Amul Huzni: Tahun Kesedihan dan Ujian Berat Dakwah Rasulullah Saw.

Nabi Muhammad saw., sangat sedih saat Amul Huzn (Tahun Kesedihan)

يَا خَيْرَ مَنْ يَّـمَّمَ الْعَافُوْنَ سَاحَتَهُ ۞ سَعْيًا وَّفَوْقَ مُتُوْنِ الْأَيْنُقِ الرُّسُمِ

“Wahai sebaik-baiknya manusia, para pencari kebaikan menuju kediamannya. Dengan berjalan kaki atau unta yang cepat berlari.” (Qasidah Burdah: 105)

وَمَنْ هُوَ الْاٰيَةُ الكُبْرَى لِمُعْتَبِرٍ ۞ وَمَنْ هُوَ النِّعْمَةُ الْعُظْمَى لِمُغْتَنِمِ

“Wahai nabi yang menjadi tanda besar bagi orang orang yang berpikir, berangan-angan, dan nikmat paling agung bagi orang yang pandai mengambil keberuntungan dari sejarah Nabi Muhammad Saw.” (Qasidah Burdah: 106)

***

Nabi Muhammad Saw., selama menjalani dakwahnya selalu mendapati kesulitan yang merintang. Salah satu kesulitan terbesar yang dihadapi berada pada tahun kesepuluh kenabian.

Awal permulaan kesedihan pada saat kewafatan istrinya, Khadijah binti Khuwailid, seseorang yang setia menemani setiap langkah dakwah Nabi. Kemudian kesedihan itu menjadi lebih dalam dengan kewafatan pamannya, Abu Thalib di tahun yang sama.

Tahun yang penuh kesedihan Nabi ini dikenal dengan Amul Huzni. Wafatnya pilar pembela, Abu Thalib, Nabi Muhammad mendapat tekanan dan penindasan yang lebih pedih daripada sebelumnya selama bersama sang paman.

Tidak berhenti di sini saja. Nabi Muhammad saw., pergi ke Thaif untuk mencari bantuan dan mengajak penduduk di sana masuk Islam.

Tetapi bukan sambutan gembira yang beliau dapati. Melainkan, cecaran dan siksaan dari penduduk Thaif menambah lubang sakit Nabi pada tahun tersebut.

Momentum Kembalinya Semangat Nabi

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

Artinya: “Maha suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)

سَرَيْتَ مِنْ حَرَمٍ لَيْلًا إِلَى حَرَمٍ ۞ كَمَا سَرَى الْبَدْرُ فِيْ دَاجٍ مِّنَ الظُّلَمِ

“Di kala malam engkau berjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Bagai purnama yang berjalan menembus malam gulita.” (Qasidah Burdah: 107)

وَبِتَّ تَرْقَى إِلَى أَنْ نِلْتَ مَــــنْزِلَةً ۞ مِنْ قَابِ قَوْسَيْنِ لَمْ تُدْرَكْ وَلَمْ تُرَمِ

“Dan pada malam itu engkau terus naik hingga meraih kedudukan tertinggi, pada jarak sedekat dua busur panah, suatu derajat yang tak pernah digapai dan diimpikan oleh siapapun selainmu.”  (Qasidah Burdah: 108)

***

Pada malam 27 Rajab tahun kesepuluh kenabian Allah memberikan hadiah yang sangat agung untuk menghibur Nabi Muhammad Saw. Sebuah perjalanan malam yang penuh kemuliaan.

Perjalanan Isra (dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha) dan Mikraj (dari Masjidil Aqsha naik ke Sidratul Muntaha) dalam sekejap (tidak sampai mendingin tempat tidur nabi) merupakan manifestasi keagungan Allah Swt.

Dalam perjalanan ini Allah menunjukkan derajat luhur Nabi Muhammad. Di antaranya: Saat salat berjamaah dengan para nabi lainnya di Masjdil Aqsha, Nabi Muhammad ditunjuk sebagai imam oleh Malaikat Jibril.

وَقَدَّمَتْكَ جَمِيْعُ الْأنْبِيَـــآءِ بِهَـــا ۞ وَالرُّسْلُ تَقْدِيْمَ مَخْدُوْمٍ عَلَى خَدَمِ

Artinya: “Para nabi dan utusan mempersilahkan anda di depan. Laksana penghormatan pelayan kepada sang majikan.”  (Qasidah Burdah: 109)

Selain menjadi imam para nabi terdahulu, Nabi Muhammad saw., mendapat kemuliaan dengan perjalanan menuju langit hingga Sidratul Muntaha. sesuai dengan keterangan Imam Al-Bushiri dalam bait Qasidah Burdah:

وَأَنْتَ تَخْتَرِقُ السَّبْعَ الطِّبَاقَ بِهِمْ ۞ فِيْ مَوْكِبٍ كُنْتَ فِيْهِ صَاحِبَ الْعَلَمِ

Artinya: “Engkau tembus langit tujuh petala bersama para rasul dan anbiya’. Dalam kumpulan malaikat Allah Ta`ala engkaulah menjadi pemimpinnya”  (Qasidah Burdah: 110)

Setelah itu beliau mendapatkan setinggi-tingginya derajat kemuliaan, suatu pertemuan sayyidul makhluqat dengan Allah sang Khaliq. Perbedaan mencolok terjadi di antara pertemuan Nabi Muhammad dan Nabi Musa as.

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

Artinya: “Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.”

Di lembah suci Thuwa, Nabi Musa melepas alas kakinya sebagai tanda hormat. Namun, pada malam Isra Mi’raj, Nabi Muhammad saw., melintasi batas langit hingga Sidratul Muntaha tanpa harus melepaskan sandalnya. Inilah manifestasi kemuliaan yang Allah berikan kepada kekasih-Nya, sebuah bentuk penghormatan yang melampaui logika manusia.

Amul Huzni dan peristiwa Isra Mikraj mengajarkan bahwa di balik ujian yang paling pedih, selalu ada fajar kebangkitan yang Allah siapkan. Kehilangan pelindung dan penindasan keji di Thaif bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik balik batin yang mengantarkan Nabi Muhammad menuju derajat kemuliaan yang lebih tinggi.

Maka setiap cobaan pedih dan kehilangan yang menyesakkan dalam hidup bukanlah tanda kehancuran, melainkan cara Allah menempa batin untuk mencapai kebangkitan yang lebih mulia. Peristiwa Isra Mikraj menjadi bukti bahwa di balik kezaliman manusia yang menghimpit, selalu ada manifestasi kebesaran Allah yang siap memberikan kemuliaan tak terhingga bagi mereka yang teguh bersabar. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٣

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU