberadaan Tuhan yakni Allah Swt. Padahal, banyak bukti nyata yang bisa kita jangkau dengan pancaindra kita. Contohnya makhluk. Makhluk adalah sebuah ciptaan. Lalu, jika ada sebuah ciptaan pasti juga ada sang pencipta.
Karamah Tak Sebanding Istikamah
Secara bahasa istikamah adalah tegak, lurus, atau kuat pendirian. Atau pada umumnya, kita memahami istikamah adalah suatu perkara yang dilakukan secara terus-menerus tanpa putus. Akan tetapi, maksud dari istikamah dalam hadis ini tidak hanya sekadar melakukan sesuatu secara terus-menerus.
Istikamah yang dimaksud dalam hadis ini adalah istikamah terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah Swt dan istikamah dalam menjauhi segala larangan-Nya. Selain itu, istikamah merupakan suatu hal yang bukan berupa kebiasaan atau kewajiban. Melainkan, istikamah adalah hal-hal selain itu. Apabila ada kebiasaan atau kewajiban yang dilakukan secara terus-menerus itu bukanlah istikamah.
Oleh karena itu, tidak semua orang memiliki sebuah istikamah. Hal ini karena, istikamah merupakan suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Maka dari itu, hanya orang-orang tertentu saja yang kuat dan bisa menjaga keistikamahannya. Dengan demikian, pantas saja jika satu istikamah dinilai lebih baik atau lebih mulia daripada seribu karamah.
(Asleh Hamidun/Lingkar Pesantren)
