40 Hari Wafatnya Kiai Damhuji

Kiai Damhuji, Pengabdi Ilmu

Karpet tergelar di pelataran rumah. Karpet itu guna tempat duduk tamu-tamu undangan. Ada satu karpet yang berbeda. Sebuah meja, ada di sana. Tempat itu, khusus untuk mejelis keluarga An-Nur II “Al-Murtadlo”. Sedangkan jemaah duduk di depan mereka, dan beberapa berada di luar gerbang untuk masuk pelataran rumah itu. Bertepatan dengan Hari Nasional Santri 2022, (22/20/2022).

Pada malam tersebut, acara doa 40 hari wafatnya KH. Bafadol Ahmad Damhuji terlaksana sampai kegiatan terakhir. Beliau sendiri secara darah tidak ada hubungannya dengan Majelis Keluarga Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”. Akan tetapi, beliau mengajar santri-santri An-Nur II, beliau menebarkan ilmunya kepada santri An-Nur II.

Pada 40 hari kewafatan beliau, mejelis keluarga An-Nur II dating dan mereka juga yang memimpin jalannya acara. Ada Kiai Husni Mubarok, M.Pd.I yang memimpin pembacaan tawasul serta surah Yasin. Ada Kiai Zainuddin yang kebagian mandat membaca tahlil. Kemudian Kiai Syamsul Arifin yang memimpin bacaan doa. Acara mulai sekiranya tamu undangan sudah sampai semuanya.

Kiai Husni pun segera membuka acara malam itu dengan membaca yasin. Acara terus berlanjut ke tahlil dan berakhir dengan doa. Acara masih belum selesai, melainkan menuju agenda selanjutnya, yaitu mauizah hasanah oleh pengsuh utama Pondok Pesantren An-Nur II, Dr. KH. Fathul Bari, S. S., M. Ag. yang menyampaikan betapa mulianya Al-Maghfurlah karena ilmunya.

Kiai Fathul: Ilmu Adalah Pengantar Menuju Derajat Kemuliaan

Dalam sambutannya itu, Kiai Fathul mengucapkan bahwa dirinya beserta keluarga AN-Nur II yang lain merupakan wakil dari Majelis Keluarga Al-Maghfurlah. Maka beliau pun berucap, “Terima kasih sudah datang ke acara.” Sepaket dengan hal itu, beliau juga meminta maaf atas segala kekurangan yang ada. Beliau pun berdoa semoga dengan berkah dari bacaan yasin dan tahlil dari para jemaah bisa melebur khilaf-khilaf Al-Maghfurlah.

Beliau lalu memberitahukan sebuah relasi dari kemuliaan ilmu dan derajat mulia yang Al-Maghfurlah dapat. Yaitu, umur beliau habis untuk mengabdi pada ilmu. Bahwasannya beliau ini memiliki cinta terhadap ilmu. Semasa mudanya beliau pergi mondok, mencari ilmu, masa tuanya beliau gunakan untuk mengajar santri An-Nur II. Kiai fathul berkomentar, “Kehidupan beliau itu indah.” Indah lantaran habis untuk melayani ilmu.

Al-Maghfurlah Kiai Damhuji termasuk seorang ulama. Sedangkan ulama sendiri adalah pewaris Nabi SAW. Sebab Nabi tidak mewariskan materi, tapi ilmu kepada umatnya. Oleh karenanya, orang yang berilmu dan mengamalkannya adalah orang yang berhak menjadi pewaris Nabi. “Al-ulama’ warotstul anbiya (Ulama adalah pewaris para nabi),” cap beliau.

Lebih lanjut, beliau memberitahukan tentang seberapa dekat para ulama dengan nabi. Hal ini masih dengan menggunakan pemahaman ulama adalah pewaris nabi. Sebab dalam keluarga pewaris itu adalah orang-orang yang paling dekat darahnya. Begitu juga dengan ulama. Mereka adalah pewaris nabi, berarti derajat mereka itu dekat dengan nabi. Muncullah kesimpulan bahwa derajat Al-Maghfurlah Kiai Damhuji dekat dengan nabi.

“Ilmu itu besar fadilahnya.” Ucap Kiai Fathul. Beliau lalu mengatakan, karena fadilah ilmu itu, KH. Damhuji pasti tergolong orang-orang mulia. Beliau mengajar kepada santri-santri An-Nur II, dan juga selalu belajar. Ilmu yang telah beliau ajarkan itu akan berguna para santri, dan kemanfaatannya semakin menyebar. Sehingga-menurut Kiai Fathul-beliau ini sudah memiliki saku untuk alam akhirat.

0341-833235 (kantor pondok)

+62 852-3644-6126 (humas pondok)

+62 813-3476-9069 (humas pondok khusus untuk kunjungan)

No. Rek. BNI a/n An Nur 2: 4321-1979-02

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II