Kajian Tafsir: Akibat Orang yang Menghina Nabi

(61) Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (62) Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin.

***

Salah satu perbuatan orang-orang munafik adalah menyakiti Nabi Muhammad SAW. Mereka menyakiti Nabi dengan hinaan dan mengganti ucapan beliau. Bahkan mereka menyangka bahwa Nabi pasti percaya apabila mereka mengatakan tidak mencela Nabi. Padahal Nabi hanya mempercayai perkataan yang baik bukan yang buruk. Sebab sikap dusta orang munafik, mereka akan mendapat azab yang pedih nantinya.

Menjelek-jelekkan Nabi SAW tidak sama dengan mengolok-olok manusia biasa. Nabi adalah orang yang paling mulia. Sebab kemuliaan beliau, Allah, Dzat Maha Pencipta segalanya, memanggil Nabi Muhammad SAW dengan memanggil gelarnya. Jadi Allah tidak memanggil nama Nabi secara langsung. Dibuktikan dalam Al-Qur’an, Allah memanggil Nabi seperti “Wahai Nabi!” atau “Wahai Rasul!”.

Bahkan Allah berfirman di dalam surah An-Nur ayat 63, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” Ayat tersebut memerintahkan supaya tidak memanggil Nabi Muhammad SAW langsung dengan nama beliau. Jadi memanggil beliau dengan lemah lembut dan suara yang lirih.

Perihal cara memanggil Nabi, ada suatu kisah tentang pemilihan pemimpin di zaman Nabi. Saat itu, Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab bertengkar sehingga menyebabkan kegaduhan. Dikarenakan hal tersebut, Allah menegur mereka supaya tidak meninggikan suara di hadapan Nabi. Semenjak peristiwa itu, Sayyidina Umar yang terkenal bersuara lantang langsung menurunkan volumenya dengan drastis ketika di hadapan Nabi. Hingga seperti orang yang berbisik-bisik.

Pada intinya, tidak boleh menyamakan Nabi dengan manusia lainnya. Selain itu, jangan sampai menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Disebutkan dalam surah Al-Ahzab ayat 57, “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” Itulah bukti bahwa Baginda Nabi adalah makhluk yang paling mulia.

(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU