Adil Tidak Selalu Sama

Adil Tidak Selalu Sama

(Tafsir QS; Al-Ma’idah ayat 8)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ – ٨

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al-Ma’idah: 8)

Adil yakni sikap yang tidak memihak pada salah seorang yang sedang berselisih, dalam artian seimbang dan lurus. Seorang yang adil adalah yang berjalan lurus, selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ganda. Namun, sikap adil ini tidak selalu bermakna persamaan, melainkan bermakna keseimbangan.

Misal, ada orang tua yang memiliki dua anak, anak pertama sudah SMA dan yang kedua masih TK. Ketika hendak berangkat ke sekolah, mereka berdua berpamitan pada ayah dan ibunya. Sang ayah pun tak lupa untuk memberikan uang saku pada mereka. Nah, dari kejadian ini, akankah sang ayah memberikan uang saku yang sepadan pada mereka berdua? Sementara ia memberi saku pada anak pertamanya sejumlah lima puluh ribu rupiah, mungkinkah ia juga memberi uang saku yang sama dengan kakaknya pada anak keduanya yang masih TK? Tentu tidak demikian.

Misal, ada orang tua yang memiliki dua anak, anak pertama sudah SMA dan yang kedua masih TK. Ketika hendak berangkat ke sekolah, mereka berdua berpamitan pada ayah dan ibunya. Sang ayah pun tak lupa untuk memberikan uang saku pada mereka. Nah, dari kejadian ini, akankah sang ayah memberikan uang saku yang sepadan pada mereka berdua? Sementara ia memberi saku pada anak pertamanya sejumlah lima puluh ribu rupiah, mungkinkah ia juga memberi uang saku yang sama dengan kakaknya pada anak keduanya yang masih TK? Tentu tidak demikian.

Nah, dari permasalahan ini, dapat dipahami bahwa keadilan itu tidaklah selalu bermakna persamaan. Karena ada juga yang mengartikan bahwa adil ialah memberikan hak-hak pada pemiliknya. Seorang lelaki yang beruntung memiliki empat istri, ia dituntut untuk berbuat keadilan terhadap istri-istrinya. Namun, keadilan yang menyangkut kadar cinta terhadap keempat istrinya ini tidak dituntut oleh Allah. Karena kesempurnaan cinta berada di luar kemampuan manusia, namun baginda Nabi SAW pun diminta untuk berusaha sekuat kemampuan menahan diri, agar tidak terlalu cenderung pada istri yang dicintainya. Supaya istri yang lain tidak terkatung-katung. (Q.S An-Nisa’: 129).

Pakar mendefinisikan adil dengan penempatan sesuatu pada tempat yang semestinya. Dalam konteks ini Imam Ghazali menulis, “Jangan duga penganiayaan (lawan dari keadilan) adalah gangguan dan keadilan adalah memberi manfaat. Tidak! Bahkan, seandainya seorang penguasa membuka dan membagi-bagikan isi gudang yang penuh dengan senjata, buku, dan harta benda, kemudian dia membagikan senjata kepada ulama, harta benda kepada hartawan, dan buku-buku kepada tentara yang siap berperang, maka walau sang penguasa memberi manfaat kepada mereka, tetapi dia tidak berlaku adil. Dia menyimpang dari keadilan, karena dia menempatkannya bukan pada tempatnya. Sebaliknya kalau seseorang memaksa si sakit untuk meminum obat yang pahit sehingga mengganggunya, atau menjatuhkan hukuman mati atau cemeti terhadap terpidana, maka walau pun ini menyakitkan, hal demikianlah yang dimaksud dengan keadilan. Karena sakit dan gangguan itu ditempatkan pada tempatnya.” Demikianlah penjelasan yang ditulis oleh Prof. Dr. AG. H. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al-Quran dan karyanya yang masyhur yakni Tafsir Al-Mishbah.

Penuhilah hak-hak Allah dan juga manusia! Hak Allah dengan mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangannya. Lalu hak manusia yang bagaimana? Yakni menjadi saksi yang adil. Jangan karena yang satu ialah orang yang dicintai dan yang lain orang yang dibenci, maka berpihak pada yang dicintai, hal ini namanya pilih kasih, inilah yang tidak diperkenankan. Betapa indahnya ajaran islam yang telah mengajarkan sebuah keadilan meski pada orang kafir. Ketika mengadili antara orang islam dan orang kafir, maka jangan selalu berpihak pada orang muslim, namun juga harus adil terhadap orang kafir tersebut selagi ia benar. Mengapa harus adil? Karena sikap adil bisa mendekatkan pada ketakwaan. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Syahrizal Nur S
Mahasantri Ma’had Aly An-Nur II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: