An-Nur II dalam Sekotak Kaca

Pojok Pesantren

 

Pondok Pesantren An-Nur II yang seluas 17 hektare itu disulap dan dimasukkan ke dalam sekotak kaca. Kamar-kamar dan taman terilihat mungil bagai mainan anak TK. Di dalam kotak ukuran 3x2m itu, seluruh area An-Nur II dapat dilihat. Bahkan, pom bensin dan swalayan An-Nur II tak luput dari aksi sulap itu. Dan jadilah maket miniatur An-Nur II yang memukau banyak penyaksinya.

 

Adalah Barur Roji Setya, alumni An-Nur II tahun 2014 yang memimpin timnya untuk ‘menyulap’ An-Nur II dalam sekotak kaca itu. Tidak sendirian, beberapa alumni dan santri ia kerahkan untuk mengerjakan tugas yang digagas oleh Pak. Ghoza, alumni senior yang kini juga mengajar di SMP An-Nur. “Untuk tim dari santri, saya meminta Ust. Shobari (ketua ekstrakurikuler) untuk memberikan saran siapa saja santri yang terlibat dalam tim itu. lalu saya diarahkan ke Ust. Usman” terangnya kepada annur2.net pekan lalu.

 

Digagasnya pembuatan maket ini dilatarbelakangi oleh keinginan Almaghfulah KH. M. Badruddin Anwar saat dibangunnya gerbang utama pondok pesantren. “Dari (keinginan) itu, Pak Ghoza mengajukan kepada Kiai Fathul dan beliau setuju” terang Roji. “Apalagi kita ini pesantren wisata, adanya maket itu harus ada”, tambahnya.

 

Roji sendiri kini adalah mahasiswa UIN (Universitas Islam Negri Malang) di jurusan arsitek. Sambil kuliah, lelaki berkaca mata itu juga mengajar di SMP An-Nur sebagai guru seni. Ia masuk An-Nur II di tahun 2008 dan keluar tahun 2014. Cita-citanya masuk di STIKK An-Nur II terhalang lantaran Kiai Badruddin, saat itu, menyuruhnya untuk melanjutkan pendidikan di perkuliahan. Cerita ini dituturkan oleh Zidny Zain Naufani, salah seorang santri yang mendampinginya membuat maket.

 

Proses Siang-Malam

 

Merupakan pengalaman pertama, tim itu membutuhkan waktu 3 bulan untuk menyelesaikan tugasnya. Karena terbentur kegiatan pesantren yang cukup padat, Roji CS mengambil jam tidur untuk mengerjakan di perpustakaan SMP An-Nur. “Maksimal kita mengerjakan sampai jam 12 malam, karena besok masih harus berangkat sekolah”, ujar Fani, santri kelas 6 Diniyah yang turut dalam ‘penyulapan’ itu. Selain itu, beberapa kali, di hari Jum’at Fani mengaku melanjutkan pengerjaan sebelum salat Jum’at di kantor Media-Tech An-Nur II.

 

Mula-mula, M Zainur Raziqin, yang juga alumni An-Nur II tahun 2014, membuat lanskap pondok pesantren dengan bantuan Google Maps. Gambar-gambar bangunan kecil dan jalan-jalan setapak tak terlewatkan. Dari lanskap itu, dibuatlah daftar bangunan dan taman-taman yang akan dibentuk.

 

Bahan-bahan yang digunakan pun sudah memenuhi standard pembuatan maket. Atap-atap bangunan dibuat dari PVC, dan rerumputan yang hijau itu dibuat dari serbuk kayu yang dicat. Namun, karena mereka santri, beberapa potongan bangunan dibuat dari bahan seadanya. “Untuk membuat kubah masjid itu, kita pakai potongan kasur bekas”, ujar Fani. Meskipun begitu, sama sekali tidak mengurangi nilai estetika karena dibuat sedetail mungkin.

 

Meski hanya Roji yang tercatat sebagai mahasiswa jurusan arsitek, setiap bangunan, jalan dan taman dibuat dengan skala yang diperhitungkan. Menurut Roji, maket itu dibuat dengan skala 1:200.

 

Soal biaya pembuatan, Roji menyatakan, menghabiskan dana kisaran 11 juta, dengan rincian, 5,5 juta untuk pembuatan maket, dan 5,5 juta untuk membeli meja dan kotak kaca. “Semua pendanaan ini dibiayai oleh SMP An-Nur. Ini juga persembahan SMP An-Nur untuk pondok pesantren”, akunya.

 

Menuai Banyak Apresiasi

 

Adanya maket yang diletakkan di makam pengasuh ini, banyak menuai apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari salah satu pejabat pimpinan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pusat yang sempat berkunjung ke An-Nur II beberapa minggu yang lalu. Melalui penuturan Kiai Fathul, beliau terkesan dengan maket itu. “Orangnya bilang, ‘saya habis lihat maket di salah satu pesantren lain, saya lihat bagus, tapi setelah lihat yang ini, ini yang terbagus’”, ujar Kiai Fathul menirukan salah satu pejabat OJK tersebut.

 

Apresiasi lain juga datang dari salah satu bule Amerika yang berkunjung ke An-Nur II satu minggu yang lalu, Sam namanya. “Its looks good, how to make it so detail like this (ini bagus, bagaimana cara membuat begitu detai seperti ini?)” ujarnya sebelum berkeliling ke area An-Nur II.

 

Maket ini merupakan salah satu cita-cita Kiai Badruddin Anwar yang satu per satu mulai terwujud. Meskipun beliau telah tutup usia.

 

(MFIH/Miqdad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: