Bulan Dispensasi Manusia

Pasar Waqiah Ramadan (04/04/22):

Bulan Ramadan menjadi bulan yang diidam-idamkan, bahkan diagung-agungkan seluruh umat muslim. Tak jarang dari mereka yang menyambutnya dengan penuh kebahagiaan, kegembiraan, hingga keharuaan. Kenapa sedemikian? Pastinya banyak hal yang menarik di balik sikap umat muslim tersebut dalam memperlakukan bulan Ramadan.

*Euforia Ramadan*

Perasaan gembira adalah hal wajar. Terlebih saat menyambut, bahkan menjalani hari-hari di bulan suci Ramadan. Di tengah euforia tersebut, banyak maqalah ataupun hadis bermunculan. Salah satunya kalam Arab yang berbunyi:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ

“Barang siapa yang gembira dengan masuknya bulan Ramadan, maka jasad mereka diharamkan Allah untuk masuk ke dalam neraka.”

Kalam tersebut banyak dipahami sebagai hadis, namun pada hakikatnya maqalah di atas bukan termasuk hadis. Karena redaksi kalam tersebut tidak pernah muncul di kitab apapun. Bahkan tidak memiliki sanad yang jelas. Meskipun secara arti maqalah tersebut bagus, tapi jika tidak memiliki sanad yang jelas juga tidak dapat dikatakan sebagi hadis.

*Pelebur Dosa Umat Muslim*

Begitu istimewa di mata umat muslim. Ramadan yang merupakan Syahru Ibadah, diartikan sebagai bulan untuk melebur dosa. Dengan semangat yang bergelora mereka berbondong-bondong memperbanyak ibadah. Baik dengan rasa suka maupun haru. Namun, kejadian seperti ini sudah lumrah di kalangan masyrakat.

Mulai dari hal yang terkecil, umat muslim lakukan berbagai ibadah meski memiliki waktu yang padat. Mereka dengan lapang akan menyisikan waktunya, semata-mata untuk beribadah. Dari membaca Al-Qur`an, salat Duha, salat malam, hingga memperbanyak sedekah. Itu semua mereka lakukan dengan harapan mendapat ampunan, atau bahasa kekiniannya dispensasi, dari Allah SWT. Secara mereka telah banyak berbuat salah, maka bulan inilah kesempatan untuk meminta tebusan.

Dapat dilogikakan seperti Nabi Ya’qub AS, dua belas bulan dalam putaran setahun bisa disamakan dengan jumlah anak beliau. Di antara kedua belas anak Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf AS lah yang menjadi anak kecintaannya. Sehingga kesalahan saudara Yusuf termaafkan berkat doa yang dipanjatkan Nabi Yusuf. Begitu pula dengan bulan Ramadan, bulan ini menjadi bulan yang dicintai Allah SWT. Sehingga dosa dalam hitungan sebelas bulan yang telah berlalu akan diampuni oleh-Nya.

Selain itu, dalam hadis dikatakan, bahwa Rasullulah pernah bersabda mengenai lima hal yang diberikan kepada umat Islam ketika bulan puasa.

1. Bau Mulut.

Mengenai hal tersebut diakatakan bahwa bau mulut seorang yang melakuakan ibadah puasa aromanya lebih harum dibandingkan minyak misik, menurut pandangan Allah. Semisal dengan itu Allah mengatakan ketika ada seseorang bertanaya mengenai persoalan angin sepoi-sepoi di surga. Dalam hal ini angin tersebut dijelaskan beraroma harum. Lalu oleh Allah dikatakan, jika bau mulut orang yang berpuasa jauh lebih harum dibandingkan itu.

2. Doa dari Malaikat.

Dalam bulan Ramadan para malaikat mendoakan setiap orang yang berpuasa. Mereka beristihgfar sepanjang hari hingga tiba waktu berbuka puasa. Hal inilah yang menjadi nilai istimewa bagi umat islam. Karena, malaikat pun mendoakannya. Meskipun dalam kurun waktu sehari berpuasa hanya diisi dengan tidur, namun sudah bernilai pahala dan mendapatkan doa dari malaikat.

Terlebih jika dalam sehari berpuasa diisi dengan kesibukan mendekatkan diri kepada Allah. Karena seperti yang telah dijelaskan di atas bahwasannya Ramadan disebut Syahru Ibadah.

3. Allah Menghiasi Setiap Rumah di Surga.

Begitu mulianya orang yang berpuasa. Hingga Allah pun telah menyiapkan tempat untuk singgah di surga bagi mereka. Tak sekedar menyiapkan tempat, namun lengkap dengan dekorasi dan fasilitas di dalamnya. Karena ketika orang berpuasa, di situ lah Allah menghiasi tempat-tempat mereka di surgatersebut.

4. Dibelenggunya Setan.

Sudah familiar istilah setan dibelenggu. Benar memang di bulan Ramadan setan tak dibiarkan menggoda manusia, namun nyatanya masih banyak kriminalitas di bulan Ramadan. Maka hal itu sepenuhnya bukan faktor dari setannya. Bisa jadi karena kebiasaan. Hawa nafsu lah yang mengantarkan kriminalitas itu sering bermunculan.

5. Gajian Akhir Bulan.

Dapat dikatakan sebagai upah atau gaji. Karena di akhir bulan Ramadan kita kembali suci, disucikan dari segala dosa. Hal itulah yang dikatakan bahwa Ramadan merupakan bulan pengampunan. Hingga muncul istilah satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Hal itu ditafsiri bahwasannya bulan Ramadan adalah bulan pelebur dosa, karena perbuatan baik yang dilakukan.

Hal itu berimbas kepada sepuluh bulan yang lain. Sehingga dalam sepuluh bulan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT. Jadi, tersisa dua bulan. Dua bulan itulah yang dikatakan mendapat bonus. Satu bulan pertama bonus dari Allah, untuk diampuni atau didispensasi segala dosanya. Satu bulan berikutnya mendapat ampuan dari Rasulullah Muhammad SAW.

Maka dari itu, bulan suci Ramadan diistimewakan. Bukan hanya dari kalangan manusia saja, malaikat, para nabi dan rasul hingga Sang Pencipta pun mengistimewakannya. Mulai dari euforia menyambutnya hingga titik penghujung bulan itu sendiri. Umat islam meluapkan kegembiraannya dengan semangat beribadah. Namun ibadah paling mulia di bulan Ramadan adalah sedekah. Seperti yang dikatakan beliau Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. pada pengajian Pasar Waqiah Ramadan malam ke-3, “Jangan pernah lewatkan hari di bulan Ramadan, kecuali untuk bersedekah.”

(Hanif Azzam/Lingkar Pesantren)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex