An-Nur II Road to Holiday: Performa Memesona Menyambut Liburan An-Nur II

road, An-Nur II Road to Holiday: Performa Memesona Menyambut Liburan An-Nur II, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

“Hidup tanpa seni bagai aku tanpa kamu.” Berdiri di panggung acara lengkap dengan baju takwa, celana putih, kacamata hitam dan ikat kepala yang dikenakannya, Ustaz Khoiruddin atau akrab dipanggil Cak Din itu sanggup memeriahkan suasana pada acara unik saat itu: An-Nur II Road to Holiday yang digelar pada Selasa malam (19/04/2022).

Dengan tema yang berbeda dan mengandung keunikan, Nature of Life (alam kehidupan), pertunjukan Pensi (Pentas Seni) malam itu bertujuan untuk mengingatkan santri pada realitas hidup yang beragam. Dunia nyata dan ghaib, kebahagiaan dan cobaan, semua ada di sini. “(Dipilihnya tema ini) supaya ada suasana baru dari yang sebelumnya,” ucap Hakiki, panitia acara.

*Dari Tabuhan Rebana sampai Panggung Acara*

Mengiringi jemaah santri yang datang berdatangan secara berkala, tujuh personil tim darbuka An-Nur II menyambutnya dengan unjuk kebolehannya kebolehannya di atas panggung. Tak selang lama setelah pertunjukan dari tim darbuka, penampilan di atas pangung dilanjutkan dengan senandung selawat modern yang dimainkan oleh tim Gambus.

Pukul 21.00 WIB, dari belakang para santri, datang sebuah delman dengan satu kusir dan penumpang di dalamnya. Para santri berdiri yang tadinya duduk di atas sajadahnya, seketika berdiri sebagian sedikit berpindah tempat—membuat jalan pribadi buatan untuk delman di tengah jemaah para santri agar dapat menuju ke panggung acara.

Ketika sampai di depan panggung, seseorang penumpang di dalam delman itu pun turun perlahan dari dalam delman. Sembari melangkah pelan, ia naik ke atas panggung. Orang tersebut tak lain adalah: Cak Din, pembawa sambutan An-Nur II Road to Holiday.

“Berkesenianlah, tapi jangan melewati batas. Berkesenianlah, tapi jangan melanggar hukum syariat nabimu.” Ucap beliau, menyampaikan pesan dari Kiai Zainuddin Badruddin untuk para santri. Ucapan tersebut, selaras dengan diadakannya panggung seni yang berdiri megah pada malam itu.

Usai sambutan, dengan mengenakan pakaian ala vampir, MC menaiki panggung dan membacakan serangkaian runtutan acara.

Menapaki acara sesi pertama, muncul segerombolan anak yang menaiki panggung. Sebagian dari mereka membawa barang bawaanya masing-masing. Mulai dari keranda, lampu lilin, foto seorang pahlawan dan bendera merah putih, Indonesia. Di atas panggung, mereka membentuk sebuah formasi yang diiringi oleh lantunan instrumen dan puisi Jawa.

Tidak henti di situ, ketika acara berlanjut ke pembacaan puisi, muncul dua santri penyair berjubah hitam dan satu peraga berpakaian serba putih. Uniknya, dikarenakan puisi yang disampaikannya mengisahkan tentang seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya, seorang Peraga tersebut memvisualkan puisi yang dibaca si Penyair dengan menaiki tangga yang tersedia di di atas panggung.

Sesampainya si Peraga di tangga paling atas, para penonton pun tertegun dan sontak berteriak karena takut jika si Peraga jatuh sungguhan dalam menggambarkan seseorang yang hendak bunuh diri.

Lepas musikalisasi dan pemeragaan puisi usai, acara dilanjutkan dengan penampilan tetaer oleh kru teater KUA (Kamar Uatas A). Dikarenakan teater yang ditampilkan mengangkat tema mistis, para pemainpun beradu akting dengan menggunakan properti dan kostum yang berbau mistis pula.

Tentunya, hal tersebut menarik perhatian para santri. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya santri yang mendekat ke arah pangung karena ingin menonton pertunjukan lebih dekat.

Setelah penampilan teater berakhir, MC pun menaiki panggung, sekaligus menjadi tanda diutupnya acara terakhir bagi para santri ditahun ajaran ini.

(Riki Mahendra Nur Cahyo/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: