Ahad Legi Perdana, Seusai Pemulangan Santri An-Nur II

NgajioAhad Legicek dadi wong apik,” tutur Kiai Imam Muslim dalam mauidhoh hasanahnya di acara Ahad Legi perdana seusai liburan pemulangan santri (26/12/2021). Seperti pada acara Ahad legi sebelumnya, kali ini pengajian rutin tersebut masih dikhususkan pada jemaah interna: para santri.

Mulai pukul tujuh pagi, tim Al-Banjari Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) telah melantunkan selawat lengkap dengan tabuhan rebana yang mereka mainkan. Di serambi Masjid An-Nur II, tim Al-Banjari tersebut menyambut para jemaah santri yang berdatangan demi mengikuti acara.

                Tak lekas di situ, setelah regu Al-Banjari santri di jenjang Mahasantri berseragam hitam itu turun panggung, para santri jenjang SMA terlihat menaiki panggung dengan mengenakan pakaian putih. Tak ubahnya tim Al-Banjari yang tampil lebih dulu, para santri berpakaian putih tersebut juga membacakan lantunan selawat dengan indahnya. Hanya saja,  haluan musik hadrah yang mereka bawa agaknya menjadi sebuah pembeda.

                Selepas pembacaan selawat selasai, Dr. KH. Fathul Bari, S.s, M.Ag menaiki serambi masjid untuk memimpin pembacaan Tahlil dan Istighosah. Seluruh jemaah santri pun diminta untuk membaca dengan penuh khidmat sembari berbalik arah menghadap ke area makam KH. M. Badruddin Anwar.

                Selang beberapa waktu, Ustaz Badri Ihya, MC (Master of Ceromony maju ke depan serambi masjid untuk membuka pengajian rutinan “Ahad Legi” Tersebut. Menapaki pengawalan acara, beliau mempersilakan Taqi Falsafi, santri kelas dua SMA untuk membacakan qiroah sebagai tanda bermulanya acara pengajian internal itu.

                Hadirilah Majelis Ilmu Demi Kebaikan Dirimu

                Seperti biasa, Kiai Damhuji dipersilakan untuk menyampaikan kajian-kajian dari kitab Bidayatul Hidayah kepada jemaah santri. Namun, kali ini sebelum membacakan kajian-kajiannya, Kiai Damhuji sempat menuturkan respon pendiri An-Nur II dalam perintisan kegiatan pengajian rutin “Ahad Legi”.

                Beliau berucap, bahwa dahulu KH. M Badruddin Anwar sangat menginginkan terwujudnya kegiatan pengajian rutinan “Ahad Legi” seperti sekarang ini. Maka dari itu, dalam kesempatan tersebut beliau mengatakan alangkah baiknya jika kita dapat terus menghadiri acara yang diadakan setiap lima minggu sekali tersebut secara istikamah.

                Tak berselang lama, beliau menjelaskan tentang pentingnya untuk mengikuti kegiatan pada majelis ilmu yang tertera dalam kitab tersebut. Itulah kenapa beliau sangat setuju pada salah satu maqolah ulama yang mengkiaskan jika duduk di majelis ilmu walau sekelebat, lebih utama dari ibadah selama seribu tahun. Akan tetapi, di sini beliau tak lupa menekankan, bahwa ilmu-ilmu yang dimaksud, tentunya adalah ilmu yang bermanfaat bagi kebaikan.

                Liburan Selesai, Niat Belajarnya Jangan Sampai Usai

                Setelah Kiai Damhuji selesai menyampaikan kajian-kajiannya, sesi acara pun berganti. Kini giliran Kiai Zainuddin untuk memberikan sambutan. “Libur telah usai, ini adalah saat untuk menata kembali semua,” tutur beliau di atas podium.

                Dalam sambutannya, beliau mengingatkan kepada para santri untuk selalu sabar dan tabah menghadapi beragam cobaan, terutama ketika menata kembali niat belajar setelah pulang liburan. “Datangnya sebuah cobaan, sama halnya dengan datangnya sebuah musibah pada dunia. Nggak akan ada habisnya. Tetap sabar, dan terus ikhtiar.”

                Selepas Kiai Zainuddin selesai memberikan sambutan, MC membacakan berbagai prestasi-prestasi para santri selama sebulan lalu. Bukan hanya prestasi akademik, berbagai prestasi non-akademik juga tak ketinggalan mewarnai riuhnya panggung acara.

                Gelak Tawa, Salah Satu Cara Mengaji dengan Rasa Suka

                Setelah beberapa saat, sesi memasuki pemungkas acara. Kiai Imam Muslim diberi mandat untuk menyampaikan mauidhoh hasanahnya. Di atas podium, beliau menerangkan berbagai materi secara panjang lebar mengenai berbagai hal tentang kehidupan. Berbagai materi tersebut di antaranya adalah rejeki, iman, amal dan ilmu.

Uniknya, dalam penyampaian materi kepada jemaah santri tersebut, Kiai Imam Muslim sama sekali menghilangkan nuansa serius. Berseling dengan canda tawa—semua orang dapat menerima pelajaran dengan rasa senang. Sepintas waktu kemudian,  beliau menutup acara dengan doa.

(Arif Rahman/Mediatech)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex