Ahad Legi Terakhir: Spesial dan Pesona Datangnya Keturunan Syekh Abdul Qadir  

Dibarengi suasana rintik-rintik hujan, lantunan merdu dari pembacaan selawat dan iringan tabuhan rebana yang dimainkan grup Al-Banjari Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) pagi itu seakan menyambut datangnya jemaah Ahad Legi yang berdatangan (06/13/22). 

“Ahad Legi ini spesial,”  kesan Farel, santri kelas satu SMA. Bagi Farel, acara pengajian rutin ini tak seperti Ahad Legi pada umumnya—kali ini, ada sesuatu yang spesial: kedatangan Prof. Dr. Syekh M. Fadhil, cucu ke-25 dari Sultonul Auliya’, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.

Setelah dibuka kembali secara eksternal untuk khalayak umum pada 30 Januari, 2022, kini acara pengajian Ahad Legi tersebut dibuka lagi secara eksternal untuk yang kedua kalinya. Bedanya, ini adalah Ahad Legi terakhir sebelum agenda pemulangan pergantian tahun ajaran santri An-Nur II.

Menjadi acara Ahad Legi terakhir sebelum pemulangan santri, bukan berarti pengajian kali ini kekurangan pesona meriahnya—melainkan sebaliknya. Kehadiran dari tamu yang tak disangka dan dapat berkumpul serta bertatap muka, membuat ketertarikan para santri dan jemaah menjadi semakin bertambah: “Keren”, itulah kesan Zaidan Taqi, santri An-Nur II yang melihat tokoh karismatik Islam, Syekh Fadhil hari itu.

Selang beberapa waktu, setelah lantunan selawat Al-Banjari usai, KH. Fadhol Ahmad Damhuji pun melanjutkan sesi acara dengan mengaji kitab Bidayatul Hidayah menyampaikan kepada para jemaah.

Pada kesempatan kali itu, beliau menyampaikan perihal ilmu nafi’ (bermanfaat) serta ragam kemuliaannya. Orang yang memiliki ilmu manfaat pastilah tak lepas dari usaha belajarnya yang keras.

Dan jika orang tersebut telah mendapatkan ilmu manfaat sebagaimana mestinya melalui usahanya, maka orang tersebut akan mendapatkan kemuliaan dengan sendirinya. Tanpa perlu mengkoar-koarkannya.

Beberapa saat kemudian, sesi acara berpindah ke pembacaan Tahlil dan Istigasah Ahad Legi, pembacaan ayat suci Al-Quran, pengumuman-pengumuman dilanjut dengan sambutan dari Kiai Zainuddin.

Mengenalkan sosok Syekh Fadhil, dalam sambutannya, Kiai Zainuddin pun berusaha menggambarkan sosok penggila ilmu yang telah berkeliling dunia demi mencari manuskrip-manuskrip Syekh Abdul Qadir itu, melalui syiir-syiir yang beliau sampaikan lengkap dengan terjemah bahasa Indonesianya.

Mulai dari madzab yang beliau ikuti, sanad, rekam jejak perjuangannya dan aneka kemuliaan lainnya, Kiai Zainuddin banyak mengulas jati diri Syekh Fadhil secara dhohir dalam syiir tersebut.

Seusai Kiai Zanuddin lekas memberikan sambutannya, beliau pun trurn podium dan sesi beranjak ke acara utama: tausiah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Berjalan perlahan dengan santun ditemani masyayikh dan habaib, Syekh Fadil mulai menaiki panggung acara dan menempati tempat yang telah disediakan oleh panitia. Kemudian diikuti oleh masyayikh yang duduk di belakangnya.

Sebagai penerjemah bahasa, Kiai Fahrur Rozi (pengasuh An-Nur 1) duduk berdekatan dengan beliau dan menyampaikan seluruh dari apa yang dikatakan Syekh Fadhil secara jelas dan lugas.

Dari sekian panjang tausiah yang disampaikan oleh Syekh Fadhil, semua materi yang beliau sampaikan merujuk pada satu tema: wanita salihah. Lebih tepatnya, sedikit mengulas riwayat hidup tiga wanita hebat dalam Islam: Fatimah Az-Zahra, Ummul Khoir Fatimah dan Sayidah Nafisah.

Setelah lama menyampaikan tausiah, acara pengajian rutin Ahad Legi itupun ditutup dengan pemberian ijazah dan doa yang langsung disampaikan oleh Syekh Fadhil. Kompak mengangkat tangan, semua santri dan jemaah tersebut serempak mengamini doa dari seorang waliyullah itu.

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech An-Nur II)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II