Al-Qur’an Mengkaji Ujaran (II)

Al-Qur’an Mengkaji Ujaran (II)

Masih dalam diskusi tentang tata-ujaran apa saja yang Al-Qur’an sampaikan, penulis ingin memberikan sedikit fakta bahwa pada dasarnya, semua yang kita dengar adalah opini, sebelum kita mengetahui secara pasti kebenarannya. Sangat disayangkan ketika kemudian banyak dari kita tergesa- gesa untuk memvonis sesorang dengan berbagai ujaran yang pada akhirnya akan membuat kita malu sendiri karena kesalahan kita untuk tidak klarifikasi.

Baik, sedikit pembukaan tadi mengawali bincang kita hari ini. Mari kita simak kembali bagaimana al-Qur’an berbicara tentang ujaran…

Qaulan Kariman.

Dalam Bahasa Arab, kariman bermakna baik. Kata ini tersusun dari kaf, ra’, mim yang menurut beberapa pakar mempunyai makna mulia dan baik dari segi objeknya. Dalam literatur Arab, ketika disebut rizqun karim, ia berarti mempunyai makna rezeki yang diperoleh dari pekerjaan yang baik baik lagi halal. Ketika kata karim dikaitkan dengan kata akhlaq, ia akan mempunyai makna pemaafan. Begitulah pernyataan Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah nya.

Al-Qur’an menyebut kata ini sekali, yakni dalam Al-Isra’ ayat ke 23. Sebuah rahasia umum, ayat tersebut memberikan sebuah pesan tentang tata krama kepada orang tua. Ada yang hafal Al-Isra’ ayat 23 ?. berikut ayatnya,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

Dalam menafsiri ayat tersebut, Abu Ja’far Ibn Jarir mengatakan bahwa qaulan karima adalah “ucapan yang baik lagi indah”. Menurut beliau, perintah itu adalah sebuah ‘solusi’ dari larangan untuk berkata uff kepada orang tua. Uff sendiri, menurut Imam Kisa’i adalah sebuah ungkapan yang mampu membuat hati tertekan sehingga secara tidak langsung membuat perasaan orang yang diajak bicara menjadi tersinggung (gelo, jawa).

Baca juga  JAMINAN SHOLAT SUBUH

Kembali kepada qaulan kariman, Dalam konteks ayat tersebut, Tafsir al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, “Qaulan Karima bisa diaplikasikan dengan memanggil kedua orang tua dengan panggilan-panggilan yang sopan lagi menyenangkan”. Dengan pemahaman yang demikian, saat kita memanggil sesorang, terlebih orang tua, dengan nama atau julukan yang ia sukai, secara tak langsung kita telah berbuat mulia kepada orang tersebut.

Atau, sebuah keterangan unik penulis temukan dalam Tafsir ad-Duror al-Manstur milik Jalaludin as-Suyuthi. Dengan menyetir sebuah hadist, beliau menyatakan,

وأخرج سعيد بن منصور ، وَابن أبي شيبة ، وَابن المنذر ، وَابن أبي حاتم عن عروة رضي الله عنه في قوله : {وقل لهما قولا كريما} قال : لا تمنعهما شيئا أرادا.

وأخرج عبد الرزاق في المصنف عن الحسن رضي الله عنه أنه سئل ما بر الوالدين قال : أن تبذل لهما ما ملكت وأن تطيعهما فيما أمراك به إلا أن يكون معصية.

Sesuai dengan riwayat di atas, maksud qaulan kariman adalah “menuruti semua apa yang diinginkan orang tua”. Sesuai dengan jawaban Sy. Hasan Ibn Ali r.a ketika ditanya oleh seseorang, “Bagaimana bentuk bakti saya kepada orang tua?”, beliau menjawab, “Bakti adalah pengorbanan mu kepada mereka yang tiada habisnya, dan mewujudkan semua keinginannya, selama tidak melanggar larangan-Nya.”

Pada intinya, apa yang disebutkan oleh para ulama tadi  diringkas dengan jelas oleh Ibn Katsir,

ولما نهاه عن القول القبيح والفعل القبيح، أمره بالقول الحسن والفعل الحسن فقال: { وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا } أي: لينًا طيبًا حسنًا بتأدب وتوقير وتعظيم.

Yang pada intinya, setelah Allah melarang kita untuk berbuat buruk dan berkata kotor, Ia memerintahkan kita untuk berujar secara karim, yang berarti lemah lembut, baik, atau berkesan dengan disertai rasa rendah hati dan menghormati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: