Seperti wajarnya sifat manusia. Ketika diberi, ia akan selalu merasa kurang. Sudah diberi hati, masih minta ampela, istilahnya.
Dalam dunia ini, ada suatu hukum yang membuat semua kejadian menjadi mungkin. Hukum ini pula yang membuat semua kejadian di alam semesta bisa dijelaskan secara ilmiah. Tanpanya, orang-orang akan menganggap kejadian itu sebagai salah satu kejadian mistis, tak kasat mata. Nama hukum yang begitu penting itu adalah itu disebut hukum sebab-akibat.
Ketika ada sebab, pasti akan ada akibat. Ketika ada akibat, pasti akan ada penyebab yang memulainya. Keduanya begitu terikat satu sama lain. Anak akan ada sebab adanya orangtua. Anak ayam akan ada sebab adanya telur. Hal itu pun juga berlaku dengan dunia.
Dunia ini tentu sebab adanya Dzat yang mengadakannya. Dzat tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Allah SWT. Sebagai Dzat Yang Maha Esa, tentunya Allah menciptakan semua perkara yang berada di dunia ini tanpa bantuan siapapun. Air, udara, tanah, semuanya Allah ciptakan tanpa dibantu siapapun.
Masalahnya, terkadang kita lupa oleh siapa kita diciptakan. Buktinya, ketika kita diberi nikmat, banyak sekali yang lupa bersyukur. Ketika kita diberi musibah, banyak dari kita yang justru menyalahkan takdir. Padahal, kalau kita ingin berpikir sebentar, bukankah itu semua dari Allah?
Allah menciptakan nikmat agar kita menyadari bahwa ada Dzat yang selalu membantunya saat kita kesusahan. Allah menciptakan musibah agar kita ingat dan sadar, bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Yang suatu hari nanti pasti akan diambil oleh si pemilik.
Nah, ketika kita tahu kalau semua ketentuan, takdir, keputusan itu dari Allah, mengapa kita justru tidak rida? Ketika tahu kalau semua musibah itu datang dari Allah, mengapa kita tidak bersabar menghadapainya? Ketika tahu kalau semua nikmat itu datang dari-Nya, mengapa kita malah lupa untuk bersyukur?
Kalau saja mahluk itu tidak mau menerima takdir Allah; Tidak mau bersabar atas cobaan yang diberikan kepadanya; Tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah diterimanya, Maka lebih baik baginya untuk mencari tuhan selain Allah.
Namun, apakah hal itu mungkin? Jelas tidak. Hal ini malah mengindikasikan kalau kita memang harus menerima takdir-Nya. Harus bersyukur saat nikmat dari-Nya menghampiri kita. Harus bersabar atas cobaan yang kita hadapi.
Jika diruntut lebih jauh, orang-orang yang tidak terima dengan ketentuan-Nya terlihat seperti ingin melawan Allah. Bukankah Allah yang menciptakan semua takdir itu? Ketika tidak bisa menerima apa yang telah menjadi ketentuan-Nya bukankah itu sama saja dengan melawan keputusan-Nya?
Padahal, Allah menciptakan semua takdir itu tidak semata-mata ingin melihat kita tersiksa. Allah sangat paham dan tahu apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Sebab itu lah, Allah memberikan nikmat, musibah atau takdir itu kepada kita.
Lagipula, bukankah usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Masak ketika kita sudah bekerja keras, Allah menutup mata dengan semua yang kita lakukan tadi. Tentu itu tidak mungkin kan?
(Nabil Abdullah Alghifari/Mediatech An-Nur II)
