Kaderisasi Santri: Jangan Lupakan Pondoknya!

Aula yang berada di lantai tiga kantor pusat Pondok Pesantren An-Nur II itu mulai ramai oleh santri setelah azan isya berkumandang. Terbentanglah karpet merah di aula itu sebagai alas untuk duduknya para santri. Mereka pun menata barisan duduk untuk mengikuti rangkaian kegiatan.

Hari Kamis (16/3/2023), terlaksana sebuah kegiatan khusus untuk santri kelas tiga SMP. Kegiatan ini bernamakan Kaderisasi Santri Kelas Tiga oleh Pengurus IKSAN. Maka, pengisi sambutan serta materi dalam acara kali ini ialah alumni yang aktif dalam IKSAN (Ikatan Santri Alumni An-Nur II).

Setelah azan isya, panitia berusaha menertibkan para santri. Mereka menginstruksikan para santri untuk mengikuti kegiatan pembacaan Maulid DIba’. Para santri membaca selawat dengan duduk sampai pada Mahallul Qiyam, para santri berdiri.

Kegiatan ini khusus untuk para santri kelas tiga, “Kelas Tiga,” ucap salah satu panitia. Sebab para santri pada tahap ini mungkin ada yang boyong, acara ini eksklusif hanya untuk mereka.

“Biar santri yang boyong tetap ingat dengan pondoknya,” ucap Mas Farisqi, MC (Master of Ceremony) sekaligus panitia dalam acara ini. Ia menegaskan bahwa para santri meski sudah keluar tidak boleh melupakan pondoknya.

Senandung selawat terus terdengan sampai para pengurus IKSAN datang. Kali ini yang datang adalah Ustaz Fathurrohman, sebagai wakil dari IKSAN pusat bersama Ustaz Shobirin dan Ustaz Roziqin.

Mereka duduk di depan para santri, mereka menghadap para santri. Meja tertata rapi khusus untuk mereka. Kedatangan mereka membuat MC segera bertindak, ia mengambil Mikrofon dan menunjukkan performanya.

Pertama-tama MC menyampaikan hormatnya kepada para tamu dan santri. Lalu ia membacakan runtutan kegiatan. Baru setelahnya, membaca Surah Al-Fatihah sebagai pembuka acara.

Mikrofon pun berpindah kepada Ustaz Faturrohman. Beliau mewakili ketua IKSAN pusat menyampaikan sambutan pada acara kali ini.

Beliau berkata bahwa sebagai santri An-Nur II haruslah bangga. Menjadi santri dari Al-Maghfurlah KH. Badruddin haruslah bangga-ucap beliau. Lantaran-kata beliau-ada dawuh dari Kiai Bad, “Dunyo sak mene ambane ora ono sing luwih mulio kejaba santri.” (Dunia seluas ini tidak ada yang lebih mulia dari santri).

Sambutan kedua berasal dari Ustaz Shobirin. Beliau mengingatkan para santri jika sudah boyong, jangan sampai melupakan pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. Beliau juga mengingatkan untuk giat mendatangi kegiatan pondok yang berhubungan dengan alumni.

Puncak dari acara kali ini ialah pemaparan materi dari Haji Khoirul. Inti dari materi yang beliau sampaikan ialah apabila ingin sukses, wajib untuk menaati dua orang, yakni kedua orang tua dan guru.

Beliau juga menambahkan, bila ingin boyong, ilmunya harus mumpuni. Al-Maghfurlah KH. Badruddin menyayangkan para santrinya yang boyong tapi ilmunya masih belum siap ketika berada dalam lingkungan masyarakat.

Acara malam itu berakhir dengan doa dari Ustaz Roziqin. Acara yang berasal dari inisiatif IKSAN pusat itu telah usai. Namun sebelum para santri kembali ke asramanya, mereka harus mengisi data terlebih dahulu. Hal ini agar mengetahui jumlah santri setiap daerah dan siapa saja yang akan boyong.

Para santri berhamburan keluar dari ruangan. Mereka berjalan menuruni kantor lantai tiga dan kembali ke kamarnya masing-masing.

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU