Kemuliaan Nabi Muhammad
Bulan ini merupakan bulan-bulan kelahiran makhluk yang paling istimewa yakni Nabi Muhammad SAW. Sebab kelahiran beliau, bulan Rabiul Awal menjadi mulia meski tidak memiliki gelar seperti asyhurul hurum (bulan-bulan mulia) atau yang lainnya. Saat kelahiran Nabi, iblis menangis sebab umat manusia akan lurus dengan ajaran beliau. Selain itu, Abu Lahab juga bahagia atas kelahiran beliau hingga memerdekakan budaknya, Tsuwaibah. Oleh sebab itu, Allah meringankan siksanya setiap hari Senin yang merupakan hari kelahiran Nabi.
Beberapa Kemuliaan Nabi Muhammad
Dalam sebuah syi’ir , “Muhammadun basyarun la kal basyari, bal huwa kal yaquti bainal hajari (Nabi Muhammad adalah manusia, tapi tidak seperti manusia biasa. Dia bagaikan batu yaqut di antara batu-batu).” Syair ini membuktikan bahwa Nabi adalah orang yang mulia.
Bahkan ada seorang ulama yang membaca syi’ir ini bersama jemaah di majelisnya. Sehingga ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad berkata kepadanya, “Allah mengampunimu dan orang-orang yang membaca (syi’ir) itu bersamamu.” Mengetahui hal tersebut, ulama tersebut selalu membaca syi’ir itu di setiap majelis.
Selain itu, Allah SWT memanggil Nabi Muhammad tak sama dengan memanggil nabi-nabi yang lain. Allah memanggil nabi yang lain langsung dengan nama nabi tersebut. Seperti dalam surah Maryam ayat 12, Allah memanggil Nabi Yahya dengan ya Yahya. Berbeda ketika memanggil Nabi Muhammad. Allah memanggil nama beliau dengan gelarnya, tidak langsung namanya seprti ya Rasulallah atau ya ayyuha an-nabi.
Nabi Muhammad juga membuat sandal yang beliau pakai menjadi mulia. Bagaimana tidak, saat bertemu Allah, Nabi tidak melepaskan sandalnya. Berbeda dengan Nabi Musa. Saat berada di Gunung Tursina ingin bertemu Allah, Allah menegur Nabi Musa untuk melepaskan sandalnya, “Aku ini Tuhanmu. Maka lepaskan sandalmu!” Akan tetapi, saat Nabi Muhammad melakukan Isra Mikraj dan bertemu Allah, Allah tidak mengutus Nabi untuk melepas sandalnya. Hal tersebut membuat sandal Nabi menjadi mulia. Jadi benda yang bersama dengan orang mulia, maka benda tersebut ikut mulia.
Nabi juga bergelar habiib yang bisa memiliki dua makna. Yang pertama, orang yang mencintai, maksudnya Nabi mencintai umat beliau dari sahabat hingga hari kiamat. Yang kedua, orang yang dicintai, maksudnya umat manusia patut mencintai Nabi SAW.
Suatu ketika, Nabi bertanya-tanya, “Kapan aku betemu ikhwani?” Mendengar hal itu, sahabat bertanya, “Ya Rasul, bukankah kami ini ikhwanuka?” Lalu Nabi menjawab, “Bukan. Kalian adalah sahabatku.” terkejut akan hal itu, sahabat bertanya lagi, “Lalu siapa ikhwan itu?” Nabi pun menjawab, “Ikhwan itu orang yang datang di akhir zaman dan tidak pernah bertemu denganku, tetapi mereka beriman kepadaku.”
Kerinduan Kepada Nabi Mulia
Saat Nabi wafat, banyak manusia yang merindukan beliau. Bahkan sebelum beliau wafat ada yang takut tidak bisa bertemu lagi setelah orang yang cemas mati. Dia adalah Tsauban. Tsauban merupakan seorang penduduk Yaman yang menjadi tawanan ketika terjadi perang di zaman Jahiliyah.
Suatu hari, ia bertemu Nabi setelah lama tidak berjumpa. Saat Nabi melihat, Tsauban tampak kurus dan pucat. Nabi pun mempertanyakan hal tersebut. Lalu Tsauban menjawab karena rindu dengan Nabi. Ia juga berkata, “Saat di akhirat, kalau masuk surga, pasti tempatnya berbeda denganmu. Itu pun kalau beruntung masuk surga. Kalau masuk neraka, maka tidak bisa bertemu lagi.” menanggapi hal itu, Allah menurunkan surah An-Nisa’ ayat 69 bahwa orang yang beriman akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah termasuk nabi.
Ada lagi sebuah kisah yang menceritakan seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid Al-Anshori. Tatkala Nabi wafat, Abdullah bin Zaid berdoa, “Ya Allah, butakan mataku sehingga aku tak melihat sesuatu setelah ini.” Ia berdoa seperti karena tidak kuat atas kewafatan Nabi. Kemudian Allah pun mengabulkannya dan ia buta di tempatnya.
Jangankan manusia, unta saja juga merindukan Nabi. Kata seorang ulama, saat ada seseorang menunggang unta untuk ziarah rasul, langkah kakinya berbeda. Langkahnya semakin lebar (cepat). Ketika dekat dengan Madinah, unta tersebut meneteskan air mata. Di saat ini, penunggang tidak perlu memukul unta untuk mengarahkannya. Unta itu akan berjalan dengan sendirinya ke raudloh Rasulullah SAW. Hal itu bisa terjadi karena kecintaan unta kepada Nabi. Maka manusia perlu menunjukkan kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai kalah dengan unta tersebut.
0341-833235 (kantor pondok)
+62 852-3644-6126 (humas pondok)
+62 813-3476-9069 (humas pondok khusus untuk kunjungan)
No. Rek.: BNI a/n An Nur 2 : 4321-1979-02
(Riki Mahendra Nur C/Mediatech)