Sebagai muslim, tobat bukan lah hal yang sembarangan. Tobat adalah membersihkan dari dosa. Orang beriman seharusnya bertobat setelah melakukan dosa.
Allah tidak enggan menerima tobat umat manusia. Karena manusia akan selalu membuat kesalahan, entah tidak sengaja atau sengaja. Penerimaan tobat itu akan terjadi bila kita sadar itu salah, tidak akan mengulangi lagi dan bertobat sepenuhnya kepada Tuhan.
Hal ini sudah dijelaskan Allah dalam firman beliau:
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (Q.S. An-Nisa’: 110).
Seakan-akan manusia ingin mengambil kepuasaan saja. Tidak mau kalah dengan yang lain. Ini menyebabkan sifat iri dan dengki secara alami, kecuali orang yang beriman. Caranya sangat banyak sekali, baik itu cara buruk maupun baik.
Bagi orang sifatnya iri dan dengki, pasti ingin merasakan hal yang sama dengan orang lain. Seperti hidupnya enak, santai, dan tidak ada masalah sama sekali. Membayangkan itu, mau tidak mau, si pendengki pasti ingin menghilangkan hal itu dari orang yang lain. Contoh, si A selalu salat Tahajud. Sedangkan si B melihat si A, terasa iri. Akhirnya, si B mengganggu si A agar salat Tahajudnya hancur dan tidak melanjutkan lagi. Si B melakukan itu karena hanya karena ia merasa hal tersebut mengganggu dirinya.
Padahal, kita sesama muslim harusnya saling menjaga satu sama lain. Bukan malah mengolok-olokan orang yang sedang beribadah. Apa susahnya bersikap baik? Semenjak kita kecil, orang tua selalu mengajarkan hal-hal yang baik, bukan yang buruk, bukan?
Berbeda dengan sifat Ghibthah (lawannya sifat dengki), tapi versi lebih ramah. Menginginkan kenikmatan orang lain, tanpa tidak menghilangkan kenikmatan orang tersebut. Lebih tepatnya, berjuang untuk meraih hal yang sama dengan orang lain.
Ghibthah dalam hukum Islam hukumnya boleh. Bisa dijadikan semangat untuk meraih pencapaian. Sama halnya contoh di atas, tapi si B terinspirasi, bukan malah menghancurkan si A. Dan akhirnya ikut-ikutan salat Tahajud terus seperti si A.
Jadi, dengki dan Ghibthah sama-sama iri. Tapi, bedanya dengki itu buruk, dan Ghibthah itu baik.
(Hafis/Lingkar Pesantren)