Ahad Legi: Menangkal Bencana dengan Zikir

Ahad Legi

Dalam waktu yang hampir bersamaan, tiga ulama dipanggil oleh Allah SWT. Berita duka datang dari Pondok Pesantren Al-Ihsan, Belambangan, Bululawang. KH. Abdul Hanan tutup usia pada hari Jum’at, (26/10), lalu. Disusul kemudian KH. Imam Ghozali dari Singosari dan KH. Sonhaji, Mojokerto. Ungkapan bela sungkawa ini disampaikan Dr. KH. Fathul Bari pada Pengajian Rutin Ahad Legi bulan ini (28/10).

 

“Sedih rasanya kita melihat banyak para kiai yang ‘diambil’ satu per satu”, ungkap beliau. Mengutip sebuah hadist, Kiai Fathul menyampaikan bahwa “tidaklah hari kiamat terjadi sehingga ilmu-ilmu diangkat oleh Allah SWT.” Dan diangkatnya ilmu itu tidak lain dengan ‘dipanggilnya’ para ahli ilmu (ulama) untuk kembali ke hadirat-Nya.

 

 

Meneruskan keterangan hadist tadi ,Beliau pengasuh berkata, salah satu tanda kiamat lainnya adalah banyaknya gempa bumi yang terjadi. Berkaca dari peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, gempa bumi secara berturut-turut mengguncang terjadi di Indonesia. Mulai gempa bumi di Lombok, hingga yang terparah di Palu, Sulawesi Tengah. Itu artinya, “Kita telah menemui sebagian besar tanda-tanda hari kiamat”, terang beliau.

 

Maka dari itu, beliau mengajak para jamaah yang hadir untuk meninggalkan kemaksiatan dan meningkatkan ketaatan. Salah satunya adalah dengan mengikuti majelis-majelis dzikir seperti “Ahad Legi”. “(Kepada) Orang yang berzikir, Allah akan menurunkan rahmat-Nya,” .

lanjut beliau

Di akhir sambutannya, Kiai Fathul mengundang jamaah sekalian untuk menghadiri Haul KH. Anwar Nur yang ke-28, 18 November mendatang. “Mau hadir di acara haul karena ingin mendengar mauidloh dari tamu yang diundang itu salah. Hadir haul harus diniati untuk tabarukan ke guru, ke pondok pesantren,” tegas KH. Amir Burhan membawakan mauidloh hasanah.

 

Sebelum dilanjutkan ke acara

Selanjutnya, Kiai Fathul meresmikan asrama bilingual “Wali Songo” dan perintisan program Bahasa Inggris. Ust. Misbahuddin Asror, selaku ketua bagian program bahasa, menerima piagam peresmian secara simbolis. “Santri itu ora mung iso ngaji (santri itu tidak hanya bisa mengaji), apa yang bisa dilakukan siswa-siswa di luar juga bisa dilakukan oleh para santri,” tutup Kiai Fathul.

 

(MFIH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: