Ahad Legi: Mendalami Ilmu Agama
Acara Ahad Legi yang terlaksana pada Minggu, (28/8/22) di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”dihadiri oleh KH. Marzuqi Mustamar sebagai pemberi mauizah hasanah. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Rosyad, Gasek, Malang, Jawa Timur. Beliau juga menjabat sebagai Tanfidziyah PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama).
Yang membuat tausiah ini menarik karena kehebatan beliau dalam pemahaman tentang Muhammadiyah. Hal tersebut terjadi karena beliau mengkaji kitab mengenai Muhammadiyah langsung kepada pengarang sekaligus pendiri aliran Muhammadiyah, yaitu KH. Ahmad Dahlan. Kealiman Kiai Marzuqi sungguh luar biasa tentang aliran Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah.
Acara Ahad Legi ini diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Romo KH. Bafadhol Ahmad Damhuji dan disusul dengan istigasah beserta doa oleh Kiai Syamsul Arifin. Para jemaah berdatangan mengisi tempat duduk untuk mendengar pengajian Ahad Legi .
Keutamaan Istikamah
Acara Pengajian Ahad legi diawali dengan sambutan dari pengasuh pondok putra yakni Kiai Zainuddin Badruddin. Beliau menegaskan istikamah itu lebih baik dari seribu karamah. Kiai Zainuddin juga berpesan,“Jadilah diri kita sebagai orang yang mencari istikamah bukan karamah.”
Selesai sambutan, berlanjut pada pengumuman beberapa prestasi yang dibacakan MC (Master of Ceremony).
Fokus Pada Ilmu Agama

Kiai Marzuqi Mustamar menaiki mimbar untuk membawakan mauizah hasanah. Dalam tausiyahnya, beliau mengatakan bahwa misi utama Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” yang beraliran NU adalah untuk mencetak para fakih dan ulama yang paham Al-Qur’an, sunah rasul serta paham agama. Maka dari itu, santri harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
“Tak apa santri kalah rupa, kalah di bidang IT (Ilmu Teknologi), kalah di bidang ekonomi. Yang penting santri unggul di bidang ilmu agama,” ucap Kiai Marzuqi. “Kalau bisa paham agama dan paham IT,” sambung beliau.
Kiai Marzuqi meyakini bahwa orang-orang Muhammadiyah begitu sigap dalam menyiarkan ajarannya. Namun, beliau mengkhawatirkan ajaran Muhammadiyah tidak sesuai Ahl As-Sunnah wa Al-Jamaah. Padahal golongan NU sudah memiliki ilmu keagamaan yang matang untuk menyiarkan agama Islam sesuai Ahl As-Sunnah wa Al-Jamaah. Oleh sebab itu, Kiai Marzuqi berharap penganut aliran NU tidak kalah sigap dengan Muhammadiyah.
“Jangan sampai kalah pengetahuan dari Muhammadiyah, Wahabi, bahkan Pastur (pemuka agama katolik),” tegas Kiai Marzuqi. Di akhir tausiah, beliau mengumumkan bahwa bagi santri yang lolos mengikuti lomba baca kitab Fath Al-Qorib, dapat masuk Unisma (Universitas Islam Malang) jurusan Bahasa Arab.
(Fathurrohman Hidyatdzati/ Mediatech)
