ADU METODE SEMBELIHAN

ADU METODE SEMBELIHAN


*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Syaddad bin Aws RA, Rasul ﷺ bersabda :


إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk berbuat baik pada segala sesuatu. Jika kalian membunuh (eksekusi seperti qishash), maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan binatang sembelihannya. [HR Muslim]

Catatan Alvers

Viral melalui aplikasi Whatsapp, video yang memperlihatkan beberapa orang berada di tempat penyembelihan hewan yang melakukan prosesi penyembelihan yang tidak lazim. Sapi-sapi di sana sebelum disembelih terlebih dahulu dipukul kepalanya dengan palu besar oleh jagalnya sampai sapi tersebut jatuh tersungkur. Pemukulan pun terkadang diulangi lagi hingga sapinya benar-benar tak berdaya lalu orang lain yang bertindak sebagai penyembelih menyayat lehernya dengan mudah. Video tersebut disertai pesan “Hati-hati kalau beli daging lembu sebab orang cin*pun dah pandai sembelih lembu”.

Dalam penelusuran via youtube, kami menemukan video cara penyembelihan yang serupa dengan latar tempat penyembelihan dan tampak di sana kendaraan pengangkut daging. Video tersebut berjudul “Sapi ini tidak disembelih tapi dipukul kepalanya” pada link https://www youtube com/watch?v=aZ43Ttv_4fk

Video tersebut mendapat berbagai komentar dari netizen. Sebagian besar mereka mengecam perbuatan tersebut. Diantaranya : “Yang mukul tuch nanti matinya kepalanya pecah dilindas kontainer. Amin”. “Hati hati ntar dibalas di akhirat kelak”. “Lu pada nyiksa hewan Kasian hewan yang telah memberikan daging dagingnya untuk makan sehari hari kita”. “Dikira motong lele kali itu orang guwe sumpahin dipukul juga pas mau matinya”. “Kalo sapi kan harusnya kan disembelih bukan dipukul kepalanya dasar orang haram”. Namun ada juga komentar yang membela perilaku dalam video dengan menjelaskan alasannya “Jika dipukul kepala bisa langsung hilang kesadaran jika dipukul dengan sangat keras”.

Di dalam ajaran islam, penyembelih tidak diperkenankan menyakiti badan hewan sembelihan misalnya dengan memukul terlebih dahulu atau menjatuhkannya dengan keras bahkan menyakiti perasaannya dengan menajamkan pisau sembelihan di hadapannya. Sebagaimana perintah Nabi ﷺ pada hadits utama yaitu Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk berbuat baik pada segala sesuatu. Jika kalian membunuh (eksekusi seperti qishash), maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan binatang sembelihannya. [HR Muslim]

Sayyid Bakri berkata : Disunnahkan agar seseorang menjauh atau menutupi dari hewan yang hendak disembelih ketika mengasah pisau. Maka makruh mengasah di hadapan hewan yang akan disembelih karena ada riwayat bahwa suatu ketika Rasul ﷺ melihat seorang jagal (penyembelih) ia menginjakkan kakinya ke atas pipi kambing (yang hendak disembelih) sambil mengasah pisaunya dihadapan kambingnya. Maka Beliau bersabda:


أَتُرِيْدُ أَنْ تُمِيْتَهَا مَوْتَتَيْنِ؟ هَلَا أَحْدَدْتَ شُفْرَتَكَ قَبْلَ أَنْ تُضْجِعَهَا


Akankah kau mematikannya dua kali? Asahlah pisaumu sebelum engkau membaringkan kambing itu! [HR Thabrani]

Diriwayatkan bahwa sebab ditimpakannya ujian kepada Nabi Ya’qub AS dengan dipisahkan dari anaknya, Yusuf AS adalah karena Ya’qub pernah menyembelih anak kambing di hadapan induknya yang menjerit (melihat anaknya disembelih) namun Ya’qub tidak mengasihaninya.

Terdapat satu kisah dimana seorang jagal diperintah raja untuk menyembelih sejumlah kambing. Setelah menyembelih sebagian kambing, si jagal meninggalkan tempat sejenak karena ada satu urusan. Sekembalinya ke tempat penyembelihan ia kehilangan pisau dan ia menuduh ada orang-orang yang ada di sekitarnya mencurinya sehingga sempat terjadi kegaduhan. Kemudian ada seseorang yang memberikan kesaksian bahwa pisaunya diambil oleh kambing dengan mulutnya dan dijatuhkan ke sumur yang berada tak jauh dari tempat penyembelihan tersebut. Mendengar hal ini, Raja memerintahkan seseorang untuk turun ke dalam sumur guna untuk memastikan keberadaan pisau tersebut dan ternyata benar demikian, pisau itu ditemukan di dasar sumur. [I’anatut Thalibin]

Kembali ke permasalahan cara menyembelih dengan cara dipukul terlebih dahulu sebagaimana video diatas. Sebagian orang menyebutkan bahwa pemukulan tersebut bertujuan untuk memudahkan proses penyembelihan dan bertujuan sebagai “obat bius” (pemingsanan) sehingga hewan tidak merasakan sakit ketika disembelih. Namun benarkah demikian? Terdapat dua staf ahli peternakan dari Hannover University , Jerman. Yaitu: Prof.Dr. Schultz beserta tim mengadakan penelitian guna membuktika manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) yaitu dengan menggunakan pisau yang tajam untuk memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis. ataukah cara penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?

Penelitian dengan menggunakan dua buah microchip yaitu yang pertama disebut Electro-Encephalograph (EEG) dipasang di permukaan otak untuk merekam derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Dan kedua disebut dengan Electro Cardiograph (ECG) dipasang di jantung sapi untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.

Dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi yang disembelih secara islami pada 3 detik pertama tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. (tidak ada indikasi rasa sakit). pada 3 detik berikutnya, sapi mengalami semacam deep sleep (tidur nyenyak) hingga benar-benar kehilangan kesadaran. Setelah itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar sehingga daging sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food. Sementara grafik EEG bukannya naik, tapi justru drop sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan sebagai “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!). Penelitian ini meluruskan pemahaman kita bahwa sapi yang meronta-ronta saat disembelih itu ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit melainkan ekspresi “keterkejutan otot dan saraf” bahkan pisau tajam yang mengiris leher ternyata tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit.

Adapun sapi lainnya, setelah proses stunning (pemingsanan), grafik EEG mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit luar biasa yang diderita oleh sapi tersebut akibat kepalanya dipukul dengan palu. Grafik ini lalu menurun sampai jantung berhenti berdetak lebih awal. Dan ini mengakibatkan jantung tidak bisa menarik darah dari seluruh organ tubuh dan tak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh. Ini menjadikan darah membeku di dalam urat-urat darah dan daging dan selanjutnya menjadi media bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merusak kualitas daging sehingga daging menjadi unhealthy meat (daging yang tidak sehat). [Bogorkab go id]

Penelitian ini juga menguatkan pendapat Ulama yang berpendapat bahwa membaca basmalah secara sempurna “Bismillahir rahmanir rahim” ketika menyembelih itu lebih afdhal. Sebab ada juga yang berpendapat (dari kalangan Malikiyah dan hanabilah) bahwa basmalah hanya dengan membaca “Bismillah” saja tanpa menyertakan “Ar-rahmanir rahim” dengan alasan bahwa “Ar-rahmanir rahim” (Sifat Pengasih dan penyayang) tidak sesuai dengan perbuatan menyembelih karena menyembelih itu merupakan perbuatan menyakiti dan menyiksa hewan.

Jauh sebelum ada alasan ilmiyah tersebut, alasan klasik mengenai hal itu disampaikan oleh sayyed bakri :


إِنَّ تَحْلِيْلَ ذَلِكَ لَنَا غَايَةٌ فِي الرَّحْمَةِ بِنَا وَمَشْرُوْعِيَّةَ ذَلِكَ فِي الْحَيَوَانِ رَحْمَةٌ لَهُ فَفِي الذَّبْحِ رَحْمَةٌ لِلْآكِلِيْنَ وَرَحْمَةٌ لِلْحَيَوَانِ لِمَا فِيْهِ مِنْ سُهُوْلَةِ خُرُوْجِ رُوْحِهِ


Penghalalan binatang ternak merupakan puncak kasih sayang Allah kepada kita (manusia) sementara syariat menyembelih itu merupakan rahmat untuk hewan sebab dalam menyembelih itu terdapat (dua rahmat, yaitu) rahmat untuk orang yang makan dan rahmat untuk hewan yaitu memudahkan proses keluarnya ruh dari hewan tersebut. [I’anatut Thalibin]


Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk semakin meyakini kebenaran ajaran Islam dan untuk meyakininya tidak menunggu adanya hasil penelitian ilmiyah terlebih dahulu.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi ﷺ menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: