Terbaru

AHLAN YA SHAFAR

By on 3 Desember, 2014 0 27 Views

DR.KH. Fathul Bari, SS.,M.Ag

Alhamdulilah alvers sekarang ini kita telah memasuki bulan Shafar. Banyak orang awam menyangka bahkan ada yang percaya bahwa bulan Shofar adalah bulan sial atau bala bencana. Kepercayaan ini bermula pada masa jahiliyah, mereka beranggapan bahwa bulan Shafar merupakan bulan yang penuh bencana dan musibah, sehingga mereka menunda segala aktivitas karena takut tertimpa bencana. Untuk menolak kepercayaan salah seperti ini maka sebagian ulama

menamakannya dengan “SHOFARUL KHOIR” yang berarti bulan Shofar yang penuh kebaikan. Rasulullah SAW menolak penyimpangan akidah itu dengan sabda beliau :

لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر

“Tidak ada “adwa” penularan penyakit, tidak diperbolehkan “tiyarah” meramalkan adanya hal-hal buruk, tidak boleh “hammah” berprasangka buruk dan tidak ada keburukan dalam bulan Shafar.” (HR Bukhari Muslim)

Kita fokus pada masalah yang terakhir, (karena yang lainnya insyaAllah kita akan bahas pada status selanjutnya). Kata “Walaa Shafara” yang berarti tidak ada keburukan dalam bulan Shafar. Menurut Islam, semua bulan dan hari itu baik, masing-masing mempunyai sejarah, keistimewaan dan peristiwa sendiri-sendiri. Jika bulan tertentu seperti bulan Romadlon memiliki keistimewaan dengan adanya peristiwa Nuzul al Qur’an dan Lailat al Qodar, dan bulan Rojab ada Isro’ dan Mi’roj serta bulan Robi’ul Awwal ada peristiwa Maulid Rasulullah SAW bukan berarti bulan yang lain merupakan bulan yang buruk. Jikalau ada peristiwa yang memilukan dalam sebuah bulan, itu bukan berarti bulan tersebut merupakan bulan musibah yang penuh kesialan. Namun itu semua mestinya lebih mendorong kepercayaan kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk dan kita tidak mengaitkannya dengan kesialan suatu hari atau bulan tertentu. Disabdakan oleh Nabi saw :

قال الله عز وجل : يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر بيدي الأمر أقلب الليل والنهار

“Allah azza wajalla berfirman : “Anak adam (manusia) menyakiti Aku, mereka mencaci masa, padahal Akulah (pemilik) masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti”. [HR Bukhari]

Dahulu pada zaman Jahiliyah, bulan Syawal diyakini sebagai bulan wabah penyakit, karena pernah terjadi banyak orang mati pada bulan syawal khususnya dari kalangan pasangan pengantin pada bulan itu, dan beberapa pasangan tidak memiliki keturunan. Maka sejak itu Alvers mereka tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal karena terkena musibah. Keyakinan seperti ini ditentang Nabi Muhammad SAW. Sayyidah Aisyah RA berkata:

تزوجني رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال وبنى بي في شوال فأي نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم كان أحظى عنده مني

“Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang lebih beruntung daripada saya?”  [HR Muslim]

Al-Imam Ibn Hajar al Haitami berpendapat dalam kitabnya Fatawa Al Haditsiyah jika ada orang mempercayai adanya hari nahas (sial) dengan tujuan berpaling darinya atau menghindarkan suatu pekerjaan pada hari tersebut dan menganggapnya terdapat kesialan,

وَأَن ذَلِك من سنة الْيَهُود لَا من هدي الْمُسلمين المتوكلين على خالقهم وبارئهم الَّذين لَا يحسبون وعَلى رَبهم يَتَوَكَّلُونَ،

maka sesungguhnya yang demikian ini termasuk tradisi kaum Yahudi dan bukan sunnah kaum muslimin yang selalu tawakkal kepada Allah dan tidak berprasangka buruk terhadap Allah. Sedangkan jika ada riwayat yang menyebutkan tentang hari yang harus dihindari karena mengandung kesialan, maka riwayat tersebut adalah bathil, tidak benar, mengandung kebohongan dan tidak mempunyai sandaran dalil yang jelas, untuk itu jauhilah riwayat seperti ini.

Jadi kesimpulannya alvers bahwa dalam ajaran islam semua hari adalah baik, dan masing-masing ada keutamaan tersendiri maka hari dimana kita menjaganya dan mengisinya dengan kebaikan dan ketaatan itulah hari yang sangat menggembirakan dan hari raya buat kita. Seperti dikatakan oleh kholifah umar bin abdil aziz,

وكل ُ يومٍ لانعصي الله فيه فهو لنا عيد

setiap hari dimana aku tidak bermaksiat kepada Allah pada hari itu, itulah hari rayaku.

Dan sebaliknya alvers, kesialan kita sesungguhnya adalah hari dimana kita melalaikan kewajiban bahwa melakukan maksiyat kepada sang khaliq Allah swt. Semoga Allah menjadikan setiap hari dari sisa umur kita bernilai karena ketaatan kita dan keberkahanNya. Wallahu A’lam Bis Shawab.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: