An-Nur II Hari Itu: Gegap Gempita di Panggung Seni

An-Nur II Hari Itu: Gegap Gempita di Panggung Seni

Panggung Harlah ke-40 Pondok Pesantren An-Nur II malam itu begitu gegap gempita. Lampu-lampu menyorot ke segala penjuru, menyilaukan pandangan. Ketika lampu mati dan panggung kembali gelap, Alrafif Diva baru turun dari atas panggung.

Dengan dada yang naik-turun mengatur nafas, suaranya mulai serak. Baru saja ia bersama dua temannya, Arif dan ali, menyanyikan lagu reap. Judulnya “Reap Santri Next Level”. Dengan melibatkan 35 penari latar, penonton tercengang dengan penampilan itu.

Butuh dua minggu ketiga santri tersebut mempersiapkan semuanya. Dan itu semua buah hasil dari keringatnya sendiri, “Kami membuatnya sendiri, lirik-lirik itu. Kalau lagunya kami mengkolaborasikan musik dari reaper-reaper terkenal,” katanya dengan mulai kehabisan suara.

Meski suara serak dan keringat mengucur di wajahnya, air mukanya memancarakan sebuah kepuasan. “Latihan dua minggu itu tidak sia-sia,” tutur salah seorang penari latar.

Kekompakan adalah kuncinya. Itulah keyakinan Alrafif. Sebab sebuah kolaborasi tanpa kekompakan adalah bohong. “Ya apalagi itu kolaborasi musik dengan dance,” jelasnya kemudian.

Penampilan Reap Santri dan Dance adalah satu dari rentetan penampilan bakat santri yang berhasil membuat penonton tercengang. Keceriaan mulai ketika Ust. Radea “Al-Star” meluncurkan single terbarunya, “Gerbang Biru.”

Lagu itu mudah dihafal. Sehingga hanya dengan dua kali penonton mendengarkan reffnya, mereka sudah bisa menyanyikannya bersama-sama. “Berawal dari gerbang biru, ku bisa mengenal tuhanku….”

Nada penutup belum usai, Ust. Radea langsung turun dari panggung. Dan ketika lagu benar-benar usai, semua lampu mati. Dan di kedua layar di sisi kanan-kiri panggung, menampilkan ucapan dari beberapa lapisan masyarakat dan tokoh kiai, habib, dan pejabat di Malang Raya. Yang paling membuat para santri bertepuk tangan adalah ucapan yang disampaikan Mak Mis, juru masak “legendaris” itu.

Seusai video usai, lampu panggung kembali menyala dengan sebuah kejutan: tim angklung SCA sudah siap di atas panggung. Tidak sendirian, mereka berkolaborasi dengan tim hadrah membawakan sebuah lagu religi modern, paduan selawat dan pop.

Lagi-lagi lampu mati. Kembali tampilan layar menampilkan sebuah sosok di dalamnya. Kali ini adalah para pengasuh yang memberikan motivasi dan harapan ke pada para santri. “Santri tidak hanya belajar saja, tapi juga harus berdoa untuk kemanfaatan ilmu,” seperti itulah pesan KH. Damhuji dalam video itu.

Ketika lampu sebagian lampu kembali dihidupkan, para santri benar-benar tercengang. Sekelompok santri yang mengikuti kedua kutub kelompok bela diri silat, Perisai Diri dan Pagar Nusa, sudah berbaris kuda-kuda di atas panggung.

Musik berubah menjadi gendingan jawa. Dari belakang, dua santri pembawa tiruan kepala singa, menari-nari ke atas panggung. Sementara itu, dua kutub bela diri tersebut mulai memamerkan kebolehannya. Beradu pukul dan tendang yang dikemas dalam berbagai jurus.

“Seperti itu, biasa saja saya lihatnya, sudah sering melihat,” tutur Riyan. Namun bagi santri-santri lain yang tidak pernah menyaksikan, membuat mereka meringis getir. Tidak lain karena pukulan dan tendangan yang mereka pamerkan begitu nyata.

Setelah getir melihat pertarungan yang begitu nyata, penonton kembali harus “menekan dada”. Video cuplikan ceramah Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar tahun 2015, mengingatkan kembali memori bersama beliau. Bagi orang-orang yang memang dekat dengan beliau, tak terasa telah meneteskan air mata.

Dan rasa itu diperkuat dengan penampilan drama santri setelahnya. Di akhir drama, sepasang santri membacakan prosa. Prosa itu bercerita bagaimana pesantren ini bermula. Dan sepanjang pondok ini berdiri, sepanjang itulah doa kiai.

Kembali ke awal drama, masing-masing ekstrakurikuler masuk di dalamnya. Dari ekstra membaca kitab, hingga pidato ditampilkan secara singkat-singkat. Dari Paskibra hingga Pramuka juga tampil bersahut-sahutnya. Bahkan tim Pandawa, tim parkir An-Nur II, turut unjuk gigi.

Kebolehan ini yang membuat para santri merasa tidak rugi ditakdir belajar di pesantren. Kebanggaan itu selanjutnya dilambangkan dalam lagu gubahan Ust. Radea, “Bangga Menjadi Santri.”

Tak mau kalah dengan Ust. Radea, duo ma’hadiyah, Ust. Lintar Bayu dan Ust. Irfan, turut menyanyi di atas panggung. Ingin menggambarkan keragaman pesantren, mereka berdua menyanyikan lagu “Indonesia Bersatu,” yang dipopulerkan Rhoma Irama.

“Kalau ini aku baru ngefans,” teriak Rhobit Munadi, salah seorang santri tingkat Ma’Had Aly.

Barulah tempo lagu semakin cepat ketika Alrafif Diva dan timnya mulai membawakan reaper santri itu. Meski hari semakin malam, penonton tetap bergeming di tempatnya.

Ribuan mata pun kini terpusat pada sekelompok santri yang membawakan tari piring. Uniknya, Ust. Abid turut menari dalam penampilan ini. Mengundang gelak tawa para santri.

Lantas sebelum acara ini benar usai, kelompok pilihan perkusi Marching Band An-Nur II memamerkan lagu barunya. Penampilan ini lah yang pernah mereka gunakan ketika meraih juara 2 lomba tingkat Jawa Timur.

Dan di akhir acara, tari jawa bernada “Sawangen” yang digubah liriknya, menjadi penutup yang spektakuler. Dimana waktu itu petasan disulut ke udara. Langit malam yang begitu gelap kemudian cerah benderang, baik karena petasan maupun dari para santri yang bergembira di hari lahir pesantrennya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: