Amanat Untuk Jamaah Haul ke-28 KH. Anwar Nur

Nanti, akan tiba umat yang memiliki iman luar biasa. Melebihi imannya para sahabat bahkan malaikat. Mereka adalah orang-orang yang memercayai Nabi Muhammad, meskipun tidak pernah bertemu. Begitulah kiranya sabda Nabi yang disampaikan Dr. KH. Fathul Bari, M. Ag kepada ulama’-umara’ pada peringatan Haul KH. Anwar Nur ke-28.

Agenda rutin tiap dua tahun sekali itu, pada Ahad (18/11), berlokasi di Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) dengan persiapan selama sepekan lebih. Dalam peringatan tersebut, ribuan jamaah datang, termasuk tamu undangan spesial, Prof. Sayyid Muhammad Fadhil Al-jilani Al-Hasani.

Siang hari, Cendekia asal tanah Turki itu, menyampaikan amanat di hadapan warga An-Nur untuk yang ketiga kalinya. Sedangkan pada 3 Oktober 2017 lalu, merupakan kunjungan kedua untuk menziarahi Roudoh Alm. KH. Badruddin Anwar.

Setujukah Rasul Dengan Peringatan Haul?

Sebagai umat Rasul Muhammad SAW, kurang elok jika tidak meniru keteladanannya. Bukan hanya itu, kita juga dituntut mengerti dalil sunnah secara pasti. Oleh karenanya, bersamaan dengan Haul ini, “Saya akan mengulas terkait Hukum Membaca Al-Quran, Tahlil dan Shalawat untuk para mayit,” tukas profesor kelahiran desa Kurtalan Turki, yang duduk berdamping Dr. KH. Fahrur Rozi sebagai penerjemah.

Dahulu, kisahnya, seusai Fathu Makah (Peresmian Kota Makah) Rasul meminta sahabat mendirikan tenda dekat makam sang istri, Siti Khadijah. Tidak lain supaya lebih sering mendoakan para pendahulunya. Saat itu pula, Rasul juga sempat menziarahi almarhum pamannya, Sayyid Hamzah. Pejuang Uhud yang berjuluk Singa Allah itu, dikebumikan di bukit Uhud bersama syahid lain. Tiap hari kamis usai Ashar beliau pergi ziarah. Dan karena sangat rindu, beliau ingin makam pamannya itu dialihkan ke Madinah, kota barunya. Anehnya yang terjadi, bukit Uhud mengatakan pada nabi akan mengikuti kemanapun jasad Sayyid Hamzah berada.

Peristiwa semacam ini merupakan bukti kuasa Allah. Seperti yang termaktub dalam Surat Ali Imran: 169, bahwa “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki”.

“Kisah (tentang paman nabi) ini berdasarkan hadist yang sahih juga sangat masyhur”. Tegas Profesor yang terlahir sebagai cucu ke-23 Waliyul Kutub, Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani.

Sementara itu, Dr. KH. Fathul Bari, M. Ag, berdasarkan hadist Rasul, menyampaikan bahwa “Peringatan Haul tidak menyimpang dari sunah nabi. Sebab nabi sendiri meminta agar kebaikan ulama’, seusai wafatnya, selalu diingat.” Dan “Haul seperti ini bukan termasuk bid’ah”. Tegas Dr. KH. Arif Zamhari, yang menggantikan podium abah mertuanya, Alm. KH. Hasyim Muzadi.

Memuliakan Mayit

Di alam kubur, manusia masih menerima jatah pahala dan tentu rekapan dosa. Amal sejak ia hidup menjadi penunjang masa penantiannya di alam barzah kelak. Dan sesuai hadist, ada tiga amal yang tidak terputus hingga Yaumil Hisab. Yakni, Shodaqoh jariyah, ilmu manfaat serta anak yang salih. Begitupun dengan kejelekan semasa hidup yang tetap menjadi koleksi (bekal) menuju akhirat.

Oleh karena mayit tidak mampu beribadah atau menambah hitungan pahala, semestinya keluarga dan kerabat selalu menyumbangkan hadiah untuk leluhurnya. Bisa dengan membaca Al-Quran, utamanya surat Yasin, atau Tahlil, shalawat dan sebagainya. “Minimal satu kali seminggu. Kalaupun sibuk, sekali dalam sebulan atau enam bulan sekali. Bahkan sekali saja dalam satu tahun”. Pesan Profesor yang telah menerbitkan Karya berkisar 50 judul kitab selama 40 tahun terakhir.

Mayit dalam liang lahat selalu menjawab salam kita saat berziarah. Hanya saja pendengaran kita terbatas karena hijab. Kecuali para shalihin, seperti yang terjadi pada Sayyid Muhammad Shiddiq, kakek Prof. Sayyid Fadhil Al-Jilani, yang mendapat jawaban salam serta mencium tangan nabi Muhammad waktu berziarah.

“Dan ketika berziarah, hendaknya kita mengahdap mayit (membelakangi kiblat). Sebagai wujud akhlak kita,” tutup tokoh besar Turki, yang menjabat sebagai mursyid agung Thariqah Qadiriyah Aliyah selain juga menjadi guru besar di berbagai Universitas Internasional.

(Ilham Romadhan/Media-Tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: