An-Nur II Hari Itu: 4 Dekade Mencetak Salihin-Salihat

An-Nur II Hari Itu: 4 Dekade Mencetak Salihin-Salihat

An-Nur II hari itu, gegap gempita. Malam begitu gemerlap, segemerlap segenap hati para santri yang berbodong-bondong merayakan hari lahir pesantrennya.

An-Nur II hari itu, Senin, 26 Agustus 2019, genap sudah 4 dekade mencetak salihin-salihat. Sebuah perayaan adalah bentuk syukur atas nikmat Allah yang diberikan ke pada An-Nur II sejak pertama berdiri.

“Pesantren ini didirikan bukan dengan gunting pita, tetapi dengan tangisan dan munajad kepada Allah,” ujar Kiai Zainuddin yang beliau sampaikan dalam sambutan di awal acara. Dan dalam kesan-pesan pengasuh, Dr. KH. Fathul Bari, beliau menyampaikan bahwa ada suka-duka membangun dan meneruskan kiprah pesantren dalam mendidik para santri.

Seperti malam itu. Serangkaian acara seperti digambarkan tentang suka-duka Pondok Pesantren An-Nur II di usia ke-40 tahun ini. “Ini adalah acara terspektakuler dalam sejarah An-Nur II,” ujar Kiai Zainuddin dalam sambutannya.

Bagaimana tidak, kelucuan santri di atas panggung membuatnya terpingkal-pingkal, sedang membuka memori tentang Kiai Badruddin adalah saat yang sulit untuk menahan air mata. Seperti kata ketua panitia bagian acara, Ust. Faizuddin, “Acara ini salah satu tujuannya untuk lebih mengenalkan An-Nur II ke pada para santri dan untuk yang sudah alumni, mereka tidak lupa akan pondoknya.”

Dari “Panggung Zainuddin” hingga Pesantren Modern An-Nur II

Sebelum ketua panitia, Ust. Irfan, berdiri di atas panggung dan menyampaikan segala bentuk terima kasih untuk seluruhnya, acara bermula dari pembacaan yasin dan tahlil serta do’a bersama pengasuh dan Syekh Fadhil Al-Jailani. Acara itu digelar untuk mendoakan Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar di makam beliau.

Setelah itu baru lah beliau bersama seluruh jajaran pengasuh, berjalan beriringan ke lokasi acara: lapangan barat. Saat itu para santri, secara berangsur-angsur memenuhi tempat yang telah di sediakan. Di tangan para santri itu, ada sebuah senter kecil berwarna-warni.

Dalam pra acara itu, grup SCA Senior membawakan beberapa lagu pengantar. Dan setelah itu, tiba-tiba semua gelap dan sunyi. Tinggal suara diesel listrik saja yang terdengar masih berputar.

Sayup-sayup lalu terdengar bunyi mirip percakapan lewat Handy Talky. “Lighting ready…soud ready…everyone ready….” Lalu sirene berbunyi, lewat dua layar besar di kanan dan kiri panggung, cretive slide logo Harlah ke-40 ini ditampilkan.

Lalu, disusul sebuah teks yang menceritakan secara singkat perjalanan An-Nur II sejak awal didirikan hingga kini. Seusainya, lampu panggung kembali dihidupkan, tampak tiga pembawa acara sudah berdiri di atas panggung. Masing-masing dari mereka membawakan acara dengan tiga bahasa: Arab, Indonesia, Inggris.

Yang pertama tampil di panggung, tentu saja setelah MC, adalah Kiai Zainuddin. Mewakili majelis keluarga, beliau memberikan sambutannya. Seperti orang yang sedang merayakan ulang tahun, beliau begitu bahagia malam itu. “Saking bahagianya, saya menulis sebuah coretan hati,” tutur beliau. Coretan hati itu menggambarkan An-Nur II dalam 4 dekade ini.
“40 tahun mencetak salihin-salihat,
40 tahun bukan waktu yang sebentar, butuh tangisan dan mujahadah,
40 tahun dimana Nabi SAW diangkat menjadi nabi,
40 tahun waktu yang keramat demi menggapai syafaat,
40 tahun, dari satu santri menjadi seribu, dari dua menjadi dua ribu, dari tujuh menjadi tujuh ribu,
40 tahun inilah, An-Nurku, An-Nurmmu, An-Nur dua.”

Syair itu menutup sambutan yang beliau sampaikan. Dan agaknya 40 menit itu adalah “panggung Zainuddin”. Karena setelahnya, Kol. Inf. Zainuddin, Komandan Korem 083 Baladhika Jaya, naik ke atas panggung dan menyampaikan rasa terima kasih ke pada Pondok Pesantren An-Nur II yang telah memberikan sambutan begitu meriah.

KH. Fathul menyampaikan bahwa Kiai Badruddin begitu senang ketika didatangi seorang tentara. Maka dari itu, setelah KH. Fathul memukul gong tiga kali, sebagai tanda ditutupnya serangkaian acara Harlah ke-40 ini, Let. Kol. Zainuddin kembali diminta naik ke atas panggung dan menerima tanda kehormatan: menerima potongan ujung tumpeng.

Kemudian, Syekh Fadhil yang datang langsung dari Turkey untuk memenuhi undangan ini, memberikan banyak tausiyah ke pada semua santri. Dari situ kita tahu betapa tingginya derajat seorang pencari ilmu. “Keilmuan umat Nabi Muhammad itu setara dengan keilmuan para nabi bani Israil,” tutur beliau dalam bahasa Arab.

Lantas di akhir nasihatnnya, beliau memberikan tiga wasiat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sebelum kewatan beliau di usia 91 tahun. “Wasiat beliau yang pertama adalah ilmu, yang kedua ilmu, dan yang ketiga juga ilmu.”

Sekali lagi, sebelum panggung benar-benar gegap-gempita oleh penampilan bakat-bakat para santri, KH. Fathul naik ke atas panggung. Dengan wajah yang begitu berseri-seri, beliau sangat berterima kasih ke pada seluruh pengurus yang telah mendedikasikan dirinya untuk pesantren ini. Dan yang terpenting, beliau membawakan sebuah kabar gembira: sedang didirikan Pondok Pesantren Modern An-Nur II di Desa Gading, Malang.

Seusai seuntaian do’a yang dibacakan Kiai Syamsul Arifin, acara berganti dengan penampilan bakat ratusan santri pilihan. Saat itulah, panggung benar-benar gegap gempita.

(Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: