An-Nur II Hari Itu…

An-Nur II Hari Itu…

Langit begitu cerah hari itu, ketika saya memasuki gerbang Pondok Pesantren AN-Nur II (Pesantren Wisata). Udara terasa dingin meski matahari sedang berada di ujung cakrawala. Sabtu, 29 Juni 2019 adalah hari masuknya santri baru yang jumlahnya mencapai seribu enam ratus santri. Sejak pukul enam pagi tadi, kendaraan roda dua dan roda empat sudah ramai memenuhi pesantren di Malang ini.

Ust. Jhoni, bagian keamanan pesantren, menjelaskan ada 48 petugas gabungan yang mengatur keluar masuknya kendaraan. “Hari ini kita kerahkan 20 anggota Banser, 25 anggota keaman dan ketertiban pondok pesantren, dan tiga satpam,” kata Ust. Jhoni ketika berbincang dengan Bpk. Suparman, seorang satpam yang memantau laju kendaraan di gerbang An-Nur II.

Keadaan jalan

Keadaan jalan di lokasi pondok pesantren memang padat, namun masih bisa dikondisikan dengan baik. Ust. Jhoni memprediksikan puncak keramaian akan terjadi sampai sore, atau bahkan malam hari. “Sampai malam mungkin akan masih ramai, karena banyak orang tua santri baru yang harus mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan anaknya,” katanya.

Dari lima lokasi parkir kendaraan yang tersedia, empat di antaranya sudah penuh. Kendaraan yang baru masuk ke pesantren diarahkan ke lokasi parkir pondok putri. “Parkir di atas (pondok putri) masih lenggang,” ujar Udin, santri bagian ketertiban yang menjadi petugas parkir di lokasi tersebut.

Sebelum jauh ke Billah, asrama untuk para santri baru, terlebih dahulu saya melihat keadaan kantor yang dipenuhi wali santri baru untuk menyelesaikan urusan administrasi. Budaya tahlil dan sowan kepada pengsuh menjadi agenda sebelum akhirnya mereka diantar oleh para santri –yang bertugas ke masing-masing kamar.

Membawa barang banyak tidak menjadi masalah besar. Para santri yang bertugas mengantar juga akan membantu membawakan barang bawaan. Dengan senang hati mereka mengantar, melewati naik turunnya jalan di An-Nur II.

Di tengah perjalanan banyak saya jumpai para pengunjung dan wali santri yang berswa foto di depan taman yang bunganya bergoyang-goyang ditiup angin. Taman-taman An-Nur II adalah pemandangan baru bagi mereka, yang terlalu sayang untuk tidak diabadikan. “Tamannya bagus, hawanya juga sejuk,” ujar Ibu. Nur Indahwati, yang mengantar putri sulungnya.

Sedang keadaan wisma tamu, sudah dipenuhi wali santri sejak Jumat malam. Rata-rata yang menginap adalah mereka yang datang dari luar jawa, seperti NTB, kalimantan dan Sumatera. “Kami mungkin akan pulang besok karena pesawatnya akan berangkat hari Minggu,” ujar Bapak Romli, yang datang dari Kalimantan Barat.

Keramaian

Keramaian ada di mana-mana. Ini merupakan berkah: bagi pedagang yang berkeliling menjajahkan dagangan. Untuk semua kebutuhan santri, koprasi An-Nur II menyediakan tempat khusus yang menyediakan segala kebutuhan dari kasur, alat mandi dan alat makan hingga kitab yang akan dikaji santri baru.

Sampai di Billah, ternyata tidak seramai yang saya bayangkan. Dari beberapa kepala kamar yang saya temui, rata-rata masih belasan santri yang datang, namun jumlahnya terus bertambah seiring laju matahari yang semakin sore. “Mungkin sisanya akan datang besok, kan hari masuknya santri baru hari ini dan besok,” kata Ust. Mustaqim, kepala kamar Billah 3.

Jumlah santri di beberapa kepala kamar sedikit melebihi jumlah yang diperkirakan sebelumnya. Ust. Misbahul Huda, bertanggung jawab terhadap 54 santri. Artinya ada kelebihan 6 santri dari jumlah sebelumnya, 48. Akan tetapi, demi kenyamanan para santri, “Para kepala kamar rela berbagi kamar degan santri-santri itu,” ujarnya.

Suasana

Berbagai suasana ikut saya rasakan sejak awal sampai di asrama itu. Selain tawa para santri dengan teman-teman barunya ternyata juga tidak sedikit yang menangis karena sudah ditinggal orang tua.

Nadhim Adil, santri asal Kalimantan, terlihat sembab di pipi kanan-kirinya karena lama menangis. Namun ia hanya diam ketika ditanya perihal mengapa ia menangis. Ust. Anang Zubaidi, kepala kamarnya mengatakan ia menangis sejak ditinggal pulang orang tuanya.

Ia berasrama di kamar Al-Ghozali. Kamar berkapasitas besar itu ditempati santri-santri yang datang dari luar jawa timur. Rasa senasib tidak tahu jalan pulang, karena jauh, menjadikan perhatian tersendiri bagi kawan-kawan Nadhim.

Naufal Abid dan Adib, dari Semarang, mencoba menghibur Nadhim yang masih menangis. Berbagai guyonan mereka lontarkan untuk menghibur kawannya itu, atau juga menghibur dirinya sendiri. “Ya sebenarnya saya sendiri juga sudah kangen sama orang tua, tapi malu kalau menangis,” kata Abid. Ibunya baru pulang dua jam yang lalu ketika ditanya.

Rasa persaudaraan itu menjadikan sebuah keluarga baru bagi Nadhim dan kawan-kawannya. Karena ia yang menangis sendirian mulai reda dengan banyaknya teman yang berdatangan dan mulai berkenalan. “Hallo, nama saya faiz, orang Madura.”

(Mediatech An-Nur II/MFIH)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: